Pramono Anung Sebut 86 Persen Kebutuhan Air Jakarta Masih Dipasok dari Luar Daerah

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut ketergantungan Jakarta terhadap pasokan air baku dari luar wilayah masih sangat tinggi.

Diterbitkan 30 September 2025, 13:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Ketergantungan Jakarta pada pasokan air luar sangat tinggi, mencapai 86,9%.
  • Pemprov DKI menargetkan cakupan air bersih 100% pada tahun 2029.
  • Berbagai proyek strategis dan program digalakkan untuk mencapai target.

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut ketergantungan Jakarta terhadap pasokan air baku dari luar wilayah masih sangat tinggi. Saat ini, 86,9 persen kebutuhan air Jakarta dipenuhi dari luar daerah dan diolah melalui instalasi pengolahan air (IPA) dengan kapasitas 21.000 liter per detik.

Hal ini disampaikan Pramono dalam seminar nasional bertajuk Water Governance Toward Global Cities yang digelar bersama Universitas Pertahanan (Unhan) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (30/9/2025).

“Karena itu, kerja sama antardaerah dan peningkatan infrastruktur menjadi sangat penting,” kata Pramono.

Tantangan Besar Menuju Global City

Pramono menyebut ketergantungan tersebut menjadi tantangan besar dalam upaya Jakarta menuju kota berkelanjutan sekaligus mengejar target sebagai Top 50 Global City. Menurutnya, penyediaan air bersih selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) nomor enam, yakni Air Bersih dan Sanitasi Layak.

“Jakarta sebagai kota yang inklusif dan berkelanjutan tentu terus berupaya meningkatkan capaian air bersih. Saat ini cakupan baru 74,24 persen. Mudah-mudahan tahun depan bisa naik menjadi 85 persen, dan pada akhir 2029 saya sudah menyampaikan kepada Dirut PAM Jaya agar cakupan bisa 100 persen,” jelasnya.

Pramono menyampaikan, untuk mengejar target itu, Pemprov DKI tengah menyiapkan sejumlah proyek strategis percepatan akses air perpipaan.

Pemasok Air di Jakarta

Rinciannya, ada SPAM Karian–Serpong yang akan menambah cakupan sekitar 10 persen atau 212.000 sambungan rumah, SPAM Jatiluhur I sebesar 13 persen atau 300.000 sambungan rumah, serta SPAM Buaran II yang memperluas layanan 8,8 persen atau sekitar 250.000 sambungan rumah.

Selain proyek itu, Pramono juga menekankan pentingnya penanganan penurunan permukaan tanah akibat penggunaan air tanah berlebih.

Zona Bebas Air Tanah

Pemprov DKI telah menetapkan Zona Bebas Air Tanah (ZOBAT) melalui Pergub Nomor 93 Tahun 2021 yang melarang pengambilan air tanah di wilayah yang sudah terlayani perpipaan, khususnya kawasan strategis seperti SCBD, Sudirman, Mega Kuningan, Pulogadung, serta 12 ruas jalan utama.

“Kami juga memastikan program-program yang menyentuh masyarakat tetap berjalan, misalnya pembangunan IPA Buaran III yang juga akan menyuplai Kota Bekasi, serta pembangunan reservoir komunal di Tambora, Gandaria Utara, dan wilayah lainnya,” ucapnya.

Sebagai tambahan, Pemprov DKI menghadirkan program Kartu Air Sehat bagi warga dengan penghasilan rendah serta bantuan 1.000 tandon air. Pramono optimistis berbagai langkah ini akan membuat cakupan air bersih di Jakarta mencapai 100 persen pada 2029, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan air baku dari luar daerah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6