Gelar Aksi Damai, Mahasiswa IPB Sematkan Rapor Merah ke DPR dan Pemerintah

Aksi damai Keluarga Mahasiswa IPB dengan simbol “rapor merah” menjadi kritik terhadap pemerintah dan DPR sekaligus seruan moral agar demokrasi tetap dijaga.

Diterbitkan 04 September 2025, 06:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Ratusan mahasiswa memadati pelataran Gedung Rektorat Andi Hakim Nasution IPB University, Dramaga, Bogor, Rabu (3/9/2025).  Dengan mengenakan pakaian serba hitam, Keluarga Mahasiswa (KM) IPB mengelar aksi solidaritas sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa.

Dalam aksi tersebut, mereka membentangkan selembar kertas "rapor merah" untuk pemerintah dan DPR.

Tak hanya itu, mereka menyalakan lilin, menaburkan bunga, serta melantunkan lagu rohani untuk para korban yang meninggal saat aksi demonstrasi yang terjadi di beberapa daerah Indonesia.

Presiden KM IPB, Muhammad Afif Fahreza menegaskan bahwa mahasiswa selama ini tidak tinggal diam. Namun, melihat, mencatat, dan menyuarakan aspirasi.

"Mahasiswa tidak hanya membawa tuntutan, tetapi juga harapan. Harapan akan bangsa yang adil, damai, dan berpihak pada rakyat. Harapan yang mereka percaya, akan tumbuh dari ruang-ruang akademik, dari suara-suara yang jujur, dan dari keberanian yang lahir di tengah duka," kata dia.

Arif lantas mengajak seluruh peserta aksi untuk bersama-sama mendoakan para korban unjuk rasa.

"Kita semua turut berduka atas gugurnya sahabat-sahabat kita. Mari kita lawan segala bentuk anarkisme, provokasi, dan upaya yang mengganggu keutuhan bangsa. Kita jaga demokrasi, kita jaga NKRI," tegasnya.

 

 

Pengabdian Tulus

Sementara, Rektor IPB University, Prof Arif Satria dalam sambutannya, aksi yang dilakukan KM IPB dinilai menunjukkan semangat intelektual dan tanggung jawab moral sebagai insan akademik.

"Saya bangga karena mahasiswa IPB menyampaikan aspirasi dengan cara yang damai, bermartabat, dan sesuai koridor hukum. Ini adalah bentuk pengabdian tulus kepada rakyat dan bangsa," ungkapnya.

Arif menyebut bahwa aksi damai ini menjadi penanda bahwa mahasiswa IPB dan generasi muda pada umumnya masih memegang teguh semangat reformasi dan idealisme perubahan. Mereka hadir tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai suara hati bangsa.

"Mahasiswa tidak hanya membawa tuntutan, tetapi juga harapan. Harapan akan bangsa yang adil, damai, dan berpihak pada rakyat. Harapan yang mereka percaya, akan tumbuh dari ruang-ruang akademik, dari suara-suara yang jujur, dan dari keberanian yang lahir di tengah duka," katanya.

Tuntutan

Dalam aksi tersebut, mahasiswa IPB juga menyampaikan sikap kepada pemerintah dan DPR. Adapun pernyataan sikap tersebut antara lain:

  1. Mahasiswa IPB menyampaikan duka mendalam atas situasi bangsa yang dipenuhi kekerasan, kerusuhan, dan jatuhnya korban jiwa. Mereka mengecam tindakan represif aparat serta menolak keras aksi demonstrasi anarkis yang mencederai kedaulatan rakyat.
  2. Seluruh elemen bangsa diminta menjunjung tinggi persaudaraan, menolak provokasi, dan menjaga perdamaian demi menghindari jebakan konflik horizontal yang bisa memecah persatuan nasional.
  3. Mahasiswa menekankan pentingnya menyampaikan kritik berdasarkan data dan fakta, bukan emosi atau hoaks. Sebagai insan akademik, mereka menyerukan untuk tetap menjunjung tinggi intelektualitas dan integritas moral.
  4. Pemerintah, DPR, dan aparat penegak hukum diminta lebih empatik dan humanis. Mahasiswa mendesak agar solusi atas persoalan bangsa seperti kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, dan korupsi diselesaikan melalui dialog dan kebijakan yang berpihak pada rakyat.
  5. Mahasiswa IPB diajak untuk terus peduli terhadap kondisi bangsa. Kepedulian itu harus diwujudkan melalui langkah-langkah konstruktif, tidak mudah terprovokasi, dan tetap menjunjung nilai-nilai intelektual dan keberanian moral.
  6. Mahasiswa IPB menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam membangun bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Mereka ingin menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6