Liputan6.com, Jakarta - Winata (10) duduk diam di teras rumah, bahunya sedikit jatuh ke depan. Jari telunjuk dan ibu jarinya sibuk memainkan ujung rambutnya yang ikal. Sesekali dia mendorong kacamata agar tetap bertengger di batang hidungnya.
Di hadapannya, sejumlah anak bergerak lincah. Ada yang berlari, melompat, dan tertawa lepas di halaman. Tak satu pun dari mereka mengenakan kacamata.
“Aku malu pakai kacamata mulu,” ucap Winata saat berbincang dengan Liputan6.com, pekan lalu.
Advertisement
Winata sering merasa berbeda. Ketika teman-temannya berlari dan bermain tanpa beban, dia justru menahan diri. Setiap gerakan penuh perhitungan, takut kacamatanya terjatuh, bengkok, atau pecah.
Mardiansah, sang ayah, masih ingat betul awal semuanya bermula. Putrinya mulai sulit melihat tulisan di papan tulis saat duduk di bangku kelas satu SD, di usia lima tahun. Gurunya memperhatikan Winata sering memicingkan mata, lalu memanggil orang tuanya.
“Dari jauh nggak bisa lihat, gurunya nanya kenapa? Dipanggil lah mamanya, lalu dicek,” tutur Mardiansah.
Hasil pemeriksaan membuat mereka kaget. Mata kiri Winata minus 10, sementara mata kanan silinder 1,5. Dokter menyaranan Winata segera menggunakan kacamata. Tanpa pikir panjang, Mardiansah langsung membelikan kacamata seharga Rp 2 juta. Sejak hari itu, Winata akrab dengan kacamata.
Masalah penglihatan yang dialami Winata bukan karena faktor keturunan. Bukan pula bawaan lahir. Penyebabnya justru kebiasaan bermain gadget berlebihan.
Dua tahun sebelum masuk sekolah, Winata sudah terbiasa bermain ponsel milik orang tuanya. Dia hanya berhenti saat waktu tidur tiba. Selebihnya, ponsel selalu tersedia di tangannya.
Kini Mardiansah menyesali kelalaiannya. Sejak tahu dampaknya, kebiasaan itu perlahan diubah. Waktu bermain gadget Winata yang kini duduk di bangku kelas 4 SD dibatasi, pengawasan diperketat.
“Sekarang sih sudah nggak kita izinin main HP lama-lama. Paling nonton YouTube sebentar, habis itu rehat,” katanya.
1 Dari 3 Anak Rabun Jauh
Winata bukan satu-satunya anak Indonesia yang mengalami masalah penglihatan. Temuan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), sebanyak 3,6 juta anak Indonesia mengalami kelainan refraksi, 3 dari 4 anak tidak mendapatkan koreksi kacamata.
Kelainan refraksi terjadi ketika mata gagal memfokuskan cahaya dengan sempurna ke retina. Akibatnya, objek yang dilihat tampak buram, baik dari jarak dekat maupun jarak jauh.
Ada empat jenis gangguan refraksi. Pertama, miopia atau rabun jauh. Kedua, astigmatisme yang dikenal sebagai silinder. Ketiga, hypermetropia atau rabun dekat. Keempat, presbyopia atau mata tua. Di Indonesia, dari keempat jenis itu, rabun jauh menjadi masalah yang paling banyak dialami anak-anak.
Namun rabun jauh bukan lagi sekadar persoalan lokal tapi global. Jurnal ilmiah British Journal of Ophthalmology mencatat, sekitar satu dari tiga anak dan remaja di dunia mengalami miopia. Jika tren ini terus berlanjut, jumlah kasus secara global diperkirakan akan melampaui 740 juta pada 2050.
Temuan tersebut berasal dari analisis besar yang mencakup 276 studi dengan melibatkan lebih dari 5,4 juta anak dan remaja, serta hampir dua juta kasus miopia, yang dikumpulkan dari 50 negara di Asia, Eropa, Afrika, Oseania, Amerika Utara, dan Amerika Latin.
Hasilnya menunjukkan lonjakan tajam prevalensi miopia dalam tiga dekade terakhir. Pada periode 1990–2000, angka miopia masih berada di kisaran 24 persen. Angka ini naik perlahan menjadi 25 persen pada 2001–2010, lalu melonjak signifikan menjadi 30 persen pada 2011–2019. Tren tersebut semakin menguat pada 2020–2023, ketika prevalensi miopia mencapai 36 persen, atau setara dengan satu dari tiga anak dan remaja.
Meski tingkat miopia pada remaja tercatat lebih tinggi dibandingkan anak-anak, para peneliti menemukan fakta penting lainnya. Kenaikan absolut kasus miopia pada anak-anak justru hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan remaja dalam rentang waktu 1990 hingga 2023.
Dari sisi jenis kelamin, anak perempuan dan perempuan muda diperkirakan akan lebih rentan mengalami miopia dibandingkan laki-laki. Proyeksi menunjukkan prevalensi miopia pada perempuan mencapai 33 persen pada 2030, meningkat menjadi 40 persen pada 2040, dan 42 persen pada 2050. Angka tersebut konsisten lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yang diperkirakan masing-masing berada di 31 persen, 35,5 persen, dan 37,5 persen pada periode yang sama.
Para peneliti juga menyoroti pandemi Covid-19 sebagai salah satu faktor yang diduga mempercepat lonjakan kasus miopia setelah 2020. Pembatasan aktivitas luar ruang dan meningkatnya waktu menatap layar selama pandemi disebut berpotensi memperburuk kesehatan mata anak dan remaja.
“Bukti yang mulai bermunculan menunjukkan adanya hubungan antara pandemi dan percepatan penurunan kualitas penglihatan pada kelompok usia muda,” tulis para peneliti dalam publikasi tersebut.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ketimpangan yang cukup tajam antarwilayah. Prevalensi gangguan penglihatan jarak jauh di negara berpendapatan rendah dan menengah diperkirakan empat kali lebih tinggi dibandingkan negara-negara berpendapatan tinggi.
Advertisement
Rabun Jauh Kini Datang Lebih Dini
Pola gangguan penglihatan pada anak-anak menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan. Ketua Perdami Cabang DKI Jakarta, Julie Dewi Barliana menyebut, mata minus kini muncul jauh lebih dini, bahkan sejak usia balita.
Jika sebelumnya rabun jauh lazim ditemukan pada anak-anak SD, kini kasus serupa sudah dijumpai pada anak usia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), bahkan ada yang baru berusia satu tahun. Penyebab utamanya, kata Julie, adalah paparan gadget dan layar elektronik yang berlebihan sejak usia sangat muda.
“Karena anak-anak sekarang sudah mulai terpapar gadget, televisi, atau layar apa pun sejak dini,” ujarnya.
Namun, gadget bukan satu-satunya biang keladi. Minimnya aktivitas di luar ruangan dan kurangnya paparan sinar matahari juga berperan besar mempercepat munculnya mata minus pada anak. Julie menegaskan, mengurangi gadget saja tidak cukup jika anak tetap menghabiskan waktu di dalam rumah.
“Kalau gadget dikurangi tapi anak tidak pernah keluar rumah, itu sama saja,” katanya.
Data skrining yang dilakukan Perdami memperkuat temuan tersebut. Sekitar 40,5 persen siswa SD di Jakarta tercatat mengalami rabun jauh. Angka ini melonjak tajam pada jenjang SMP hingga menembus lebih dari 50 persen.
Julie merujuk hasil skrining mata yang dilakukan Perdami sepanjang 2023 hingga 2025 di wilayah Jakarta dan Kepulauan Seribu. Dari 1.300 anak usia SMP yang diperiksa, 664 di antaranya dinyatakan membutuhkan kacamata.
“Dan mayoritas anak-anak itu mengalami mata minus atau rabun jauh,” tutup Julie.
Layar Menggerus Penglihatan
Fenomena meningkatnya jumlah anak dengan mata minus bukan sekadar data statistik. Di Optik Arsyad Sawangan, kawasan Depok, Jawa Barat, gejala itu tampak nyata dari hari ke hari.
Pemilik optik, Sayid Ahmad, merasakan langsung lonjakan tersebut. Setiap tahun, jumlah anak yang datang untuk memeriksakan mata terus bertambah.
“Memang naik terus,” ujarnya singkat.
Tak hanya menjalankan usaha optik, Sayid juga dikenal sebagai ahli optik keliling yang melayani pemeriksaan mata dari rumah ke rumah di wilayah Jabodetabek. Dari pengalamannya turun langsung ke lapangan, dia melihat satu pola yang berulang. Anak-anak usia sekolah dasar mendominasi pasien dengan keluhan penglihatan.
“Kebanyakan yang periksa itu anak SD. SMP juga ada, tapi paling sering memang SD,” katanya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah saat memeriksa seorang siswa SMP. Anak itu mengeluh tak mampu melihat objek jauh, bahkan kesulitan membedakan warna. Pemeriksaan menunjukkan kondisi yang mencengangkan. Mata kanan minus 20, mata kiri minus 19,5.
“Dia hampir buta,” ucap Sayid.
Sayid kemudian menelusuri penyebabnya. Faktor genetik memang ada. Namun, yang membuat kondisinya memburuk secara drastis bukan semata faktor keturunan, melainkan kebiasaan sehari-hari.
Sejak duduk di bangku SD, anak tersebut menghabiskan banyak waktu bermain gim di rental PlayStation. Berjam-jam menatap layar dalam jarak dekat, hari demi hari, membuat penglihatannya kian melemah.
“Dulu kan zamannya rental, komputer. Dia sering main gim di sana. Handphone ada, tapi jarang dipakai. Lebih senang ke rental,” tutur Sayid.
Dari sekian banyak anak yang ditanganinya, Sayid menyimpulkan satu hal penting. Mata minus pada anak kini jarang berdiri sendiri sebagai faktor genetik. Kebiasaan bermain gadget, laptop, dan komputer dalam durasi panjang tanpa jeda menjadi pemicu utama yang mempercepat kerusakan penglihatan.
Advertisement
Gangguan Penglihatan Berdampak pada Masalah Emosional
Ketua Departemen Informasi dan Edukasi Masyarakat Perdami, Kianti Raisa Darusman mengungkapkan gangguan penglihatan tak hanya membuat anak sulit membaca atau melihat benda. Tapi juga bisa memicu masalah emosional, perilaku, hingga perkembangan mental.
Dia menyebut, 70 persen anak dengan gangguan penglihatan menunjukkan indikasi masalah pada aspek emosional. Selain itu, 50 persen dari mereka juga berisiko mengalami gangguan perilaku, sementara 27 persen lainnya menunjukkan gejala hiperaktivitas.
"Pelajar yang memiliki indikasi bermasalah pada aspek gejala emosional berisiko 1,2 kali lebih besar mengalami penglihatan terganggu," jelas Kianti.
Temuan ini sejalan dengan laporan WHO. Anak usia dini dengan gangguan penglihatan berat dan permanen berisiko mengalami keterlambatan perkembangan motorik, bahasa, emosional, sosial, hingga kognitif, dampak yang dapat membekas sepanjang hidup. Pada usia sekolah, gangguan penglihatan juga kerap berujung pada prestasi akademik yang lebih rendah.
Dampaknya tak berhenti di masa kanak-kanak. Pada orang dewasa, gangguan penglihatan dapat menurunkan kualitas hidup, membatasi peluang kerja, serta meningkatkan risiko depresi dan kecemasan.
Sementara pada lansia, kondisi ini bisa memicu isolasi sosial, kesulitan berjalan, meningkatnya risiko jatuh dan patah tulang, hingga kemungkinan lebih cepat masuk ke panti jompo atau fasilitas perawatan.
Bisa Dicegah dan Disembuhkan
Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, meski terlihat mengkhawatirkan, mata minus sebenarnya bisa dicegah sejak dini.
Kuncinya terletak pada pola hidup sehat dan kebiasaan visual yang benar. Salah satunya dengan mencukupi asupan nutrisi, terutama sayuran yang kaya vitamin A, C, E, serta Omega 3, yang berperan penting menjaga kesehatan mata.
Selain itu, kebiasaan membaca dan menatap layar juga perlu diperhatikan. Anak-anak dianjurkan tidak membaca atau menggunakan gawai terlalu dekat, apalagi sambil tiduran. Mata juga perlu diberi waktu istirahat secara berkala.
“Istirahatkan mata setiap 20 menit. Alihkan pandangan untuk melihat objek jauh sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik, serta kurangi penggunaan gadget yang tidak perlu,” ujar Nadia.
Nadia menambahkan, bagi mereka yang sudah terlanjur mengalami mata minus, penglihatan tetap dapat dikoreksi. Saat ini tersedia prosedur operasi Lasik (Laser-Assisted in Situ Keratomileusis), yakni tindakan bedah refraktif yang membentuk ulang kornea menggunakan laser agar cahaya dapat fokus tepat di retina.
“Setelah dikoreksi, seseorang tidak perlu lagi menggunakan kacamata atau lensa kontak,” kata Nadia.
Namun demikian, Nadia menekankan bahwa pencegahan tetap jauh lebih baik dibandingkan tindakan medis, terutama bagi anak-anak yang penglihatannya masih terus berkembang.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7676875/original/060602200_1780471869-Tugas__23_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1791827/original/015659300_1512525714-10321102_10205492268656460_4374129301795033883_o.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483882/original/074480700_1769405806-SBY_sakit.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4200764/original/074334300_1666511721-myopi_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110961/original/003017800_1783047335-sp3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111052/original/049202100_1783054835-063_2284418867.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8634909/original/092138400_1782635479-000_B7AH3QR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288916/original/039645400_1783343653-AP26187200791478.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5245840/original/052909900_1749414785-cristiano_ronaldo_gol_portugal_spanyol_UNL_090625_ap_matthias_schrader.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288081/original/061472300_1783298244-nor8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9238165/original/069215800_1783129384-mes9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782165/original/058199200_1782878254-carlo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288052/original/043334700_1783289642-000_B9BW8VG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288258/original/062355500_1783308425-eng1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288078/original/014194100_1783298244-nor5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9272657/original/014308200_1783171596-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110993/original/086013100_1783049994-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876292/original/002461400_1719462328-fotor-ai-20240627112338.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9173581/original/089009000_1783091944-WhatsApp_Image_2026-07-03_at_22.00.55.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9129383/original/067041100_1783072038-WhatsApp_Image_2026-07-03_at_16.29.24__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9138574/original/057462700_1783075991-WhatsApp_Image_2026-07-03_at_16.29.24.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9127421/original/083898700_1783071242-PHOTO-2026-07-03-15-53-03.jpg)