Sekjen Golkar Bicara Soeharto, 'Bapak Pembangunan' yang Dianggap Layak Jadi Pahlawan Nasional

Usulan gelar pahlawan nasional untuk Soeharto memicu pro dan kontra. Sebagian menolak karena rekam jejak masa lalu, sementara Sekjen Golkar Sarmuji menilai jasa Soeharto dalam pembangunan membuatnya layak mendapat penghargaan tersebut.

Diterbitkan 22 Oktober 2025, 21:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Soeharto diusulkan jadi pahlawan nasional, memicu perdebatan publik.
  • Amnesty International menolak keras, menganggapnya akhir reformasi.
  • Golkar mendukung karena Soeharto dianggap bapak pembangunan dan swasembada pangan.

Liputan6.com, Jakarta Empat puluh nama masuk daftar usulan pahlawan nasional tahun ini. Namun, ada satu nama yang langsung jadi bahan perbincangan, ialah nama Presiden ke-2 RI Soeharto.

Namanya dinilai telah memenuhi syarat, dan berkas usulan itu sudah diserahkan oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf ke Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Selasa 21 Oktober 2025. Sejak saat itu, ruang publik kembali riuh.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, salah satunya yang bersuara keras menolak usulan tersebut. Bahkan, dipandang ini sebagai akhir dari reformasi jika gelar pahlawan nasional itu diberikan.

Namun, berbeda halnya oleh Sekretaris Jenderal Golkar, Sarmuji. Soeharto dipandangnya layak menyandang gelar pahalawan nasional, karena terbukti sejarah. Salah satunya dikenal sebagai bapak pembangunan.

"Pak Harto juga begitu, sampai saat ini orang masih terngiang-ngiang Pak Harto sebagai bapak pembangunan," kata Sarmuji di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Rabu (22/10/2025).

Menurut dia, di era pemerintahan Soeharto, Indonesia mengalami swasembada pangan. Bahkan, terjadi transformasi teknologi yang dianggap membuat bangga masyarakat kala itu.

"Kita mengalami swasembada panggan di jaman Pak Harto, teknologinya juga begitu, kita waktu itu bangga sekali dengan kemampuan dirgantara kita, itu semua karena jasa-jasa Pak Harto," kata dia.

 

Setiap Tokoh Disebut Memiliki Kekurangan dan Kelebihan

Sarmuji meyakini, setiap tokoh memiliki kekurangan dan kelebihan, sehingga tak ada yang sempurna. 

Meski demikian, menurut dia, kekurangan dari tokoh bangsa, tak terkecuali Soeharto, seharusnya tak menutupi jasa-jasanya selama masa hidupnya.

"Terlepas dari plus minus-nya, setiap orang punya kelemahan, setiap orang punya kekurangan, semua yang saat ini punya gelar pahlawan nasional juga memiliki kelemahan dan kekurangan," pungkasnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6