Titiek Soeharto: Bencana Banjir dan Longsor Sumbar Harus Dikaji, Marak Pembalakan Liar

Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyoroti maraknya pembalakan dan penambangan liar di wilayah hulu yang dinilai memperparah risiko banjir serta longsor.

Diterbitkan 02 Desember 2025, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pembalakan liar kembali mendapat perhatian setelah Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menyampaikan pandangannya saat pembahasan penanganan bencana di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Minggu 30 November 2025.

Penebangan kayu ilegal masih ditemukan di sejumlah daerah dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi lingkungan. Titiek menekankan pentingnya menjaga tutupan hutan agar masyarakat tidak semakin rentan terhadap bencana.

Titiek menilai bahwa penebangan atau penambangan ilegal masih menjadi persoalan yang memengaruhi daya dukung lingkungan.

"Banjir ini harus dikaji betul, termasuk praktik pembalakan liar atau penambangan liar di wilayah hulu," ujar Titiek, melansir Antara, (01/12/2025).

Aktivitas ilegal di wilayah hulu tidak hanya merugikan kawasan itu sendiri, tetapi berdampak langsung pada masyarakat hilir yang kerap menjadi korban banjir maupun longsor.

"Jika ada aktivitas pembalakan atau penambangan liar di wilayah hulu itu semuanya harus ditertibkan karena dampaknya ke masyarakat luas yang berada di hilir," terangnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi curah hujan yang ada saat ini saja sudah menyebabkan berbagai kerusakan, sehingga setiap aktivitas merusak lingkungan akan memperbesar risiko bencana.

"Dengan curah hujan yang seperti sekarang ini saja dampaknya sudah seperti ini, apalagi jika curah hujan lebih besar," jelas Titiek.

Update Korban Bencana Sumbar: 193 Meninggal, 116 Hilang

Sebelumnya, jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat terus bertambah. Data per Selasa (2/11/2025) sebanyak 193 orang meninggal dunia dan 116 orang lainnya masih hilang dan dalam proses pencarian di provinsi ini.

"Dari total tersebut, 161 korban sudah berhasil diidentifikasi. Sementara itu, 32 korban lainnya masih belum diketahui identitasnya. Proses pendataan masih berlanjut karena temuan korban baru terus terjadi di berbagai lokasi terdampak," ujar Sekretaris Daerah Arry Yuwandi.

Sementara, lanjut dia, jumlah pengungsi tercatat sebanyak 17.402 jiwa. Mereka berpindah ke berbagai titik aman dengan fasilitas seadanya.

Arry menjelaskan, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian dan evakuasi terhadap warga yang dilaporkan hilang.

Menurutnya, hambatan terbesar berasal dari korban yang tertimbun material longsor serta minimnya alat berat yang bisa dioperasikan di lokasi.

"Kesulitan pencarian korban karena banyak yang tertimbun material longsor dan banjir bandang," terang Arry, Selasa (2/11/2025) dalam jumpa pers di Padang.

"Tebalnya material, akses jalan yang terputus, serta cuaca yang tak menentu semakin memperlambat mobilisasi tim penyelamat," tandas dia.

Kunjungi Lokasi Bencana di Padang Pariaman, Wamendagri Bima Arya Bawa Bantuan Logistik dan Kerahkan Dukcapil

Dalam kunjungan tersebut, Bima menegaskan pemerintah pusat akan bergerak cepat dan memastikan semua kebutuhan masyarakat terpenuhi dengan baik. Hal ini, kata dia, sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto.

"(Hal) yang paling utama itu adalah bahan makanan, kemudian air bersih, obat-obatan, dan pakaian untuk keluarga. Itu paling pertama sekali," katanya saat ditemui awak media di Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.

Bima menegaskan bahwa pemerintah menjamin upaya pencarian korban jiwa akan dilakukan secara maksimal dengan melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), serta seluruh tim aparat gabungan. "Semaksimal mungkin kita lakukan pencarian dengan berkoordinasi, sambil kemudian melakukan pendataan," jelasnya.

Lebih lanjut, Bima juga mendorong Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan pihak terkait untuk segera memperbaiki jaringan listrik di wilayah terdampak. Dia juga meminta masyarakat dan aparat untuk tetap waspada, meskipun berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) puncak curah hujan yang tinggi sudah terjadi pada November lalu.

"Tapi tetap kita harus mengantisipasi. Jadi tetap waspada dan siaga. Semua perangkat-perangkat kebencanaan harus siaga," imbuhnya.

Bima mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan oleh Bupati Padang Pariaman dan jajaran yang telah memberikan pertolongan pertama dengan sigap. Dalam kesempatan tersebut, Bima juga menyalurkan bantuan kepada masyarakat setempat berupa beras, mi, dan kain sarung.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6