Kemenhut Manfaatkan Kayu Hanyutan Banjir Aceh Utara dan Sumut untuk Bangun Huntara

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berupaya melakukan pemulihan pascabanjir di Aceh Utara dan Sumut dengan membangun huntara dan normalisasi sungai Garoga.

Diterbitkan 13 Januari 2026, 15:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengolah kayu hanyutan akibat banjir bandang di wilayah Aceh Utara dan Sumatera Utara (Sumut) sebagai bagian dari strategi pemulihan cepat lingkungan dan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak.

Sebanyak 69 anggota Kemenhut dikerahkan dengan dukungan 38 unit alat berat, terdiri atas 30 unit milik Kemenhut (14 ekskavator capit, 11 ekskavator bucket, 5 dozer), 7 unit TNI, 1 ekskavator, dan 3 dump truck dari PUPR dan Kemenhut di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. 

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan memfokuskan kegiatan pada pembersihan dan pemilahan kayu untuk dimanfaatkan sebagai material pembangunan.

"Kayu hanyutan ini menjadi sumber material utama untuk mendukung pembangunan hunian sementara secara cepat dan terkontrol," ujar Subhan, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Republik Indonesia www.kehutanan.go.id, Selasa (13/1/2026) .

Ia juga mengatakan, hingga 11 Januari 2026, tim Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) bersama Dinas LHK Aceh telah mengukur 938 batang kayu hanyutan dengan total volume mencapai 1.506,08 m3.

Di sisi lain, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani menjelaskan, penanganan kayu hanyutan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol saat ini sudah memasuki tahap penatausahaan dan pemanfaatan.

"Fokus kami saat ini memastikan kayu hanyutan yang sudah diolah benar-benar dimanfaatkan untuk kebutuhan hunian warga dan tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan," ucap Novita.

Hingga 11 Januari 2026, kayu olahan di wilayah Garoga mencapai 1.376 keping dengan total volume 19,5755 m3. Kayu olahan tersebut diperuntukkan bagi pembangunan hunian sementara di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru. 

Dari keseluruhan olahan, sebanyak 752 keping atau 9,9373 m3 telah diangkut ke lokasi huntara.

Jumlah Huntara yang Dihasilkan

Olahan kayu tersebut telah mendukung pembangunan 13 unit huntara, dengan 10 unit masih dalam proses, dan 3 unit telah dihuni warga Desa Geudumbak. 

Selain melakukan pembangunan, 50 anggota Kemenhut juga membersihkan fasilitas pemerintahan desa, termasuk Kantor Keuchik Leubok Mane sebanyak 4 ruangan.

Menurut Novita, huntara dirancang untuk menjamin aspek keamanan dan kelayakan huni bagi warga terdampak banjir.

Kemenhut memastikan seluruh proses pembangunan dilakukan secara terkontrol dan dalam pengawasan lintas instansi. Sehingga pemanfaatan kayu bukan hanya sekadar mempercepat penyediaan hunian, tapi juga mencegah penyalahagunaan material di lapangan.  

Setiap unit huntara dibangun dengan memperhatikan standar struktur dasar, ventilasi, serta ketahanan material agar dapat digunakan selama masa pemulihan berlangsung.

Adanya huntara ini juga membantu warga untuk melanjutkan kehidupan yang lebih normal lagi pascabencana.

"Huntara ini dapat menjadi solusi transisi sebelum pembangunan permanen dilakukan oleh pemerintah daerah," kata Novita.

Upaya Normalisasi Sungai Garoga

Selain pemanfaatan kayu, upaya pemulihan lingkungan juga dilakukan melalui normalisasi Sungai Garoga, Sumut. 

"Hingga saat ini, pekerjaan normalisasi dan pembersihan sumbatan kayu di bagian hulu sungai telah mencapai ±1,329 kilometer atau sekitar 25,07 persen dari total target 5,5 kilometer, dengan mengoperasikan 7 unit alat berat," terang Novita.

Kegiatan penanganan pascabencana ini menjadi bagian dari upaya terpadu Kemenhut bersama pemerintah daerah dan mitra terkait untuk memastikan kayu hanyutan sebagai barang negara yang dapat digunakan secara legal, aman, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat terdampak.

Pembangunan huntara ini menjadi prioritas bagi keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat dan belum memungkinkan untuk direhabilitasi dalam waktu dekat.

Setiap unit huntara dirancang dengan material kayu yang telah melalui tahap pemilahan, agar bangunan menjadi aman, layak huni, dan dapat bertahan hingga proses pemulihan permanen selesai.

Novita juga berharap, kehadiran huntara ini dapat memberikan manfaat dan mempercepat pemulihan sosial bagi warga terdampak banjir.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6