Fakta-Fakta Miris Bocah Raya Meninggal dengan Cacing Bersarang di Tubuh, Sampai Bikin Dedi Mulyadi Minta Maaf

Sebelum meninggal dunia, Raya sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R Syamsudin Sh (Bunut). Mirisnya, biaya perawatan Raya tidak bisa ditanggung pemerintah daerah karena alasan tak memiliki identitas.

Diperbarui 20 Agustus 2025, 14:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Bocah berusia tiga tahun di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, bernama Raya meninggal dunia karena terinfeksi cacing gelang.

Sebelum meninggal dunia, dia sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R Syamsudin Sh (Bunut). Mirisnya, biaya perawatan Raya tidak bisa ditanggung pemerintah daerah karena alasan tak memiliki identitas.

Biaya perawatan Raya akhirnya ditanggung Rumah Teduh & Peaceful Land setelah mendapatkan potongan dari rumah sakit. Total biaya perawatan Raya seharusnya Rp 23 juta. 

"Kami alihkan status perawatannya menjadi tunai, ditanggung oleh Rumah Teduh," kata Iin Achsien, pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land, Selasa (19/8/2025).

Kasus meninggalnya Raya mendapat tanggapan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dedi Mulyadi bahkan menyampaikan permintaan maaf.

Berikut fakta-fakta meninggalnya Raya akibat terinfeksi cacing gelang:

 

Dibawa ke RS Dalam Kondisi Tak Sadarkan Diri

Kondisi miris tentang Raya bermula dari cerita Iin Achsien, pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land. Kejadian ini dimulai dari laporan kerabat Raya pada 13 Juli 2025. Awalnya kerabat hanya menyampaikan bahwa Raya sakit sesak napas.

Relawannya segera melakukan asesmen di hari yang sama. Saat tiba, kondisi Raya sudah tidak sadarkan diri. Penyakit cacingan akut yang diderita Raya baru diketahui setelah ia dibawa ke RSUD R Syamsudin Sh (Bunut).

"Kondisinya sudah drop, langsung dimintakan masuk ke PICU (Pediatric Intensive Care Unit)," kata Iin, Selasa (19/8/2025).

Ketua Tim Penanganan Keluhan RSUD R Syamsudin SH, dr Irfanugraha Triputra menuturkan, Raya tiba di IGD RSUD R Syamsudin SH pada 13 Juli 2025 sekitar pukul 20.00 WIB dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri. Dia dibawa menggunakan ambulans oleh tim relawan Rumah Teduh.

“Menurut pihak keluarga, sehari sebelumnya Raya hanya mengalami gejala demam, batuk, dan pilek,” ujar dr Irfanugraha dikonfirmasi.

Awalnya dokter menduga ketidaksadaran Raya disebabkan oleh meningitis TB atau komplikasi dari TBC paru. Sebab Orang tua Raya juga sedang menjalani pengobatan TBC. Namun dugaan itu berubah saat dokter melihat cacing keluar dari hidung Raya selama observasi di IGD.

"Kemungkinan tidak sadarnya ada dua, antara faktor TBC atau karena infeksi cacing," jelas dr Irfan.

Selain tidak sadarkan diri, kondisi vital Raya juga tidak stabil, terutama tekanan darahnya. Setelah penanganan awal untuk menstabilkan kondisi, Raya segera dirawat di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) setelah dikonsultasikan dengan spesialis anak.

Cacing Menyebar hingga Paru-Paru dan Otak

Selama perawatan, kondisi Raya tidak membaik. Menurut Irfanugraha, infeksi cacing gelang (ascaris) yang dialaminya sudah sangat parah dan menyebar ke organ vital, seperti paru-paru dan otak.

Dia menjelaskan, keluarnya cacing dari hidung menandakan bahwa cacing sudah menjalar hingga saluran pernapasan atau saluran pencernaan bagian atas.

"Ini cenderung terlambat. Cacingnya sudah banyak sekali di dalam pencernaan dan sudah berukuran besar-besar," terang dia.

Kondisi ini membuat penanganan medis menjadi sangat sulit. Raya mengembuskan napas terakhirnya pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB, tanpa sempat dipulangkan dari rumah sakit. Raya meninggal di RSUD R Syamsudin SH setelah dirawat selama sembilan hari.

Tak Bisa Dibantu Pemda karena Raya Tidak Punya Identitas

Iin Achsien, pendiri Rumah Teduh & Peaceful Land sempat menceritakan, saat berusaha menyelamatkan Raya, timnya dihadapkan pada kendala besar. Raya tidak memiliki identitas.

Pihak rumah sakit memberikan kesempatan 3x24 jam untuk mengurus BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) agar biaya perawatan bisa ditanggung pemerintah. Meskipun dalam perjalanannya, perjuangan mengurus dokumen tersebut menemui jalan buntu.

"Kita langsung ke Disdukcapil, diarahkan ke Dinas Sosial karena orang tuanya ada keterbelakangan mental. Dari sana diarahkan ke Dinas Kesehatan, dan akhirnya Dinas Kesehatan angkat tangan," jelasnya.

"Waktunya sudah habis 3 hari berturut-turut, tidak ada tanggapan apapun," tambahnya.

Akibatnya, tenggat waktu dari rumah sakit pun terlewat. Meskipun hubungan dengan RSUD Bunut sangat baik dan rumah sakit telah memberikan kelonggaran biaya selama tiga hari awal, aturan tetap harus dipatuhi.

"Kami alihkan status perawatannya menjadi tunai, ditanggung oleh Rumah Teduh," kata Iin.

Iin menyebutkan total tagihan perawatan Raya mencapai Rp 23 juta lebih, yang akhirnya mendapatkan diskon dan sisa tagihan dibebaskan setelah pembayaran awal.

Orang Tua ODGJ

Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, memberikan penjelasan lebih dalam mengenai kondisi keluarga Raya. Dia membenarkan bahwa kedua orang tua Raya mengalami gangguan jiwa (ODGJ), sehingga pengasuhan terhadap Raya kurang optimal.

"Anak itu sering main di kolong sama ayam karena rumahnya panggung. Anaknya untuk jalan juga agak lambat, terus dia punya sakit demam. Sudah diperiksa ke klinik terdekat, ternyata dia punya penyakit paru," kata Wardi.

Wardi menjelaskan bahwa pemerintah desa sudah berupaya maksimal untuk membantu keluarga tersebut.

"Desa sudah berusaha semaksimal mungkin. Ada bantuan dari pemerintah, baik dari Dinkes maupun dari DD (Dana Desa). Bahkan sempat sehat anak tersebut, timbangan naik karena dikasih PMT (Pemberian Makanan Tambahan) yang ada setiap hari," ungkapnya.

Dia juga menambahkan bahwa rumah keluarga tersebut sempat hancur dan dibangun kembali oleh warga dan pemerintah desa. Ironisnya, karena faktor ODGJ, alas rumah panggung mereka sempat dirusak menjadi bahan bakar untuk memasak.

Menurut Wardi, keluarga Raya tidak langsung membawa bocah itu ke rumah sakit saat kondisi memburuk.

"Mungkin mereka tidak menyangka kalau Raya sudah dalam keadaan sekarang itu," katanya.

Dia baru mengetahui kondisi parah Raya setelah berita viral dan langsung berkoordinasi dengan Rumah Teduh untuk pemakaman.

Dedi Mulyadi Prihatin dan Minta Maaf

Dedi Mulyadi menyampaikan rasa prihatin dan meminta maaf atas kondisi yang dialami Raya hingga akhirnya meninggal dunia.

"Saya menyampaikan prihatin dan rasa kecewa yang mendalam, serta permohonan maaf atas meninggalnya seorang balita berusia 3 tahun, dan dalam tubuhnya dipenuhi cacing," kata dia seperti dikutip dalam akun Instagramnya @dedimulyadi71, Rabu (20/8/2025).

Dedi mengaku sudah berkomunikasi dengan dokter yang menangani jenazah Raya. Dia juga mengaku sudah mendapatkan laporan soal kondisi keluarga Raya.

"Ibunya mengalami gangguan kejiwaan atau ODGJ, dia sering dirawat oleh neneknya, dan bapaknya mengalami penyakit paru-paru,TBC. Dan dia sejak balita terbiasa di kolong rumah itu bersatu dengan ayam dan kotoran. Sehingga dimungkinkan dia seringkali, tangannya tidak pernah dicuci, mulutnya kemasukan cacingan, sehingga menimbulkan cacingan yang akut," ungkap dia.

Melihat kondisi keluarga dan korban inilah yang membuat Politikus Gerindra itu geram, khususnya ke aparatur desa Cianaga tersebut.

Dedi Mulyadi pun mempertimbangkan akan memberikan sanksi baik itu ke tim penggerak PKK, Kepala Desa, maupun Bidan Desa akibat peristiwa tersebut.

"Untuk itu perhatian untuk semua dimungkinkan saya aan memberikan sanksi bagi desa tersebut karena fungsi-fungsi, PKK-nya tidak jalan, fungsi Posyandunya tidak berjalan, dan fungsi kebidanannya tidak berjalan," ungkap dia.

"sanksi-sanksi akan kami berikan ke siapapun dan daerah manapun yang terbukti tidak memberikan perhatian ke masyarakat. dan selanjutnya kami melakukan langkah-langkah penanganan kepada keluarga tersebut," jelasnya.

Respons Kemenkes

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan, pihaknya sedang menelusuri lebih jauh dugaan kelalaian di rumah sakit yang sempat menangani korban.

"Kami perlu tahu dulu situasi dan masalah di RS dan pasien," kata Aji kepada Liputan6.com, Rabu (20/8/2025).

Aji menegaskan, rumah sakit seharusnya tak boleh menunda pelayanan medis hanya karena persoalan administratif. Jika pasien dalam keadaan darurat, pertolongan harus segera diberikan.

"Pelayanan harus tetap berjalan sambil administrasi dilengkapi," katanya.

Dia juga menyoroti peran penting pemerintah daerah dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dalam memastikan layanan kesehatan di daerah berjalan optimal.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6