Said Abdullah Soroti Maraknya Kasus Keracunan, Usul Dapur MBG Langsung di Sekolah

Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah menegaskan keselamatan dan gizi anak didik harus menjadi prioritas utama dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengusulkan agar dapur MBG dikelola langsung di sekolah untuk memastikan higienitas dan pengawasan lebih ketat.

Diterbitkan 30 September 2025, 10:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Keselamatan anak didik lebih penting dari anggaran MBG.
  • Dapur MBG di sekolah diusulkan untuk sanitasi dan pengawasan lebih baik.
  • Hanya 34 dari 5.823 SPPG bersertifikat higienis, perlu revisi konsep.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menekankan bahwa penyelamatan anak didik jauh lebih penting ketimbang sekadar soal anggaran dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Karenanya, Said mengusulkan, pemerintah mengambil langkah ekstrem dengan menghadirkan dapur MBG langsung di sekolah.

"Langsung dapur MBG di sekolah sekolah, diperbaiki, kemudian bagaimana dicek sanitasinya bagaimana, dan cakupannya hanya di sekolah itu saja, itu akan lebih baik," kata Said di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Senin (29/9/2025).

Dengan begitu, kata Said, sanitasi bisa lebih mudah dipantau, jangkauan distribusi lebih pendek, dan keterlibatan guru akan lebih proaktif.

"Kalau langsung ke sekolahnya, mau tidak mau moralitas guru yang mewajibkan dia untuk ikut terlibat," tuturnya.

"Di China, di Jepang itu di sekolah-sekolah. Dari sisi pelaksanaannya akan lebih kredibel, akan lebih terawasi, dan jangkauannya akan lebih pendek," imbuh Said.

 

Hanya 34 SPPG Miliki Sertifikat Higienis

Lebih lanjut, Said menyoroti fakta bahwa dari 5.823 Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG), hanya 34 yang memiliki lisensi sertifikat higienis dan sanitasi. Ia menilai jumlah itu terlalu kecil untuk menjamin kualitas makanan bagi jutaan anak.

Karena itu, ia mengusulkan agar konsep SPPG direvisi. Menurutnya, idealnya satu dapur MBG cukup melayani sekitar 1.000 anak, bukan 3.000 seperti saat ini.

“Kalau 3.000, saya tidak yakin SPPG sanggup tanpa storage dan fasilitas memadai. Bebannya terlalu berat,” jelasnya.

 

Tak Ada Kata Terlambat

Said menegaskan tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sistem MBG. Ia mengingatkan bahwa program ini menyangkut keselamatan anak didik yang menjadi fokus utama Presiden dalam mencerdaskan bangsa.

“Ini menyangkut manusia, anak didik kita, yang nawaitu nya presiden akan dicerdaskan, maka jangan sampai keracunan dong.” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6