Meniti Jalan Pengabdian Sang Polisi Penggali Kubur

Cerita Bripka Joko menggali kubur tak datang tiba-tiba. Pekerjaan itu sudah digeluti sejak berusia belia.

Diterbitkan 30 Desember 2025, 11:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari itu sudah larut. Joko Hadi terlelap lebih awal. Kebetulan cuaca hujan petir. Sehingga tak ada aktivitas lain bisa dilakukan.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Tepat di pukul 02 dini hari. Dalam keadaan setengah sadar, dia menjawab panggilan tersebut. Di ujung telepon, seseorang memintanya melakukan penggalian kubur malam itu juga.

Joko coba menjelaskan keadaan. Tetapi penelepon memohon. Akhirnya dia tak bisa menolak. Sebagai penggali kubur, Joko menyadari permintaan tolong bisa datang kapan saja. Dia pun harus selalu siap.

"Saya pernah jam tengah dua ditelepon suruh gali, padahal saat itu lagi hujan petir. Tapi ya bagaimana lagi memang sudah tugas saya. Jadilah tengah malam itu saya menggali dalam keadaan berlumpur," ucap pria berpangkat Bintara Kepala ini saat berbincang dengan Liputan6.com, Sabtu (27/12/2025).

Joko Hadi sebenarnya berprofesi sebagai polisi di Polsek Samarinda Ulu. Sehari-hari, dia bertugas sebagai Bintara Administrasi Umum atau dikenal dengan istilah Basium.

Dia lolos seleksi penerimaan Bintara Polri di tahun 2005. Meski sudah 20 tahun mengabdi di Korps Bhayangkara, Joko memilih tak melepas pekerjaan sebagai penggali kubur. Alasannya sederhana. Menjadi ladang amal jariyah untuk kehidupannya kelak di akhirat. Dia sangat percaya, ketika memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan mempermudah urusannya di kemudian hari.

"Saya anggap ini bekal buat mati. Saya anggap ini bagian dari amal jariyah buat bekal ketika suatu hari saya meninggal dunia," ujar pria berusia 38 tahun itu.

Gali Kubur Sejak SMP

Cerita Bripka Joko menggali kubur tak datang tiba-tiba. Pekerjaan itu sudah digeluti sejak berusia belia. Tepat ketika duduk di kelas 2 SMP.

Joko kecil dan keenam saudara kandungnya tumbuh tanpa dampingan ibunda tercinta karena meninggal dunia. Saat itu, Joko masih duduk di bangku sekolah dasar. Setelah ibunya meninggal, ayah Joko yang juga seorang polisi memutuskan hijrah dari Kabupaten Berau ke Samarinda.

Keluarga Joko memulai hidup baru di sana. Sebagai orang tua tunggal, ayah Joko bekerja keras demi menghidupi tujuh anaknya yang masih di bangku sekolah. Beruntung gaji didapat ayahnya cukup untuk kehidupan mereka kala itu. Meski diakui Joko, uang jajan diberikan sangat kecil dibandingkan teman sekolah lainnya.

Melihat keadaan itu, Joko putar otak. Jarak sekolah yang jauh tak sebanding dengan uang jajan Rp500 diberikan ayah. Joko berpikir menyambi bekerja.

Sebagai remaja sedang bertumbuh, Joko kerap menghabiskan waktu dengan teman-temannya ketika pulang sekolah. Biasanya, mereka bermain layangan di area makam sekitar rumah.

Suatu hari, sembari mengulur benang kenur, Joko tertegun. Pandangannya mengarah pada area makam. Dia melihat para penggali kubur mendapat upah setelah menyelesaikan pekerjannya. Seketika Joko berpikir, bagaimana kalau dia ikut menggali kubur. Pikirnya kala itu, bisa mendapat uang jajan tambahan setelah menggali kubur.

Tanpa pikir panjang, Joko mengutarakan keinginannya pada penjaga makam. Bak gayung bersambung. Joko diizinkan bergabung. Hatinya senang bukan main. Terbayang di benaknya mendapatkan uang saku lebih, meski tak tahu seberat apa pekerjannya nanti.

"Waktu itu saya dikasih Rp 20.000 tahun 90-an nilai segitu kan sangat lumayan," ujarnya tertawa lepas.

Hari demi hari Joko melakoni pekerja sebagai penggali kuburan muslim di daerah Sungai Kunjang, Ulin, Samarinda. Biasanya, dia melakukan penggalian pagi hari. Kebetulan, Joko mendapatkan jadwal sekolah siang saat SMP dan SMA. Setelah selesai menggali, dia membersihkan diri dan melanjutkan perjalanan ke sekolah.

Tak terasa, tahun terus berganti. Joko menyelesaikan bangku SMP dan SMA meski nyambi penggali kubur. Dikarenakan sudah berencana masuk polisi, dia buru-buru mendaftar seleksi Bintara Polri setelah lulus SMA.

Meski berniat menjadi abdi negara, tak terbesit di pikirannya meninggalkan kegiatan menggali kubur. Bahkan ketika sudah dinyatakan lulus dan resmi berdinas.

"Pas lolos polisi istirahat setahunan, terus mulai lagi sampai sekarang. Malah sekarang jadi ketua kuburan selama enam tahun terakhir. Saya memegang empat kelurahan," ujarnya.

Tak Perlu Malu Berburu Amal Jariyah

Nyaris 20 tahun lebih Joko menjadi penggali kubur. Selama itu pula, dia tak merasa malu menjalani profesi ini. Polisi adalah pengayom masyarakat, dan yang dilakukannya adalah bagian dari menolong dan melayani masyarakat.

Dia pastikan tak ada pungutan tertentu harus dibayarkan pada para penggali kubur. Baginya, lebih mulia menerima uang dari yang benar-benar ikhlas memberikannya. Bahkan, ketika melihat keluarga yang berduka bukan dari kalangan mampu, dia langsung menggratiskannya.

"Jadi mau kasih berapa pun silakan, tapi kalau yang tidak mampu pasti saya gratiskan. Namun saya pastikan, untuk tukang gali kubur, saya gaji pakai uang saya pribadi," ujarnya.

Saat ini, lebih kurang 20 orang penggali kubur di bawah binaannya. Mereka adalah warga sekitar yang belum mendapatkan pekerja. Bahkan, katanya, ada pula mantan narapidana insaf yang bergabung. Dia memang memberikan kesempatan pada mantan napi di dekat tempat tinggalnya. Harapannya, mereka benar-benar ingin memperbaiki diri.

Meski bukan pekerjaan dengan sederet kebijakan penting, suka duka tetap dirasakan Joko selama bekerja menggali kubur. Komplain dari ahli waris kerap saja ada. Tetapi, sebagai pelayan masyarakat, dia coba carikan solusi.

Tantangan lain dihadapinya ketika Covid-19 beberapa tahun lalu. Ketika itu, katanya, dia bisa menggali kubur sampai tujuh liang lahat dalam satu hari. Bahkan jika mengikuti permintaan bisa mencapai belasan. Tetapi dia tak sanggup. Selain fisik yang lelah, aroma air disinfektan yang disemprotkan juga menjadi ujian tersendiri.

"Kita didampingi petugas saat itu, pas jalan galian ketujuh saya udah enggak kuat, mana cuaca panas, bikin lahannya juga lebih makan waktu karena jenazahkan pakai peti. Ditambah air disinfektan, APD, rasanya bernapas juga sesak," ujarnya mengenang momen itu.

Tak Mau Lupa Asal Usul Menjadi Penggali Kubur

Bekerja sebagai anggota kepolisian tak jadi penghalang untuk Joko terus melanjutkan tugasnya sebagai penggali kubur. Joko beralasan, jauh sebelum menjadi polisi, dia adalah seorang warga biasa yang bekerja sebagai penggali kubur. Bukan tidak mungkin pula, kehidupannya sekarang ini tak lepas dari keikhlasannya membantu warga yang berduka.

"Saya enggak mau jadi kacang lupa sama kulitnya. Hidup saya bisa begini juga tak lepas dari uang menggali kubur yang saya dapat jauh sebelum jadi polisi," katanya.

Pertimbangan lainnya, Joko merasa sebagai manusia biasa penuh dosa. Sehingga dia berupaya menutupi segala kekurangannya dengan menjadi orang bermanfaat untuk sesama. Dia menuturkan, dalam Islam, ada tiga amalan yang pahalanya tidak putus. Pertama doa anak yang soleh, ilmu bermanfaat dan amal jariyah.

Sebagai orang yang fakir ilmu dan tidak bisa memastikan seperti apa masa depan anaknya kelak, maka yang bisa dilakukannya dengan memperbanyak amal kebaikan. Kelak, katanya, amal kebaikan di dunia ini bisa menolongnya di akhirat nanti.

"Makanya selain makam, saya juga buat majelis pengajian yang bisa diikuti semua kalangan termasuk anak-anak," kata ayah tujuh anak ini.

Dia juga melengkapi fasilitas makam dengan membuatkan pos jaga dan sudah dilengkapi teh dan kopi serta air. Sementara di sekitarannya, dia bangun fasilitas seperti jalan dicor, pengobatan gratis, lapangan voli, pos jaga malam, tenda dan keranda. Semua itu bisa dibangun dan dibelinya memakai uang tabungan dari hasil menggali kubur.

"Jadi saya kembalikan lagi uang itu untuk kepentingan kampung saya. Karena dulu kondisi kampung saya ini benar-benar kasihan. Lucunya lagi, meski saya bangunkan fasilitas-fasilitas itu, saya sendiri rumah masih nyewa," kelakar Joko.

Dukungan Pimpinan jadi Penyemangat

Joko benar-benar beruntung. Kerja sosialnya membantu warga mendatangkan kebaikan yang tak disangka. Sejak kegiatannya sebagai penggali kubur diketahui, beberapa penghargaan pernah didapat. Bahkan tahun 2024 lalu, penghargaan diberikan langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Joko benar-benar tak pernah bermimpi sebelumnya. Pimpinan tertinggi Polri itu bahkan langsung menemuinya.

"Beliau pesan tetap semangat dan kalau bisa menularkan ke rekan-rekan lainnya," kata Joko mengenang pertemuannya dengan Kapolri setahun lalu.

Jauh sebelum itu, Joko juga pernah mendapatkan penghargaan. Selain dari kapolsek dan kapolresta tempat dia bertugas, Joko juga diganjar penghargaan oleh MenpanRB yang kala itu dijabat almarhum Syafruddin Kambo.

Hingga kini dukungan serupa juga masih didapat dari atasannya. Tak jarang, atasannya juga ikut memberi sedekah untuk para penggali kubur yang bekerja dengannya.

"Alhamdulillah pimpinan saya di kepolisian Pak Kapolres (Kombes Hendri Umar) sangat baik pada saya dan keluarga. Begitu juga pak kapolsek. Sangat beruntung saya," katanya.

Dukungan yang diberikan atasan tak lantas membuat Joko besar kepala. Dia tak pernah mengesampingkan tugas-tugasnya di kepolisian. Jika pun ada panggilan untuk menggali kubur, dia pastikan selalu melapor dan meminta izin atasan.

"Kalau ketepatan ada galian pagi, saya datang agak siang tapi saya pastikan izin dulu enggak ikut apel pagi. Saya sertakan bukti-bukti fotonya. Tapi kalau semisal ada urgen saya tetap standby di kantor."

"Karena di sini ada istilahnya saya itu buka bumi dulu, atau kayak nyangkul pertama sekalian bacakan doa-doanya. Baru setelahnya bergantian," ujar pria 38 tahun ini menambahkan.

Joko kian semangat dengan pekerjaannya menggali kubur juga karena dukungan keluarga. Bahkan sejak awal, ayahnya tak pernah mempermasalahkan pekerjaan anak laki-lakinya itu.

Tolak Tawaran Sekolah, Pilih Tambah Tanah Wakaf

Saat ini, Joko mengelola satu haktare tanah wakaf di Sungai Kunjang, Ulin. Namun kini, kondisinya sudah memprihatinkan. Menurutnya, jumlah makam sudah terlalu membeludak. Bahkan di satu liang, ada empat jasad sekeluarga.

Itu sebabnya, Joko sangat berharap ada tangan-tangan baik yang mau memberikan tanah wakaf. Sebenarnya, ada lahan perusahaan di sekitar pemakaman tersebut. Tetapi, kata Joko, pihak perusahaan hanya mau memberikan tanah dengan sistem jual beli atau tukar guling aset. Memenuhi dua kewajiban itu, Joko mengaku tak mampu.

Besarnya harapan Joko mendapatkan tanah wakaf juga diutarakan pada Kapolri dan atasannya. Saking butuhnya dia pada lahan tersebut, Joko sampai menolak diberikan sekolah gratis kenaikan pangkat. Dia malah membisikkan lebih senang jika diberikan tanah wakaf.

"Karena kalau sekolah buat saya pribadi, tapi kalau tanah wakaf buat umum, lebih kemaslahatan umat. Karenakan kita hidup ini pasti mati," ujarnya lirih.

Andai tanah wakaf itu didapat, Joko sudah memiliki konsep pengelolaan pemakaman Sungai Kunjang ke depannya. Salah satu inspirasinya dalah pemakaman Baqi yang ada di sekitaran area Masjid Nabawi di Madinah.

Namun sembari cita-cita itu diwujudkan, Joko tak menyerah. Dia terus berupaya memaksimalkan lahan di pemakaman tersebut. Joko tak ingin ada cerita warga kesulitan mendapatkan pemakaman.

"Kalau saya egois mending sekolah lagi, tapi lagi-lagi saya utamakan untuk warga saya," katanya penuh bangga.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6