Pemprov DKI Godok Aturan Pembatasan Akses Medsos bagi Pelajar Imbas Ledakan SMAN 72 Jakarta

Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta tengah merumuskan kebijakan pembatasan akses media sosial bagi pelajar imbas ledakan di SMAN 72 Jakarta.

Diterbitkan 18 November 2025, 13:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Disdik DKI merumuskan pembatasan akses medsos pelajar akibat insiden SMAN 72 Jakarta.
  • Pembatasan ini bertujuan mencegah pelajar terinspirasi konten ekstrem dari media sosial.
  • Belajar di SMAN 72 Jakarta normal, namun sebagian siswa masih trauma atau luka.

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta tengah merumuskan kebijakan pembatasan akses media sosial bagi pelajar imbas ledakan di SMAN 72 Jakarta.

Pramono menilai, beberapa konten media sosial dapat memicu dan menginspirasi anak-anak untuk melakukan tindakan ekstrem. Sehingga, menurut dia, pembatasan akses ke sejumlah konten media sosial dianggap penting.

“Sekarang sedang dirumuskan oleh Dinas Pendidikan agar tidak semua anak itu dengan gampang melihat peristiwa-peristiwa atau kejadian seperti yang di YouTube yang kemudian menginspirasi anak-anak kita untuk melakukan seperti yang terjadi di SMAN 72,” kata Pramono usai meresmikan Kampung Tanah Harapan, Kepala Gading Barat, Jakarta Utara, Selasa (18/11/2025).

Ia menjelaskan, proses penyusunan kebijakan itu masih berlangsung. Hasilnya, kata dia bakal disampaikan usai pembahasan rampung.

“Itu lah yang sedang dipersiapkan dan nanti pada saatnya pasti saya akan jelaskan,” ucap dia.

Siswa SMAN 72 Jakarta Trauma

Lebih lanjut, Pramono menyebut belajar mengajar di SMAN 72 Jakarta pasca-insiden ledakan sudah kembali berjalan normal. Meski begitu, masih ada sejumlah siswa yang belum hadir tatap muka.

“Kami juga sudah berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan. Sekarang ini Alhamdulillah di SMAN 72 proses belajar-mengajarnya memang sudah berjalan normal, tapi memang belum sepenuhnya semuanya kemudian hadir secara fisik,” ungkap Pramono.

Menurutnya, sejumlah siswa yang belum hadir secara tatap muka masih mengalami trauma. Sebagian lainnya masih dalam proses penyembuhan karena luka-luka.

“Masih ada beberapa yang kemudian (belum hadir tatap muka) mungkin karena kemarin sempat trauma, luka, dan sebagainya yang melakukan secara daring. Tetapi secara keseluruhan sudah berjalan dengan baik,” ujar dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6