Hari-Hari Terakhir Prada Lucky: Disiksa, Kabur, Sekarat hingga Meninggal di Tangan Seniornya

Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), prajurit TNI AD meninggal, diduga disiksa seniornya. Hari-hari terakhirnya dijalani dengan menahan kesakitan hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Diperbarui 12 Agustus 2025, 12:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cerita ini datang dari ibunda Prada Lucky, Sepriana Paulina Mirpey. Hari-hari terakhir prajurit TNI yang tragis. Hari itu, Sepriana berkali-kali mencoba menghubungi sang anak melalui telepon genggam.

Panggilan itu tak pernah terjawab. Hanya terdengar pesan suara yang menyebut nomor yang dihubungi berada di luar jangkauan. Khawatir dengan Kondisi sang anak, Sepriana mengubungi Dasintel (Komando Daerah Intelijen)  Batalyon TP 834 Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Dia berharap bisa berkomunikasi dengan anaknya. Namun harapannya pupus. Sepriana tak bisa mendengar suara anaknya. Dasintel hanya mengabarkan bahwa Prada Lucky baik-baik saja. 

"Dasintel membohongi saya. Dia bilang lucky sehat. Saat saya minta bicara dengan Lucky, dia selalu alasan kalau Lucky sedang istrahat. Padahal saat itu, Lucky sudah sekarat," cerita Sepriana, akhir pekan lalu.

Disika dan Kabur dari Barak

Sepriana terkejut. Tiba-tiba mendapat sambungan video dari telepon genggam milik ibu angkat Prada Lucky. Dari panggilan video itu, Sepriana melihat sekujur tubuh sang anak penuh dengan luka.

Luka itu sudah diobati oleh ibu angkat Prada Lucky. Namun rasa sakitnya tak bisa hilang. Dari pembicaraan itu Sepriana mengetahui, anaknya kabur dari barak lantaran disika seniornya.

"Lucky pinjam handphone mama angkatnya untuk video call. Saya kaget karena badannya penuh luka. Lucky bilang, kalau dia dianiaya seniornya," ungkap Sepriana.

Prada Lucky sempat cerita ke ibu angkatnya saat pertama kali disiksa oleh para seniornya di markas tentara.

"Dia bilang, mama saya dicambuk. Dia lari ke bawah, ke mama angkatnya, ke badannya telah hancur semua. Dari tangan dua-dua, kaki, belakang," jelas Sepriana.

Dijemput Seniornya Lalu Dipukuli Lagi

Ibu angkatnya yang mendengar banyak kisah pilu dialami Prada Lucky. 

"Kata Lucky, dia dipukul oleh Bamak (Badan Pembinaan Hukum Militer) dan Dasintel (Komando Daerah Intelijen). Namun, Lucky tak sempat menyebut nama pelaku secara spesifik," kata Sepriana.

Tak lama setelah berbincang dengan sang anak, telepon milik ibu Prada Lucky berdering. Ternyata datangnya dari batalyon. Di ujung telepon, seseorang meminta bantuan sang ibu untuk membujuk Prada Lucky agar mau kembali ke barak. 

Sepriana tidak berpikiran buruk saat itu. Dia mengambil telepon genggamnya dan menghubungi ibu angkat Lucky. Dia menitipkan pesan untuk Prada Lucky agar kembali ke barak.

"Karena saya kira pembinaan biasa, sehingga saya telpon lewat mama angkatnya suruh Lucky kembali ke barak," katanya.

Sesaat kemudian, datang 15 orang berperwakan tentara. Mereka mendatangi rumah ibu angkat Prada Lucky. Ternyata mereka adalah senior Prada Lucky di Batalyon TP 834 Wakanga Mere. 

Mereka datang menjemput Prada Lucky untuk dibawa kembali barak. Momen itu menjadi momen terakhir Prada Lucky bersama keluarga yakni ibu angkatnya. Setelah kembali ke barak, Prada Lucky diduga kembali disiksa oleh seniornya. Hingga tak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit.

Sekarat di RS Hingga Meninggal

3 Agustus 2025

Prada Lucky dibawa ke RSUD Aeramo, Nagekeo untuk menjalani perawatan intensif. Prada Lucky hanya terbaring lemah, tak sadarkan diri. Luka-luka membuat tubuhnya tak bisa bergerak sedikit pun.

Di tengah kondisi putranya yang kritis, sang ibu, Sepriana akhirnya tiba. Sepriana menyaksikan langsung kondisi anaknya hanya bisa terbaring di atas kasur rumah sakit. Badannya penuh luka.  

Dia mendekat, memeluk tubuh anaknya yang penuh memar, dan membisikkan kata kata penuh cinta. "Saat saya tiba, Lucky sudah tidak sadar, tapi saat dengar suara saya dia langsung meronta," ungkapnya.

 

Rabu, 6 Agustus 2025

Prada Lucky mengembuskan Napas terakhir di RSUD Aeramo, Nagekeo setelah menjalani perawatan selama empat hari.

 

Kamis, 7 Agustus 2025

Jenazah Prada Lucky tiba di kampung halaman dan disemayamkan di rumah duka selama dua hari.

 

Sabtu, 9 Agustus 2025

Jenazah Prada Lucky Chepril Saputra Namo dimakamkan dengan upacara kemiliteran.

Empat Senior Ditetapkan Tersangka

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen Wahyu Yudhayana menjelaskan, TNI telah menetapkan empat prajurit sebagai tersangka dalam kasus kematian Prada Lucky Namo. Keempat tersangka tersebut adalah Pratu AA, Pratu EDA, Pratu PNBS, dan Pratu ARR. Mereka sebelumnya telah ditahan di Ruang Sel Tahanan Subdenpom IX/1-1 Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

"20 orang terperiksa, sudah ditentukan penetapan 4 tersangka,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen Wahyu Yudhayana.

Identitas lengkap keempat tersangka yang diduga menyiksa Prada Lucky dengan tangan kosong adalah Pratu Petris Nong Brian Semi, Pratu Ahmad Adha, Pratu Emiliano De Araojo, dan Pratu Aprianto Rede Raja.

Keempatnya merupakan senior dari Prada Lucky di tempatnya bertugas. Meskipun demikian, pihak berwenang belum merinci secara pasti kronologi penganiayaan maupun pasal yang akan dikenakan kepada para tersangka, menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut dan pengembangan kasus.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6