Ledakan SMAN 72 Jakarta Jadi Alarm Bahaya Bullying di Sekolah

Pentingnya payung hukum yang jelas dan tegas agar ada efek jera bagi pelaku bullying.

Diterbitkan 10 November 2025, 13:16 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Chicha Koeswoyo prihatin ledakan SMAN 72 terkait bullying siswa.
  • Penanganan bullying harus serius, bukan formalitas, dengan payung hukum tegas.
  • Dinas terkait diminta tangani rantai bullying dan trauma korban secara komprehensif.

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi E DPRD DKI, Chicha Koeswoyo, menyampaikan duka cita mendalam atas insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025. Chicha mengaku terpukul mengetahui bahwa terduga pelaku merupakan siswa SMAN 72 yang kerap menjadi korban bullying.

“Saya sangat sedih dan terpukul mendengar fakta ini. Kasus ini menunjukkan bullying bisa memicu dampak yang tragis jika tidak ditangani serius,” kata Chica dalam keterangan tertulis, Senin (10/11/2025).

Menurut Bendahara Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) ini penanganan kasus bullying di sekolah tidak bisa hanya sebatas formalitas. Chica menilai, perundungan harus ditangani secara serius oleh semua pihak.

“Sejak awal, saya selalu menekankan bahwa kasus bullying harus ditangani serius oleh Pemprov DKI, khususnya Dinas Pendidikan dan seluruh stakeholder terkait. Tidak bisa hanya sekadar tagline atau sosialisasi formalitas semata,” ucap Chicha.

 

Payung Hukum

Ia menekankan pentingnya payung hukum yang jelas dan tegas agar ada efek jera bagi pelaku bullying. Penyelesaian kasus bullying diminta harus komprehensif agar kasus serupa tidak terulang lagi.

Lebih lanjut, ia ingin Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta segera bertindak, tidak hanya untuk menangani korban, tetapi juga menginvestigasi rantai bullying di sekolah.

“Jika terbukti bullying menjadi latar belakang pemboman, langkah tegas termasuk pencopotan kepala sekolah bisa dipertimbangkan,” ujarnya. 

Trauma Korban

Selain itu, Chicha juga menyoroti pentingnya penanganan trauma korban. Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta juga diharapkan memberi penanganan psikologis kepada korban.

“Ini bukan sekadar masalah sekolah, tapi juga tanggung jawab kita bersama untuk memastikan keselamatan dan kesehatan mental anak-anak,” ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6