Cerita Asy'ari Rela Jalan Kaki dari Sukabumi ke Jakarta Ikut Demo di DPR: Rakyat Sudah Kecewa

Asy'ari hanya berbekal baju, air minum dan sedikit uang untuk untuk membeli makanan di jalan. Jika sudah lelah, dia beristirahat di masjid.

Diperbarui 25 Agustus 2025, 13:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Asy'ari jalan kaki dari Sukabumi ke DPR untuk demo.
  • Dia kecewa pada kondisi bangsa dan kinerja DPR yang dinilai tidak berpihak rakyat.
  • Asy'ari ingin menyuarakan aspirasi rakyat yang merasa dikekang dan tidak berdaya.

Liputan6.com, Jakarta - Seruan unjuk rasa di depan Gedung DPR juga sampai ke telinga, Asy'ari (27). Ajakan itu mulanya menggema di media sosial sejak beberapa waktu terakhir.

Tanpa perlu berpikir lama, dia mantapkan hati ikut berdemo. Pedagang bubur itu memilih tak berjualan hari ini. Dia putuskan berjalan kaki dari tempat tinggalnya di Sukabumi menuju Jakarta.

Semangatnya menggebu, satu buah Bendera Merah Putih diingkatkan di kayu, menemani perjalananya sejak Minggu (24/8/2025) siang kemarin. Sepanjang perjalanan menuju DPR, bendera itu terus dia genggam. Di lehernya, dikalungkan kardus bertuliskan 'Merah Putih Memanggil 25 Agustus 2025 Rakyat Merdeka'.

"Saya jalan kaki dari Sukabumi, Kalapanunggal di bawah kali Gunung Salak kemarin siang saya jalan kaki. Saya tidak terafiliasi kelompok manapun," katanya kepada awak media, di Gedung DPR DPR.

Rakyat Sudah Kecewa

Sebenarnya, kata Asy'Ari, banyak yang melarang aksinya berjalan kaki ke DPR. Tetapi tekadnya sudah bulat. Sebagai rakyat, dia merasa suara dan jeritan hatinya butuh didengar. Bukan sekadar menyaksikan debat kusir di media sosial.

"Ini aksi pertama saya karena selama ini saya hanya menonton di sosial media dan karena ada info aksi 25 Agustus, saya terpanggil saya tidak bersama organisasi atau lembaga apa pun," ujarnya.

Tak hanya itu. Sebagai masyarakat kelas bawah, dia merasa kecewa dengan kondisi bangsa ini. Semakin miris, di kala rakyat terhimpit, DPR malah asyik menikmati gaji dan sederet tunjangan yang bernilai fantastis.

"Saya membawa satu cita-cita yaitu keberanian. Keinginan saya masyarakat harus bersatu menyuarakan pendapatnya, berani menjadi bangsa berdaulat supaya kita bisa menentukan nasib kita," katanya.

Diakuinya, rakyat sudah kerap merasakan kekecewaan. Terlebih pada sekelompok orang yang mengaku sebagai wakil mereka di parlemen. Sampai terkadang, katanya, ada suara-suara lirih yang merasa menyesal terlahir sebagai bangsa Indonesia.

"Mereka kecewa, bukan karena tidak cinta dengan Indonesia, tapi mereka ingin mengatakan kebebasan rakyat dikekang dalam ketidakberdayaan. Keinginan masyarakat untuk membubarkan DPR itu sebenarnya bentuk aspirasi kecewa," ujarnya.

Siap Berdemo Hari Ini

Diakuinya, rakyat sudah kerap merasakan kekecewaan. Terlebih pada sekelompok orang yang mengaku sebagai wakil mereka di parlemen. Sampai terkadang, katanya, ada suara-suara lirih yang merasa menyesal terlahir sebagai bangsa Indonesia.

"Mereka kecewa, bukan karena tidak cinta dengan Indonesia, tapi mereka ingin mengatakan kebebasan rakyat dikekang dalam ketidakberdayaan. Keinginan masyarakat untuk membubarkan DPR itu sebenarnya bentuk aspirasi kecewa," ujarnya.

Kondisi Depan Gedung DPR

Diakuinya, rakyat sudah kerap merasakan kekecewaan. Terlebih pada sekelompok orang yang mengaku sebagai wakil mereka di parlemen. Sampai terkadang, katanya, ada suara-suara lirih yang merasa menyesal terlahir sebagai bangsa Indonesia.

"Mereka kecewa, bukan karena tidak cinta dengan Indonesia, tapi mereka ingin mengatakan kebebasan rakyat dikekang dalam ketidakberdayaan. Keinginan masyarakat untuk membubarkan DPR itu sebenarnya bentuk aspirasi kecewa," ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6