Fakta Baru Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta: Pernah Ekskul KIR, Ikut Lomba Astronomi dan Kebumian

Pihak sekolah membenarkan bahwa siswa tersebut pernah aktif di ekskul Karya Ilmiah Remaja (KIR) saat kelas 11, meski sudah tidak lagi terlibat saat duduk di kelas 12.

Diterbitkan 21 November 2025, 21:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Polisi mendapati fakta bahwa anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang terlibat kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, menyamarkan belanja online bahan peledak dengan dalih untuk keperluan ekstrakurikuler.

Terkait hal tersebut, pihak sekolah membenarkan pelaku sempat aktif dalam kegiatan ekskul Karya Ilmiah Remaja (KIR).

“Ekskulnya itu terakhir kelas 11 KIR, kelas 12 sudah nggak aktif,” tutur Kepala Sekolah SMAN 72 Jakarta Tetty Helena Tampubolon saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (21/11/2025).

Tidak hanya itu, pelaku juga pernah mengikuti lomba di bidang geosains atau ilmu kebumian. Diketahui, bidang tersebut mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti geologi, meteorologi, oseanografi, dan astronomi.

“Tadi saya telepon pembinanya waktu kelas 11 itu bilang mereka itu kegiatannya pelatihan mereka ikut lomba astronomi, kebumian,” jelas dia.

Sebelumnya, polisi mengungkap bahan peledak yang dimiliki anak berhadapan dengan hukum (ABH) dalam kasus ledakan SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, dibeli secara daring.

"Kalau barang-barang paket yang diterima itu, itu kan untuk ekstrakurikuler sekolah. Jadi tidak ada kecurigaan dari keluarga juga," tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Jumat (21/11/2025).

"Iya seperti itu (beli online dikirim paket). Karena kan orang tuanya yang menerima," sambungnya.

Menurut Budi, anak berhadapan dengan hukum itu juga beralasan laptopnya rusak, sehingga orang tua tidak banyak menaruh curiga dengan aktivitasnya di internet.

"Ya itu tentang sifat gelagat ABH sehari-hari. Terus ditanyakan, secara umum nggak ada perubahan. Terus termasuk dia menggunakan web, kan kalau menurut si ABH ke orang tuanya bahwa laptopnya itu rusak," jelas dia.

 

Pelaku Pendiam

Budi mengatakan, keluarga mengakui bahwa sifat dan karakter dari anak berhadapan dengan hukum yang terlibat kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta ini memang tergolong pendiam. Sama halnya dalam bersosialisasi di lingkungan sekolah.

"Ya itu kaget, nggak menyangka kan (keluarganya)," Budi menandaskan.

Mabes Polri mengungkapkan terduga pelaku ledakan SMAN 72 Jakarta mengalami perundungan atau bullying. Masalah ini membuat pelaku mudah terjerumus konten negatif di sosial media.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menyampaikan, terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta memang tidak terpapar jaringan terorisme. Namun, perundungan yang dialami mempermudah dirinya melakukan aksi nekat.

"Salah satu kasus menonjol adalah peristiwa kejadian yang ada di SMA Negeri 72 Jakarta Utara pada 7 November 2005 yang lalu. Yang melibatkan anak, meski fenomena tersebut berbeda dengan radikalisasi online," tutur Trunoyudo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (18/11/2025).

"Di mana pelaku melakukan aksi karena menjadi korban bullying dari rekannya, dan meniru pelaku penembakan massal di luar negeri sebagai metode untuk melakukan aksi balas dendam, dan bukan melakukan aksi karena keyakinan atas salah satu paham atau ideologi," sambungnya.

 

Alami Perundungan

Menurut Trunoyudo, pengalaman dirundung memang dapat mempermudah anak dan pelajar terpapar radikalisme. Jaringan terorisme memanfaatkan sosial media hingga game online untuk menarik minat secara perlahan.

"Propaganda didisiminasi dengan menggunakan video pendek, animasi, meme, serta musik yang dikemas menarik untuk membangun kedekatan emosional dan memicu ketertarikan ideologis. Maka dari hasil assessment kerentanan anak dipengaruhi oleh sejumlah faktor sosial. Seperti apa, di antaranya adalah bullying dalam status sosial, broken home dalam keluarga," jelas dia.

Kurangnya perhatian dari keluarga juga dapat memudahkan anak dan pelajar terpapar radikalisme. Tidak ketinggalan usia yang memasuki remaja dan pencarian identitas jati diri.

"Marginalisasi sosial, serta minimnya kemampuan literasi digital dan pemahaman agama," kata Trunoyudo.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6