Kekuatan AI: Menyelamatkan Lingkungan atau Membahayakannya?

AI menyimpan peluang untuk membantu lingkungan, tetapi juga menimbulkan tekanan pada energi, air, dan sumber daya.

Diterbitkan 13 Januari 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI)  sering dipandang sebagai teknologi masa depan yang mampu membantu memecahkan berbagai persoalan keberlanjutan.

Namun di balik potensi tersebut, jejak lingkungan dari teknologi AI justru menjadi perhatian serius saat ini. 

Dampak lingkungan dari AI semakin mendapatkan perhatian serius. Masyarakat perlu memahami bagaimana teknologi ini memengaruhi energi, air, dan limbah agar penggunaannya lebih bijak.

Direktur Keberlanjutan di Southern New Hampshire University (SNHU) Mike Weinstein meneliti hubungan antara teknologi dan lingkungan.

Menurutnya, interaksi antara teknologi informasi dan alam merupakan isu kompleks yang perlu dipahami secara menyeluruh.

"Saya telah lama tertarik pada interaksi antara lingkungan alam kita dan TI, baik dalam bagaimana teknologi berdampak pada lingkungan, dan bagaimana kita menggunakan teknologi untuk belajar dan melindungi lingkungan," ujar Weinstein, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Southern New Hampshire University www.snhu.edu, Selasa (13/1/2026).

Ledakan penggunaan AI memengaruhi bumi dan sumber dayanya, namun teknologi juga memiliki potensi untuk membawa perubahan positif bagi lingkungan jika digunakan secara bijak. 

Jejak Karbon AI Mengancam Lingkungan

Menurut Weinstein, AI meninggalkan jejak karbon yang besar dan kompleks. Banyak energi yang dikonsumsi oleh pusat data AI, dan aktivitas ini menghasilkan gas rumah kaca. 

"Pusat data AI saat ini terletak di daerah dengan jaringan yang sebagian besar ditenagai oleh bahan bakar fosil, yang berarti pembangkit listrik tenaga batu bara dan gas. Ini adalah sumber bahan bakar yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global dengan melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer saat dibakar," terang dia.

Gas rumah kaca  meningkatkan suhu Bumi dan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, dan memicu cuaca ekstrem. Emisi ini juga mencemari udara, yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat, seperti asma dan penyakit jantung. 

Emisi karbon AI hanya dari fase penggunaan saja melewatkan gambaran yang lebih luas, karena siklus hidup server pun menghasilkan emisi signifikan. 

"Jika semua pasokan listrik kita bersih dan terbarukan, seperti tenaga surya atau angin, kita dapat melihat dampak lain dari AI dalam konteks yang berbeda. Tapi sayangnya, kita sebagai planet sangat tertinggal dalam transisi ke jaringan energi non-karbon yang bersih," papar Weinstein.

Tekanan Air Meningkat Seiring Pertumbuhan AI

Penggunaan air menjadi sorotan penting berkembangnya AI. Pusat data AI memicu kekhawatiran terkait penipisan air di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Great Lakes, menurut laporan Futurism, situs berita sains dan teknologi.

"Pusat data menggunakan banyak air untuk menyerap panas yang dihasilkan oleh komputasi. Ini berarti sejumlah besar air tawar dialihkan dari kebutuhan lain, seperti air minum," kata Weinstein.

Bloomberg melaporkan lebih dari separuh pusat data sejak 2022 berada di wilayah dengan pasokan air terbatas. Pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang digunakan juga menambah tekanan terhadap sumber air.

"Di dunia di mana kekurangan air tawar akan terus meningkat, kita perlu menemukan cara yang lebih kreatif untuk memberi daya dan mendinginkan infrastruktur teknologi secara global," terang Weinstein.

Dampak Lingkungan Lainnya

Perkembangan AI berdampak langsung pada lingkungan. Teknologi ini mendorong peningkatan penambangan logam, seperti tembaga, yang permintaannya diperkirakan hampir dua kali lipat, padahal logam tersebut sudah tergolong langka.

"Perangkat keras untuk menjalankan AI terbuat dari logam yang ditambang dan dimurnikan, serta plastik yang dibuat dari minyak mentah," ucap Weinstein.

Proses ini tidak hanya menekan sumber daya alam, tetapi juga menimbulkan polusi dan emisi dari kegiatan ekstraksi dan pemurnian.

Pusat data AI juga menghasilkan limbah elektronik yang berpotensi mengandung zat berbahaya, seperti merkuri dan logam beracun.

"Selain itu, risiko kebakaran meningkat seiring bertambahnya penggunaan komputer dan pusat data, menambah tantangan dalam menjaga keselamatan dan keberlanjutan teknologi," terang Weinstein.

Menggunakan AI Secara Bertanggung Jawab

Penggunaan AI hampir selalu berdampak pada lingkungan, sehingga perlu diterapkan secara bijak. Individu dan organisasi mempertimbangkan penggunaannya dengan lebih hati-hati untuk meminimalkan bahaya. 

"Hal termudah yang harus dilakukan adalah bertanya pada diri sendiri untuk apa Anda menggunakan alat AI pada waktu tertentu. Apakah itu perlu, atau hanya bijaksana? Apakah pekerjaan yang Anda hasilkan berharga atau berguna, sama seperti teknologi konsumsi energi apa pun, seperti mobil atau AC atau ponsel, kita perlu memperhatikan bagaimana kita menggunakannya,” terangnya. 

Pandangan tersebut disampaikan oleh Wakil Presiden Kecerdasan Buatan di SNHU Dr. Robert MacAuslan yang menekankan pentingnya penggunaan AI secara bijak dan bertanggung jawab. 

"Apa yang saya ingin orang sadari ketika mereka menggunakan alat ini adalah bahwa ini tidak bebas dari biaya lingkungan," ucap MacAuslan.

Meskipun begitu, aktivitas sehari-hari seperti panggilan Zoom, streaming di Netflix, dan penerbangan juga berdampak pada lingkungan, pertumbuhan AI berlangsung jauh lebih cepat dan memiliki konsekuensi yang lebih besar.

MacAuslan menekankan organisasi harus menerapkan tata kelola etis dalam penggunaan AI, sekaligus mendorong individu memastikan teknologi ini memberi manfaat bagi masyarakat.

Potensi AI untuk Lingkungan

Meski demikian, Weinstein tetap optimistis terhadap potensi AI dalam membantu mengatasi berbagai masalah lingkungan. 

Ia menilai kemajuan komputasi dapat membuka jalan bagi solusi baru, seperti pembangkit listrik dan penyimpanan energi yang lebih efisien, hingga desain dan transportasi produk yang lebih ramah lingkungan. 

“Tentu saja, teknologi harus digunakan untuk tujuan tersebut,” ujarnya.

AI hanya akan memberikan dampak positif jika digunakan secara bijak dan etis oleh individu maupun organisasi.

 Pembelajaran di bidang lingkungan dan AI, termasuk kebijakan dan tata kelola teknologi, penting untuk membekali generasi mendatang agar mampu menerapkan AI secara berkelanjutan.

“Harapan terbesar saya adalah teknologi ini benar-benar dapat meningkatkan kehidupan, tidak hanya untuk bisnis, tetapi juga untuk menata ulang ekonomi dan masyarakat yang lebih berkelanjutan,” tambahnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6