Liputan6.com, Jakarta - Tanggal 8 Januari terdapat berbagai peringatan bersejarah. Hari ini diperingati sebagai Hari Rotasi Bumi.
Perayaan hari ini ditujukan untuk memperingati penemuan bahwa bumi berputar pada porosnya setiap 24 jam. Rotasi bumi sendiri ditemukan oleh seorang fisikawan asal Prancis bernama Leon Foucault.Â
Hari ini juga diperingati sebagai Hari Mengetik Sedunia. Peringatan hari ini ditujukan untuk menyadarkan masyarakat akan betapa pentingnya komunikasi dan keterampilan mengetik.
Advertisement
Hari ini juga menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah perkembangan mesin tik sebagai awal mula alat komunikasi antarindividu.
Selain itu, hari ini turut diperingati sebagai Hari Perang Melawan Kemiskinan. Peringatan hari ini dideklarasikan oleh Presiden Lyndon Johnson.
Deklarasi tersebut disampaikan ketika pidato kepresidenannya. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki nasib orang Amerika yang pada saat itu banyak mengalami kesulitan karena faktor kemiskinan dan ras.
Kemudian, hari ini juga menjadi hari yang memilukan untuk warga Ukraina. Tepat enam tahun yang lalu pesawat Jet Ukraina Boeing 737 terjatuh di Iran dan menewaskan seluruh penumpang yang berada di dalamnya.
Pesawat ini mengalami kebakaran pada salah satu mesinnya yang menyebabkan pilot pesawat kehilangan kendali.Â
Hari ini juga menjadi peristiwa yang menegangkan di Indonesia, khususnya di wilayah Papua.
Pada hari ini telah terjadi penyanderaan terhadap sejumlah peneliti yang tergabung dalam ekspedisi Lorentz’95 oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) kelompok Kelly Kwalik di desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Papua. Peristiwa ini pun kemudian dikenal sebagai Operasi Mapenduma.
Tak kalah menarik, hari ini juga menjadi hari yang memalukan dalam sejarah perjuangan daerah di Indonesia. Salah satu pahlawan nasional Indonesia, yakni Pangeran DIponegoro menghembuskan nafas terakhirnya pada hari ini.
Pada akhir hayatnya, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado lalu ke Makassar dan harus mendapatkan kondisi yang sulit akibat penyiksaan.
Berikut sederet peringatan yang jatuh pada 8 Januari dihimpun oleh Tim News Liputan6.com dari berbagai sumber:
Hari Rotasi Bumi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/630534/original/rotasi-bumi-140128c.jpg)
Dilansir Liputan6.com dari National Day Calendar, hari ini diperingati sebagai Hari Rotasi Bumi. Hari Rotasi Bumi jatuh pada tanggal 8 Januari untuk memperingati jasa Leon Foucault yang berhasil membuktikan bahwa bumi berputar pada porosnya.
Rotasi bumi merupakan garis imajiner yang ditarik lurus melalui bumi. Garis sumbu tersebut menghubungkan Kutub Utara dan Kutub Selatan. Pada sumbu yang hampir vertikal ini, bumi berputar selama 24 jam.
Hal inilah yang menyebabkan ada 24 jam dalam satu hari dan 365 hari sebagai waktu bumi untuk mengorbit matahari. Peristiwa ini juga yang menyebabkan perhitungan waktu 365 dalam satu tahun di bumi.Â
Selain itu, rotasi bumi turut berpengaruh terhadap perubahan musim. Bagian bumi yang terpapar sinar matahari akibat perputaran bumi akan mengalami musim panas. Sementara di belahan bumi lain yang tidak terpapar sinar matahari akan mengalami musim dingin.Â
Rotasi bumi sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia di bumi. Oleh sebab itu, masyarakat dunia merayakan hari ini sebagai Hari Rotasi Bumi Sedunia. Masyarakat dapat memperingati hari ini dengan berbagai hal yang bermanfaat.Â
Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan belajar memahami rotasi bumi dan pengaruhnya terhadap bumi, seperti pengaruh rotasi bumi terhadap waktu, cuaca, gravitasi, dan astronomi.Â
Untuk memahami lebih lanjut mengenai rotasi bumi, masyarakat dapat mengunjungi museum sains terdekat yang memiliki informasi lengkap terkait sistem tata surya.
Sebagai alternatif, masyarakat juga dapat menyaksikan film-film dokumenter yang menggambarkan proses rotasi bumi.Â
Advertisement
Hari Mengetik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4107042/original/033575100_1659313701-pexels-ron-lach-7969729.jpg)
Dilansir Liputan6.com dari National Today, mesin tik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1874. Hal inilah yang menjadi cikal bakal kegiatan mengetik di dunia.
Sebelumnya, masyarakat dunia harus menulis secara manual untuk keperluan surat-menyurat dan berbagai keperluan administrasi lainnya.Â
Kemudian, sekitar pertengahan tahun 1880-an mesin tik mulai digunakan untuk keperluan kantor. Sejak saat itu, mengetik menjadi suatu keterampilan yang penting untuk dimiliki setiap orang. Semakin banyak pekerjaan yang membutuhkan mesin tik dan kemampuan untuk mengetik.
Metode komunikasi masyarakat dunia pun semakin bervariasi. Masyarakat mulai belajar untuk menyusun dokumen tertulis dan informatif dengan cara mengetik. Keterampilan mengetik juga menciptakan banyak lapangan kerja baru.Â
Seiring berkembangnya waktu, keterampilan mengetik bukan lagi sebagai kebutuhan kerja tapi juga dijadikan sebagai sebuah ajang kompetisi.
Salah satu contohnya adalah kompetisi mengetik cepat yang diselenggarakan di Malaysia pada tahun 2011. Kompetisi inilah yang mengukuhkan perayaan Hari Mengetik Sedunia pada tanggal 8 Januari.Â
Kini, kegiatan mengetik tak perlu lagi dilakukan dengan menggunakan mesin tik. Berbagai alat perangkat elektronik semakin memudahkan manusia untuk melakukan pekerjaan yang perlu keterampilan mengetik kapan saja dan dimana saja.Â
Hari Perang terhadap Kemiskinan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1769671/original/013714500_1510646654-37_Lyndon_Johnson_3x4.jpg)
Berdasarkan catatan Liputan6.com, pada 8 Januari 1964, Presiden Lyndon Johnson mengumumkan bahwa pemerintahannya akan melawan kemiskinan (war on poverty).
Deklarasi itu diungkap saat pidato nasional tahunan presiden, State of the Union (SOTU). Pada pidatonya, Presiden Lyndon Johnson turut menyorot nasib orang Amerika yang susah karena faktor kemiskinan dan ras.
"Banyak rakyat Amerika yang hidup di pinggiran harapan, sebagian karena kemiskinan, dan sebagian karena warna kulit mereka, dan banyak lagi karena keduanya. Tugas kita adalah menggantikan rasa putus asa mereka dengan peluang," ujar Presiden Johnson dalam pidatonya, dikutip dari The American Presidency Project di situs UC Santa Barbara.
"Administrasi hari ini, di sini dan sekarang, mendeklarasikan perang tanpa syarat kepada kemiskinan di Amerika," ucap Presiden Johnson.
Strategi yang ia ambil adalah sinergi antara pusat dan daerah. Ia berkata kemiskinan tak akan bisa diselesaikan dari ibu kota saja, tetapi segala tempat.
Fokus utama dari Presiden Johnson adalah adanya sekolah, layanan kesehatan, rumah, pelatihan, dan kesempatan kerja yang lebih baik untuk menolong masyarakat, terutama yang masih muda.
"Seringnya ketiadaan kerja atau uang bukan bukanlah penyebab kemiskinan, tetapi gejalanya. Penyebabnya mungkin lebih dalam lagi yakni kegagalan kita untuk memberikan rekan-rekan kita sebuah kesempatan yang adil untuk mengembangkan kapasitas mereka, karena kurangnya pendidikan dan pelatihan, kurangnya layanan kesehatan dan perumahan, kurangnya komunitas yang baik untuk hidup dan membesarkan anak-anak mereka," ucap Presiden Johnson.
Advertisement
Tragedi Jatuhnya Pesawat Jet Ukraina
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5083005/original/061421800_1736236267-download__5_.jpeg)
Berdasarkan catatan Liputan6.com, tragedi mengerikan pernah terjadi dunia penerbangan lima tahun yang lalu. Pada 8 Januari 2020, pesawat Jet Ukraina Boeing 737 jatuh di dekat Bandara Imam Khomeini, Teheran, Iran, menewaskan seluruhnya, 176 penumpang dan kru.
Berdasarkan Laporan dari Al Jazeera, pesawat jatuh tersebut adalah Boeing 737-800 yang terbang dengan nomor penerbangan UIA 752 ini mengalami kecelakaan tak lama setelah lepas landas pada pukul 06:12 waktu setempat.
Pesawat yang awalnya dijadwalkan terbang pukul 05:15 ini mengalami kebakaran pada salah satu mesinnya, yang menyebabkan pilot kehilangan kendali.
Menurut Qassem Biniaz, juru bicara Kementerian Jalan Raya dan Transportasi Iran, kebakaran pada mesin pesawat menjadi pemicu utama jatuhnya pesawat tersebut.
"Ini tampaknya masalah mesin, kemungkinan besar terjadi ledakan di dalam pesawat," kata Geoffrey Thomas, editor dari airlineratings.com, yang merujuk pada dugaan masalah teknis sebagai penyebab utama kecelakaan tersebut.
Gambar-gambar yang beredar di media sosial menunjukkan lokasi kecelakaan yang penuh dengan puing-puing pesawat yang berserakan di tanah.
Jurnalis dari Associated Press yang tiba di lokasi kejadian melaporkan bahwa mereka menemukan potongan tubuh manusia yang tergeletak di antara reruntuhan pesawat.
Tim penyelamat yang mengenakan masker berupaya keras untuk mencari korban, sementara suara helikopter terdengar berputar-putar di atas lokasi.
Hossein Ahmadzadeh, anggota Dinas Pemadam Kebakaran Robat Karim, memberikan laporan kepada wartawan, mengatakan bahwa pesawat tersebut beruntung tidak jatuh di area pemukiman, meskipun puing-puing pesawat tersebar luas ke berbagai kebun dan vila di sekitarnya.
Penyanderaan Dalam Operasi Mapenduma
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1205297/original/063770300_1460799591-20160416-HUT-Kopassus-ke-64-Jakarta-HA5.jpg)
Berdasarkan catatan Liputan6.com, prajurit Kopassus pernah mendapat perintah untuk membebaskan sandera dalam Operasi Mapenduma pada tahun 1996. Operasi pembebasan sandera Mapenduma adalah operasi militer untuk membebaskan peneliti dari Ekspedisi Lorentz '95 yang disandera Organisasi Papua Merdeka.
Personel yang terlibat dalam operasi ini sebagian besar berasal dari Kopassus dan dipimpin oleh Komandan Kopassus ketika itu Brigadir Jenderal TNI Prabowo Subianto. Selain itu, operasi juga dirancang dengan melibatkan kesatuan Marinir, Batalion 330 Kostrad, dan Batalion Organik Kodam VIII Trikora sebagai pasukan penyekat.
Pada 8 Januari 1996 didapat kabar dari Mission Aviation Fellowship cabang Wamena kepada Kodim Jayawijaya, Irian Jaya, sejumlah peneliti yang tergabung dalam Ekspedisi Lorentz '95 disandera oleh OPM kelompok Kelly Kwalik di desa Mapenduma, Kecamatan Tiom, Kabupaten Jayawijaya (kini Provinsi Papua).
Sejumlah proses negosiasi dilakukan dan melibatkan banyak pihak, seperti ABRI (kini TNI), Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan Palang Merah Internasional (ICRC). Namun, semuanya tak membuahkan hasil.
Pada 2 Maret 1996, Kelly Kwalik menyatakan tidak akan melepaskan sandera sebelum mendapat pengakuan pemerintah RI terhadap keberadaan negara Republik Papua Barat. Namun keinginan mereka tak bisa dipenuhi dan proses negosiasi terus diupayakan.
Pada 9 Mei 1996 pembebasan 12 sandera (lima sandera peneliti biologi Indonesia dan tujuh peneliti asing dari Inggris, Belanda, dan Jerman) buntu. Upaya pembebasan secara damai selama hampir empat bulan gagal total. Pesta babi yang diminta pentolan gerombolan, Kelly Kwalik, sebagai syarat pembebasan sehari sebelumnya, diingkari Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Segera setelah ada izin dari otoritas tertinggi di Jakarta dan persetujuan wakil negara-negara yang terlibat dalam negosiasi, delapan helikopter jenis Bell 412 dan Bolco 105 milik Dinas Penerbang AD bersegera mengangkut tim pemukul dari Kopassus menuju sasaran. Tujuannya Mapenduma, lokasi para sandera disekap pemberontak.
Advertisement
Hari Wafatnya Pangeran Diponegoro
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4927406/original/033715000_1724580438-DIPONEGRO.jpg)
Berdasarkan catatan Liputan6.com, pangeran Diponegoro lahir dengan nama Raden Mas Mustahar, Pangeran Diponegoro merupakan seorang pahlawan nasional yang terus dikenang dalam buku-buku sejarah. Ia pernah memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa pada 1825 hingga 1830.
Mengutip dari berbagai sumber, nama Raden Mas Mustahar kemudian berganti menjadi Bendoro Raden Mas Ontowiryo. Ketika ayahnya resmi naik takhta pada 1812 menjadi Sultan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwono III, Raden Mas Ontowiryo dinobatkan sebagai pangeran.
Ia kemudian menyandang nama Pangeran Harya Dipanegara. Sejak saat itu, Raden Mas Ontowiryo dipanggil Pangeran Diponegoro.
Pangeran Diponegoro merupakan putra Raden Mas Surojo atau Sultan Hamengkubuwono III dan seorang selir bernama Raden Ayu Mangkarawati, yang berasal dari Pacitan. Ia lahir pada 11 November 1785.
Pangeran Diponegoro dibesarkan dalam lingkungan istana yang sarat dengan nilai-nilai budaya Jawa keraton. Ia juga memiliki latar belakang pendidikan agama, budaya, serta kemampuan seni beladiri yang mumpuni.
Meski merupakan anak sultan, ia tidak ingin hidup dalam kemewahan keluarga kerajaan. Konon, Pangeran Diponegoro merupakan pangeran Kesultanan Yogyakarta dan kelak akan menjadi raja.
Namun, hal itu ditolak secara halus. Ia merasa dirinya tidak pantas karena merupakan anak selir.
Pangeran Diponegoro dijuluki sebagai Ksatria Piningit atau Ksatria Tersembunyi. Julukan yang melambangkan optimisme itu diberikan kepada Pangeran Diponegoro karena perannya dalam memimpin perlawanan rakyat terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang terjadi antara 1825 sampai 1830, Pangeran Diponegoro memiliki peran sangat penting.
Perang yang dikenal sebagai perang terbesar selama masa pendudukan Belanda di Indonesia ini berawal dari kekesalan Pangeran Diponegoro dengan Belanda yang ikut campur urusan keraton.
Akibatnya, para petani menderita karena penyalahgunaan kebijakan penyewaan tanah oleh warga Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman. Dari sanalah Diponegoro bertekad melakukan perlawanan.
Pangeran Diponegoro dikejar oleh pasukan Jawa-Belanda di daerah Tegalrejo atas utusan dari keraton. Ia dan pasukannya berhasil melarikan diri.
Selanjutnya, ia bergerak ke barat sampai ke Desa Dekso, kabupaten Kulon Progo. Menuju ke selatan, ia pun tiba di Goa Selarong dan mendapat banyak dukungan dari masyarakat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5408108/original/041662800_1762767204-Infografis_Pahlawan_Nasional_CMS.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782357/original/057831900_1782883984-Cek_fakta-_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782154/original/031089800_1782878025-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-01T104708.110.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493673/original/005478800_1770263148-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-05T103223.078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782149/original/002861400_1782877955-Cek_fakta_-_SIM_seumur_hidup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4699265/original/081589400_1703666627-top-view-calendar-modern-concept.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389971/original/012637700_1782270142-AP26174800285397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556659/original/033473100_1776274063-000_A6D679V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262583/original/036434300_1781838197-000_B7LE9YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776146/original/063906300_1782856231-Sweden_s_Lucas_Bergvall__7__and_Yasin_Ayari__18__defend_France_s_Ousmane_Dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776154/original/033634700_1782859536-France_s_Kylian_Mbappe__10__celebrates_scoring_their_third_goal_with_Michael_Olise.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545332/original/045931400_1775182460-1fa2ab9d-1298-431e-a800-726df6e54877.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5544314/original/006170800_1775099008-Irak_lolos_piala_dunia-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545527/original/023791400_1775197312-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5191298/original/037828900_1744950097-20250418-Prosesi_Jalan_Salib-ANG_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457952/original/085391400_1767067413-unnamed.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5456466/original/009787700_1766890648-bc2b5539-f92b-4f92-af8a-a6f8aa63f2eb.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5468776/original/038038200_1768015024-isra_miraj7.jpg)