Liputan6.com, Jakarta Sekolah Garuda Baru merupakan sekolah setara sekolah menengah atas, sebagai investasi jangka panjang dalam mempersiapkan generasi unggul yang menguasai sains-teknologi, dan berwawasan global, serta memiliki kepekaan lokal. Program ini membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berdaya saing dan berkomitmen membangun negeri.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) berusaha mencari lokasi lahan yang akan dijadikan sekolah Garuda Baru. Targetnya, sampai 2029 akan dibangun 20 sekolah Garuda Baru.
Pada 2025, rencananya akan ada empat sekolah akan dibangun di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Belitung Timur, Bangka Belitung, Nabire, Papua Tengah, dan rencananya di Bengkulu.
Advertisement
Guna menyukseskan rencana dan memastikan pembangunan sekolah Garuda Baru sesuai tujuan, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie turun langsung meninjau calon lokasi lahan sekolah Garuda Baru di Bengkulu. Diketahui, Bengkulu memiliki lima lokasi calon lahan yang akan digunakan untuk sekolah Garuda Baru.
Adapun lima lokasi calon lahan yang akan dijadikan sekolah Garuda Baru di Bengkulu tepatnya Kabupaten Rejang Lebong, di antara Desa Mojorejo, Kecamatan Selupu Rejang. Selain itu lokasi empat lokasi lainnya berada di Desa Air Bening, Desa Tebat Tenong Luar dan dua di Desa Dataran Tapus, Kecamatan Bermani Ulu Raya.
Bertolak dari Kota Bengkulu menuju Kabupaten Rejang Lebong, Stella Christie didampingi Pj Sekda Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, Bupati Rejang Lebong HM Fikri Thobari, Wakil Bupati Rejang Lebong, Hendri, mendatangi lima lahan calon lokasi pembangunan sekolah Garuda Baru. Butuh waktu perjalanan darat sekitar tiga jam, akhirnya Stella menginjakan kakinya di lokasi yang berada di Desa Mojorejo, Kecamatan Selupu, Rejang Lebong.
Stella yang tampak mengenakan topi, terkesima saat berada di lokasi lahan Desa Mojorejo. Lokasi tersebut berada di atas bukit bersentuhan langsung dengan Danau Mas. Disuguhkan pemandangan alam yang cantik, Stella memperhatikan setiap sudut lahan yang akan dijadikan lokasi sekolah Garuda Baru.
“Seperti biasa, saya langsung turun ke lapangan untuk mengecek dan pada nantinya, untuk bisa menganalisa dan memutuskan apakah lokasinya cocok untuk dijadikan sekolah Garuda,” ujar Stella, Rabu (21/8/2025).
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5323692/original/010037900_1755823782-20250820_153351.jpg)
Menggunakan sepeda motor, Stella tampak terhanyut melihat lokasi lahan yang masih menyatu dengan alam. Roda motor terus berputar menyusuri setiap jalan dan sudut lahan yang akan dinilai dijadikan pembangunan sekolah Garuda Baru.
“Udaranya juga sejuk untuk pendidikan sangat baik sekali. Kita juga melihat bahwa di sini ada potensi yang sangat besar untuk menjadikan daerah wisata yang akan membangun antara pendidikan dan perekonomian masyarakat sekitar, ini juga menjadi salah satu tujuan kami,” jelas Stella.
Di benak Stella masih teringat pesan Presiden Prabowo, lahan yang akan dijadikan sekolah Garuda Baru bukan hanya membangun sekolah berkualitas sangat tinggi dan memberikan akses bagi putra-putri terbaik bangsa tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Sekolah Garuda Baru diharapkan dapat membangun perekonomian di daerah lokalnya.
“Untuk bangunannya, spesifikasinya akan sama, berarti 20 hektare (lahan), bangunannya hanya dua hektare tetapi untuk arsitekturnya, untuk estetiknya akan berbeda-beda,” terang perempuan yang mengenakan kacamata tersebut.
Sekolah Garuda Baru akan memperhatikan kebudayaan daerah dan arsitektur vernakular. Indonesia kaya akan arsitektur dari segi estetik dan teknis.
“Jadi setiap daerah nanti akan berbeda-beda bentuknya walaupun spesifikasinya akan sama,” tegas Stella.
Usai meninjau calon lokasi lahan di Desa Mojorejo, perempuan lulusan University Harvard ini melanjutkan perjalanan ke empat lokasi lain di Kecamatan Kecamatan Bermani Ulu Raya. Pada empat lokasi tersebut, masih berupa lahan kosong dipenuhi tanaman liar dan bekas sarana olahraga, seperti lapangan sepak bola dan panjat tebing.
“Bapak Presiden menginginkan agar kita membuat sekolah yang menjadi inkubator pemimpin bangsa, di mana siswanya berasal dari seluruh pelosok Indonesia,” terang Stella.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5323693/original/058078200_1755823783-20250820_111256.jpg)
Rencananya, siswa yang akan mengenyam pendidikan di sekolah Garuda Baru akan menjalani seleksi nasional. Adapun seleksi penilaian meliputi prestasi akademik, latar belakang ekonomi, latar belakang geografi.
“Untuk latar belakang geografi, artinya kita memberikan poin tambahan untuk mereka yang berasal dari daerah sekitar. Misalnya kalau jadi sekolah Garuda ini dibangun di Bengkulu, mereka yang berasal dari Bengkulu akan mendapatkan poin tambahan,” ucap Stella.
Stella turut menyinggung tes akademik mulai mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Alasannya, ingin memberikan kesempatan yang adil karena mata pelajaran tersebut merupakan pengetahuan umum.
“Kalau kita tes nanti IPA atau Biologi, kadang-kadang di daerah tidak ada guru fisika atau guru biologi, tetapi Matematika setidaknya walaupun tidak ada yang sempurna, Matematika itu diajarkan di seluruh daerah sehingga kita membuat tes yang seadil-adilnya,” ungkap Stella.
Asa di lubuk hati Stella yang paling dalam memiliki tekad untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa. Rencananya apabila lokasi lahan calon sekolah Garuda Baru di Bengkulu dapat terealisasi, maka pada 2027 telah dilaksanakan proses pendidikan ataupun pembelajaran.
“Ini harus selesai untuk tahun ajaran 2027 bangunannya, kita harus secepat-cepatnya,” kata Stella.
Alam yang indah dan kehidupan masyarakat di lokasi calon lahan pembangunan sekolah Garuda Baru, seakan memberikan pesan tersirat untuk tidak melupakan masyarakat sekitar. Stella memahami akan pesan tersebut, untuk melibatkan masyarakat akan keberadaan sekolah Garuda Baru kelak yang akan dibangun.
“Dari rancangan kami bahwa perekonomian lokal ini penting sekali, jadi di dalam sekolah Garuda misalnya untuk keamanan, untuk kantin itu semua akan menggunakan lokal, tetapi dari awal pun kita akan menggunakan lokal,” kata Stella.
Rencananya pembangunan maupun penyelenggaraan sekolah Garuda akan melibatkan universitas. Stella meyakini, Dosen Universitas lokal merupakan pakar-pakar yang mengetahui struktur seperti air, pertanahan, kebudayaan di lokasi sekolah Garuda Baru.
“Tentu saja ini adalah amanah langsung dari Bapak Presiden yang memikirkan secara pribadi, bahwa ini semua memang harus kita lakukan untuk membangun SDM sains dan teknologi kita,” tutur Stella.
Masih di lokasi yang sama, Bupati Rejang Lebong, HM Fikri Thobari tampak memperhatikan secara khidmat dan berusaha memahami arahan Wamendiktisaintek, Stella Christie. Seakan membaca alam pikirannya, tujuan pembangunan sekolah Garuda Baru, seakan sejalan dengan keinginannya, mengembalikan Marwah Kabupaten Rejang Lebong sebagai bagian dari pusat pendidikan di Indonesia.
“Marwah pendidikan itu sebenarnya dasarnya ada di Rejang Lebong. Rejang Lebong ini merupakan kabupaten tua, malahan lebih tua dari Provinsi Bengkulu. Dulu masyarakat Provinsi Bengkulu ini dan sebagian dari Sumatera Selatan itu, sekolahnya di Rejang Lebong,” ujar Fikri.
Fikri memiliki asa untuk dapat mengembalikan kembali marwah pendidikan ke Rejang Lebong. Adanya sekolah unggulan seperti Garuda Baru menjadi salah satu pintu jalan akan pendidikan untuk masyarakat Rejang Lebong.
“Adanya Sekolah Unggulan Garuda, di sini juga ada beberapa destinasi wisata, kami meyakinkan ini akan multiplier efek ekonomi sekitar sini akan bangkit secara otomatisnya,” ucap Fikri.
Pria yang pernah menjabat sebagai Presiden Direktur PT Bukit Juvi Group pada 2014 ini menjelaskan, sekolah Garuda secara tidak langsung mengangkat ekonomi masyarakat, mulai dari wisata maupun penginapan. Terlebih, para orang tua yang anaknya sekolah di Garuda Baru, dapat membawa pesan baik, sehingga menarik minat masyarakat berkunjung ke Rejang Lebong.
“Sehingga dari kabupaten mereka ataupun Provinsi mereka (pengunjung), produk UMKM kita di sini bisa terjual,” ujar Fikri.
Sebagai catatan, sekolah Garuda Baru adalah sekolah yang dibangun dari nol di wilayah 3T dan daerah minim akses pendidikan unggul. Sekolah dirancang sebagai ekosistem pembelajaran inklusif dengan kurikulum berbasis data, fasilitas efisien yang mengoptimalkan kognisi pelajar, dan program pengabdian masyarakat sebagai aspek integral.
Setiap Sekolah Garuda Baru menerima 160 siswa per tahun, dan akan mulai beroperasi di tahun ajaran 2026/2027. Sebanyak 80 persen siswa akan melalui jalur beasiswa penuh dan 20 persen melalui jalur paralel. Seleksi penerimaan siswa baru Sekolah Garuda akan memberikan prioritas bagi siswa-siswi dari daerah 3T.
Mayoritas anak didik Indonesia belum mencapai potensi terbaiknya. Indeks kapital manusia (Human Capital Index) Indonesia di angka 0.54, menunjukkan bahwa saat ini anak Indonesia diprediksi hanya mampu meraih 0,54 persen dari potensi utuh.
Pada tahun 2024, hanya ada 143 lulusan SMA sebagai penerima Beasiswa Indonesia Maju (BIM) pertahun, berkuliah di 100 universitas terbaik dunia atau 0,004 persen dari total lulusan SMA di Indonesia. Bahkan Kalimantan, Sulawesi, Bali Nusra, Maluku, dan Papua, hanya satu sekolah atau bahkan tidak ada yang lolos.
Selain itu, dari 284 juta warga negara, pelajar Indonesia hanya terdapat 62.800, pelajar Indonesia di kancah global. Sedangkan Tiongkok ada 1 juta, India 622 ribu, bahkan Nigeria 112 ribu dengan jumlah warganya hanya 232 juta.
Indonesia juga hanya menyumbang 0,29% total paten hasil penelitian di dunia, dimana 85% paten Indonesia masih berasal dari SDM asing. Untuk itu, pemerintah terus berkomitmen melanjutkan salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), dengan dimulainya Sekolah Garuda yang dapat membuka akses dan kesempatan anak didik, bibit, talenta, sains-teknologi bangsa masuk ke universitas terbaik dunia.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668432/original/066093000_1782703201-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T101610.906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5323691/original/031784300_1755823780-20250820_110801.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1372310/original/053119400_1476320834-bengkulu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884477/original/ACg8ocJREsAsdQaP_nhdAJL-16rqd-zqi89ZLO-R1BdRN3rTTbRJxRA%3Ds200.png)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452334/original/003376600_1782349228-ney.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668326/original/051794500_1782703035-AP26179791541483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259121/original/085743200_1781464083-063_2281573951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5241643/original/000306500_1749004088-AP25154539148672.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5670758/original/072402600_1778449216-WhatsApp_Image_2026-05-10_at_21.59.40.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5648287/original/008386100_1778259172-IMG-20260508-WA0002.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571931/original/042926300_1777713379-IMG_0751.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5574035/original/033600400_1777959862-tergulung_banjir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571972/original/031425700_1777717281-perampokan_lubuklinggau.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528293/original/017619100_1773273894-Penampakan_tumpukan_uang_dari_terdakwa_korupsi_tambang_di_Bengkulu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5527889/original/018940700_1773217038-KPK_Tanjung.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5315879/original/077966800_1755175028-20250814-Asep_Guntur-HEL_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5527118/original/086054700_1773182444-7.jpg)