Belajar Skema Pembiayaan MRT Jakarta Lewat Pinjaman Lunak Tenor 40 Tahun dari Jepang

Setelah merampungkan fase 1 rute Lebak Bulus Bundaran HI, MRT Jakarta kini melanjutkan fase 2 yang dibagi ke dalam fase 2A dan 2B

Diperbarui 27 Agustus 2025, 07:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • MRT Jakarta melanjutkan fase 2A dan 2B, target operasi 2027 dan 2029.
  • Proyek dibiayai JICA melalui pinjaman lunak G to G dengan tenor 40 tahun.
  • Pencairan dana pinjaman JICA dilakukan bertahap sesuai kebutuhan proyek.

Liputan6.com, Jakarta - MRT Jakarta adalah mega proyek transportasi publik yang hadir sebagai solusi mengatasi kemacetan. Setelah merampungkan fase 1 rute Lebak Bulus Bundaran HI, MRT Jakarta kini melanjutkan fase 2 yang dibagi ke dalam fase 2A dan 2B.

Riska Muslimah, Kepala Divisi Engineering mengatakan, fase 2A sudah hampir rampung. Targetnya, pada 2027 rute lanjutan dari Bundaran HI sudah melaju hingga Monas. Kemudian pada 2029 fase 2B juga sudah dapat beroperasi hingga kawasan Kota Tua.

MRT Jakarta Dibantu JICA

Dia menjelaskan, untuk mengerjakan mega proyek ini, MRT Jakarta dibantu Japan International Cooperation Agency (JICA) sebagai pemodal tunggal melalui skema G to G dan telah menyepakati tenor pinjamannya yang bersifat lunak (soft loan) selama 40 tahun.

"Jadi 40 tahun itu adalah total dari 10 tahun cicilan grace periode. Baru setelah 10 tahun ini kita mulai membayar hutangnya. Selama 30 tahun dicicil," kata Riska saat pemaparan Media Fellowship Program ke-3 yang diikuti Liputan6.com di Jakarta, Selasa (27/8/2025).

Riska merinci, setiap tanda tangan loan, terdapat expiring date yang mengingatkan kapan masanya loan akan habis atau sudah tak lagi dapat masuk hitungan.

"Tanggal itu (expiring date) hitungnya 10 tahun, kemudian barulah kita bayar hutangnya selama 30 tahun cicilannya," rinci dia.

Pencarian Dana Bertahap

Riska menambahkan, pinjaman dari JICA bersifat slicing loan. Artinya, pencairan dana tidak dilakukan dalam satu waktu saat tanda tangan kontrak dilakukan. Pinjaman baru dapat dicairkan secara bertahap berdasarkan kebutuhan penggunaan.

"Jadi bukan dalam satu kali tanda tangan loan (pinjaman) kemudian jebret 100% loan dikasih, tapi dikasihnya bertahap. Jadi memang sudah dicek dulu nilai proyek totalnya berapa, dan sudah dikasih komitmen dari pihak Jepang untuk menggelontorkan dana sejumlah yang diperkirakan dengan cara bertahap," tutur Riska.

Riska mencontohkan, pada proyek fase 1 MRT Jakarta terdapat tiga potongan atau pembagian pendanaan. Tiap potongannya akan menjangkau pendanaan mencapai 2 sampai 3 tahun.

"Jadi misalnya, pertama atau loan slice pertama itu nanti bisa mengakomodir 2 tahun atau 3 tahun. Nanti berikutnya, karena pembangunan MRT ini jangka panjang ya, bisa 6 atau bahkan bisa sampai 8 tahun gitu ya, tergantung kompleksitasnya juga," ujar Riska memberikan contoh.

"Jadi, pihak Jepang akan membagi ke dalam beberapa loan agreement yang masing-masing punya time frame grace period 10 tahun dan pembayaran cicilannya selama 30 tahun," imbuh dia menandasi.

Siapa JICA?

Sebagai informasi, JICA merupakan lembaga pemerintah Jepang yang memberikan bantuan pembangunan resmi kepada negara berkembang untuk mendorong kemajuan sosial dan ekonomi.

Diketahui, JICA menyediakan bantuan keuangan dan teknis dalam berbagai sektor pembangunan, seperti infrastruktur, lingkungan, dan sumber daya manusia, serta mempromosikan kolaborasi antara Jepang dan negara-negara berkembang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6