Mister Polisi Pelipur Lara Korban Bencana Sibolga

Ada wajah-wajah kemanusiaan yang tak tercatat dalam statistik. Seperti Aipda Hadi dan Brigpol Suheri, dua polisi yang menenangkan anak-anak yang menangis, menggali tanah untuk mengevakuasi korban, hingga mencari bantuan tanpa cukup makan dan istirahat.

Diterbitkan 30 Desember 2025, 17:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di lorong sempit SMP Negeri Sibolga, Sumatera Utara, senyum Aiptu Hadi Sitanggang merekah hangat. Dia berdiri tegak di antara tembok-tembok sekolah yang kini jadi tempat pengungsian. Seragam dinasnya masih melekat di tubuh, dengan emblem Bhabinkamtibmas melingkar di lengan kiri.

Di hadapannya, anak-anak dari balita hingga remaja berbaris rapi. Tangan-tangan mungil mereka terulur, menanti selimut hangat yang dibagikan Hadi. Selembar kain yang jadi andalan untuk meredam dinginnya malam dan getirnya bencana. 

Setelah selimut diberikan, anak-anak mencium tangan Hadi dengan mata berbinar dan senyum tulus. Beberapa anak mengalungkan selimut tipis itu ke leher sambil melompat kegirangan. Ada pula yang memeluk erat, menutup kepala mungilnya seakan tak ingin melepaskan kehangatan yang baru saja dia temukan di tengah dinginnya pengungsian. 

"Mereka butuh selimut," kata Hadi pelan kepada Liputan6.com, Jumat (26/12/2025).

Hadi merupakan anggota Bhabinkamtibmas Huta Tonga-Tonga Sibolga. Sudah sebulan dia tak bisa tidur nyenyak. Sejak tanah longsor menimbun sejumlah titik di Sibolga.

Hadi ingat betul pertama kali longsor terjadi. Kenangan paling membekas itu datang pagi-pagi, 25 November 2025. Kala itu, Hadi tengah sibuk mengurus pohon tumbang yang menutup akses jalan. Lalu laporan masuk. Dua warga tertimbun longsor di kawasan Tangga Seratus.

Tanpa ragu, dia tancap gas. Saat tiba, tanah masih bergerak, menggulung apa saja yang dilewatinya. Di depan matanya, seorang balita ditemukan terluka parah di bagian kepala. Hati Hadi terenyuh, tapi waktu tak memberi ruang untuk larut.

Dia segera mengatur lalu lintas, mencoba mencegah korban bertambah. Namun, alam kembali mengamuk. Longsor susulan datang tiba-tiba. 

“Di situ saya panik, lari pontang-panting,” kenangnya.

Dalam satu jam, tanah longsor menjalar ke berbagai titik lain di Sibolga. Hadi terus berpindah, menarik korban dari reruntuhan, memandu warga menjauh dari bahaya.

Namun di tengah bencana yang datang bertubi-tubi, kabar mengejutkan menyebar. Namanya masuk dalam daftar korban tewas tertimpa longsor. Desas-desus itu menggetarkan hati rekan dan keluarganya, sementara dia sendiri masih berjibaku di lapangan, menyelamatkan nyawa demi nyawa.

'Mister Polisi' Pelipur Lara Anak di Pengungsian

Di tengah duka, Hadi hadir sebagai pelipur lara. Bagi anak-anak korban bencana di pengungsian. Di tengah isak tangis kehilangan yang menyelimuti mereka, sosok Hadi justru menjadi sumber rasa aman dan kehangatan. 

Dengan senyum tulus, dia menyapa satu per satu, menggendong balita yang menangis, bahkan duduk bersila sambil bercerita agar anak-anak itu sejenak melupakan trauma yang membekas dalam ingatan mereka.

Mendekatkan diri pada anak-anak bukan hal sulit bagi Hadi. Dia adalah pendiri “Kelas Anak Indonesia”, sebuah ruang belajar komputer gratis untuk anak-anak kurang mampu di Sibolga. Dari sinilah dia terbiasa merangkul dan mengajar. Maka, tak heran jika anak-anak di lokasi pengungsian begitu akrab dengannya. 

“Anak-anak panggil saya mister polisi, karena saya mengajar bahasa Inggris,” ujarnya sambil tertawa.

Satu momen yang tak terlupakan bagi Hadi adalah ketika dia membagikan sepatu, buku, dan tas kepada anak-anak di pengungsian. Kebahagiaan mereka begitu tulus, melompat kegirangan dan memeluk hadiah sederhana itu. Ucapan terima kasih terus mengalir dari mulut-mulut mungil mereka. 

“Padahal mereka baru saja kehilangan rumah, tapi masih bisa tertawa hanya karena tas dan sepatu. Itu bikin hati saya campur aduk,” tutur Hadi.

Jadi Korban Penjarahan saat Lindungi Minimarket

Beberapa hari setelah bencana mengguncang Kota Sibolga, situasi semakin kacau. Akses jalan terputus total, membuat distribusi logistik nyaris berhenti. Harga bahan pokok merangkak naik tanpa kendali. Di sisi lain, lampu-lampu padam, memutus akses telekomunikasi, membuat komunikasi semakin sulit.

Puncak kekacauan itu terjadi pada 29 November 2025. Saat hendak pulang makan siang, Hadi melewati sebuah minimarket di tengah kota yang tiba-tiba dikepung oleh segerombolan massa. Dengan sigap, dia berusaha membubarkan kerumunan tersebut. 

Massa sempat bubar. Namun tak lama kemudian, gelombang massa baru datang dengan kekuatan lebih besar. Mereka menjarah minimarket, melempar apa saja yang ada di tangan, memukul, bahkan merampas jam tangan yang melingkar di pergelangan Hadi. Dalam kepanikan itu, dia bersyukur karena warga sekitar segera menyelamatkan dirinya dan seorang rekannya.

“Warga bilang, ‘Sudahlah pak, tinggalkan saja minimarket itu, biarkan dijarah, nanti bapak mati.’ Mereka menarik aku ke belakang,” kenang Hadi. 

Setelah berhasil lolos dari amukan massa, Hadi baru menyadari tubuhnya penuh luka dan lebam. Trauma pun menghantui pikirannya. 

“Aku trauma. Bagaimana aku mau bantu warga, aku malah dijarah, dipukul,” ucapnya pilu.

Bangkit dari Trauma, Berjuang di Tengah Derita Pengungsi

Meski sempat dilanda trauma usai insiden penjarahan, Hadi perlahan bangkit. Dukungan keluarga dan rekan-rekan seangkatannya menjadi penguat langkah untuk kembali turun membantu warga terdampak bencana di Sibolga.

Kepedulian membawanya ke titik-titik pengungsian paling parah. Di sana, dia mendapati anak-anak kecil terbaring demam, sebagian menggigil, dengan wajah sayu. Sementara ketersediaan obat sangat terbatas. Akses jalan masih terputus dan distribusi bantuan belum merata.

Melihat kondisi itu, Hadi berinisiatif mencari bantuan. Berbekal dana yang dikumpulkan dari rekan-rekannya, dia membeli obat-obatan dan sembako, lalu membagikannya langsung ke tenda-tenda pengungsian.

Setelah jaringan komunikasi kembali pulih, Hadi memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan bantuan. Melalui akun Instagram dan TikTok miliknya yang memiliki puluhan ribu pengikut, dia menyampaikan kondisi pengungsi.

“Setelah aku posting kondisi pengungsi, akhirnya makin banyak yang bantu,” ujarnya.

Namun, lebih dari sepekan nonstop di lapangan, ditambah hujan yang tak kunjung reda, membuat kondisi fisik Hadi menurun. Dia pun jatuh sakit dan terpaksa beristirahat selama dua hari penuh.

Bertahan dengan Mi Instan

Tak hanya Hadi, Brigpol Fany Suheri Wijaya Aritonang juga menjalankan misi kemanusiaan. Turun tangan mengevakuasi korban longsor di Sibolga sejak 25 November 2025. Dia mengenang saat berdiri dengan napas tersengal di tengah tumpukan tanah, batu, dan batang kayu yang menutup badan jalan Tangga Seratus. 

Tak ada alat berat saat itu. Hanya cangkul dan tangan kosong yang jadi andalan. Satu jam kemudian bantuan alat berat datang, tapi ukurannya kecil. Untuk membersihkan satu titik saja, dibutuhkan hari-hari yang panjang dan tenaga yang tak sedikit.

“Personel kita kerahkan semua, dari Polri, TNI, Pemkot, tetap saja kurang. Titik longsor terlalu banyak, bencana berturut-turut,” ujarnya. 

Tangga Seratus, Jalan Murai, hingga Sibabangun, semuanya luluh lantak dalam waktu nyaris bersamaan. Dari semua lokasi, Jalan Murai adalah yang paling menyayat hati. Di sana, 55 korban jiwa ditemukan, semuanya tak selamat.

Suheri tak bisa melupakan kondisi korban. Tubuh yang hancur, terputus, bahkan mulai membusuk. Ketakutan sempat menghampirinya. Rumah keluarganya tak jauh dari lokasi longsor yang bisa kapan saja menjadi sasaran bencana. Tapi di antara rasa takut dan tanggung jawab, Suheri memilih tetap tinggal dan terus menggali.

“Ini bencana. Saya harus tetap jalankan tugas,” kata dia.

Sepekan setelah longsor melanda, rasa frustrasi mulai menyelinap. Akses jalan yang terputus membuat distribusi logistik terhambat. Makanan pun terbatas. Selama hari-hari panjang itu, tak ada makanan layak yang bisa dinikmati. Mereka hanya mengandalkan mi instan, itu pun tanpa lauk. 

“Nasi pakai mi instan. Enggak ada rasanya lah. Tapi itu aja yang ada,” ujarnya getir. 

Di tengah kondisi darurat, tak ada pilihan lain selain bertahan. Dengan perut yang tak pernah benar-benar kenyang, mereka tetap turun ke lapangan. Menggali, mengevakuasi, dan memanggul. Terkadang diam sejenak saat menemukan tubuh yang sudah tak bernyawa.

“Alhamdulillah walau cuma makan mi, masih kuat evakuasi korban,” ucap anggota Satres Narkoba Polres Sibolga ini.

Ribuan Nyawa Melayang Akibat Bencana di Sumatera

Akhir November 2025 menjadi waktu yang kelam bagi tiga provinsi di Pulau Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Banjir dan longsor melanda tanpa ampun, menyisakan luka mendalam, tak terkecuali di kota pesisir Sibolga.

Hujan deras yang tak henti-henti memicu longsor di berbagai titik, menghancurkan rumah-rumah hingga rata dengan tanah. Jalan-jalan utama terputus, nyawa melayang, dan warga terpaksa meninggalkan rumah, mencari perlindungan di tempat pengungsian. 

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 28 Desember 2025 menunjukkan betapa besar dampak bencana ini. Korban jiwa mencapai 1.140 orang, dengan 163 lainnya masih dinyatakan hilang. Lebih dari 390 ribu warga terpaksa hidup dalam ketidakpastian di lokasi pengungsian. 

Aceh menanggung beban terberat dengan 513 korban meninggal dunia. Sumatera Utara menyusul dengan 365 jiwa yang tak kembali, sementara Sumatera Barat mencatat 262 korban. Upaya pencarian dan evakuasi terus digalakkan, bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi yang kini bergantung pada bantuan.

"Operasi pencarian tak berhenti di tiga provinsi ini," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Minggu (28/12/2025).

Di tengah kondisi yang serba darurat ini, berbagai pihak terus bergerak cepat. Pemerintah pusat dan daerah, BNPB, TNI-Polri, BUMN, serta relawan bahu membahu menyalurkan bantuan, menyediakan air bersih, membuka kembali akses jalan, dan membangun hunian sementara maupun permanen. 

Di balik semua itu, ada wajah-wajah kemanusiaan yang tak tercatat dalam statistik. Seperti Aiptu Hadi dan Brigpol Suheri, dua polisi yang turun langsung ke lapangan. Mereka menenangkan anak-anak yang menangis, menggali tanah untuk mengevakuasi korban, hingga mencari bantuan tanpa cukup makan dan istirahat. Dalam gelapnya duka, mereka menjadi api kecil yang tak padam.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6