Liputan6.com, Jakarta - Selasa 25 November 2025 tepatnya pukul 08.44 WIB, satu panggilan video call yang terlewat menjadi awal sebab kekhawatiran yang berkepanjangan bagi Betty, seorang anak rantau yang kini tinggal jauh dari kampung halaman di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut).
Bencana banjir bandang disertai longsor di Sibolga, Tapanuli Tengah menjadi kejadian yang menjadi pusat kekhawatiran bagi Betty.
Panggilan video call dari sang ibu yang tak terangkat, menjadikannya kelimpungan, akibat kabar mengenai bencana yang menimpa tempat keluarganya tinggal di kampung halaman.
Advertisement
"Di hari kejadian, saya lihat ada notif mama video call, tapi nggak sempat keangkat. Karena hp saya silent. Terus dua menit kemudian, saya telepon balik, udah nggak masuk," cerita Betty saat diwawancarai Liputan6.com pada Jumat 28 November 2025.
Ayah Betty dan ibunya merupakan seorang pendeta Di GPDI Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. Saudara laki-laki pertamanya juga seorang pendeta yang bertugas di di GPDI Sibuluan Nalambok, Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah. Sedangkan, saudara laki-laki lainnya adalah seorang pegawai pajak di KPP Pratama Sibolga.
Seluruh keluarga Betty berada di wilayah yang terdampak bencana, terlebih lagi kedua orang tuanya. Dua saudara laki-lakinya, dinyatakan aman dari bencana, namun kedua orang tuanya hingga kini masih dalam proses pencarian.
Di tengah pencarian tersebut, rumah yang ditinggali orang tua Betty dikabarkan sudah rata dengan tanah, akibat dari bencana tersebut. Hal ini menjadikan Betty semakin khawatir akan keberadaan orang tuanya.
"Pas terakhir bisa komunikasi dari teman-teman itu terlihat video kalau rumah saya sudah rata dengan tanah," kata Betty dengan nada putus asa.
Namun, harapan itu nyata adanya dengan Betty yang terus berusaha mencari keberadaan orang tuanya. Ia sudah menghubungi banyak pihak, baik melalui telepon seluler bahkan hingga melalui video-video siaran langsung yang beredar di sosial media.
Â
Usaha yang Tiada Ujung Pasti
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5427328/original/045144100_1764379130-Gereja.jpg)
Sejak pagi hari bencana itu terjadi, Betty Siregar terus berjuang mencari kabar tentang kedua orang tuanya.
Berulang kali ia menekan tombol panggilan, menghubungi siapa pun yang mungkin mengetahui keberadaan mereka. Namun jawaban yang datang justru semakin menambah rasa cemas.
Ketika menghubungi kakak iparnya, Iin, ia mendapat kabar bahwa saudara laki-laki keduanya, David, saat itu sedang berusaha menjemput ayah dan ibunya. Namun usaha itu gagal dikarenakan jalan menuju rumah orang tuanya sudah terendam banjir.
"Nggak bisa lewat, kendaraan pun nggak bisa," kata Betty.
David akhirnya kembali ke rumahnya, lalu menghubungi Betty sekitar pukul 09.50 WIB untuk meminta bantuan mencari informasi dari tetangga.
Dari nomor ketua lingkungan yang berhasil didapatkan, Betty menerima kabar bahwa wilayah rumah orang tuanya telah dikepung banjir tinggi. Semua warga sudah mengungsi ke tempat lebih aman. Tetapi ketika ditanya apakah kedua orang tuanya ada di lokasi pengungsian, jawabannya tetap sama.
"Nggak ada," ucap Betty.
Tak berhenti di situ, Betty menelusuri siaran langsung di Facebook dari salah satu titik pengungsian di dekat rumah keluarganya. Dalam kolom komentar, ia menuliskan pertanyaan yang sama berulang-ulang
"Ada bapak mama nggak? Ada Pendeta Siregar nggak?," tanya Betty.
Namun hasilnya tetap nihil. Beberapa warga yang memeriksa daftar nama memastikan bahwa kedua orang tuanya tidak terlihat di sana.
Betty kembali mencoba menghubungi tetangga-tetangga lain. Satu panggilan akhirnya tersambung, memberikan sedikit harapan yang sayangnya kembali hilang. Tetangga tersebut juga mengatakan kedua orang tua Betty tidak ditemukan di pengungsian mana pun.
Bahkan ada suara lain yang terdengar dalam percakapan itu, seorang tetangga yang nyeletuk bahwa terakhir kali mereka melihat kedua orang tua Betty, mereka masih berada di rumah. Namun kapan tepatnya itu terjadi, tak ada yang tahu.
Sementara seluruh warga sudah mengungsi, keberadaan orang tua Betty tetap menjadi tanda tanya besar yang tak kunjung terjawab. Di tengah keterbatasan komunikasi, jalan tertutup, dan wilayah yang terisolasi, upayanya mencari informasi seakan menyusuri lorong gelap tanpa ujung pasti.
Â
Advertisement
Kesulitan dalam Menerima Bantuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5426790/original/085175100_1764317617-7.jpg)
Di tengah upaya mencari kabar keluarganya, Betty juga harus menerima kenyataan bahwa jalur bantuan menuju Tapanuli Tengah hampir sepenuhnya terputus. P
ada malam hari bencana terjadi, ia menghubungi Basarnas Sumut dan Basarnas Medan untuk meminta informasi tentang proses pencarian di kampung halamannya. Namun jawaban yang ia dapatkan justru memperlihatkan betapa buruknya kondisi di lapangan.
Dari berbagai unggahan informasi yang ia pantau, ia mengetahui bahwa Sibolga dan Tapanuli Tengah terisolasi akibat cuaca ekstrem dan kerusakan infrastruktur di banyak titik. Bantuan dari Medan tertahan di Tarutung karena rangkaian longsor yang menutup jalan.
"Jadi lewat sosial media, saya lihat katanya memang di Sibolga itu padam listrik, jaringan komunikasi sama air juga semua mati di sana. Sampai saat ini saya lihat dari berita dan sosial media juga Sibolga dan Tapanuli Tengah itu memang terisolasi," kata Betty dengan nada penuh prihatin.
Relawan dari Padang Sidempuan tidak bisa menembus lokasi karena jembatan yang mereka lalui putus total. Upaya bantuan dari arah laut juga terkendala, kapal dari Nias tidak dapat berlayar akibat adanya ombak besar.
Situasi semakin mengkhawatirkan ketika Betty kembali menemukan laporan dari warga. Ada sekelompok orang yang berusaha mencapai Hutanabolon, lokasi rumah orang tuanya berada.
Namun upaya itu kembali terhenti. Mereka tidak bisa melewati jembatan Sigotong di Tukka, yang kini tertimbun material kayu besar, lumpur, dan puing banjir. Jalur tersebut menjadi salah satu akses utama menuju desa-desa yang terisolasi.
Hingga saat ini, laporan dari lapangan menyebutkan belum ada tim SAR yang berhasil mencapai Hutanabolon. Semua rute tertutup dan cuaca yang tidak bersahabat membuat proses penyaluran bantuan dan pencarian semakin lambat.
"Jadi di situ jalannya tuh udah dipenuhi sama kayu lumpur gitu mbak. Jadi katanya sih belum ada tim sar yang sampai di Hutanabolon," ujar Betty.
Â
Harapan yang Tak Ikut Tumbang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5426786/original/025692200_1764317616-3.jpg)
Di Jakarta, Betty hanya bisa menatap layar ponselnya tanpa henti, berharap ada kabar yang muncul di antara riuh berita bencana. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mencari informasi dari media sosial dan menunggu kiriman video dari teman-temannya di kampung.
"Terus saya juga nggak bisa ngapa-ngapain di sini, cuma bisa cari informasi lewat sosial media," katanya dengan penuh sedih.
Pada hari Selasa, 28 November 2025 sebelum seluruh jaringan benar-benar mati, sebuah video dari rekannya menjadi pukulan yang ia terima. Dalam rekaman itu, terlihat puing-puing kayu, tanah, dan material rumah bercampur menjadi satu. Rumah tersebut, merupakan tempat di mana ayah dan ibu Betty tinggal.
"Itu yang bikin saya khawatir. Saya khawatir kalau orang tua saya masih di dalam rumah, nggak sempat melarikan diri," ujarnya penuh khawatir.
Meski gambaran kerusakan begitu nyata, harapan pada diri Betty tetap ada. Ia berpegang pada kemungkinan terkecil bahwa orang tuanya sempat menyelamatkan diri ke arah bukit, seperti sebagian warga lainnya.
"Saya cuma berharap selamatlah orang tua saya," tutup Betty lirih.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5425777/original/089210800_1764237346-Infografis_Sumut_CMS.jpg)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5427327/original/019883700_1764379080-Betty.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260345/original/097053600_1781587471-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257805/original/092292600_1781257252-9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776148/original/089087200_1782856721-France_s_Kylian_Mbappe__left__celebrates_with_his_teammate_ousmane_dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2334108/original/066597200_1534606749-Tambang_Freeport.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7070427/original/091082700_1779849024-IMG-20260526-WA0142.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6984126/original/071255300_1779751550-email-attachment_2026_05_25_fira-alfi-syahrin_pipa-air-utama-amtj-sukabumi-jebol-tertimpa-longsor-pasokan-air-ribuan-warga-sukabumi-tersendat_339555.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6856560/original/005070800_1779639400-338368.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6249871/original/094299000_1779126144-b20d8e26-4783-4baf-b44a-a830a969accd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5968214/original/006468900_1778863588-327695.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5948304/original/020967200_1778845186-WhatsApp-Image-2026-05-14-at-20.38.26.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5708813/original/093571400_1778593055-324772.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582992/original/024357400_1778134198-Ruas_Jalan_Tol_Bogor___Ciawi___Sukabumi__Bocimi_-7_Mei_2026.jpg)