Program Lab Komputer Keliling di Wilayah 3T, Pastikan Tak Ada Anak Bangsa Tertinggal

Program Lab Komputer Keliling (Lakoling) jadi solusi nyata dalam menjembatani kesenjangan akses teknologi dan literasi digital anak bangsa, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (wilayah 3T).

Diperbarui 27 Juni 2025, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • PTSI tegaskan komitmen bangun berkelanjutan lewat program TJSL.
  • Lakoling jembatani kesenjangan akses teknologi di wilayah 3T.
  • PTSI salurkan laptop dan sembako untuk dukung pendidikan.

Liputan6.com, Jakarta - PT Surveyor Indonesia (PTSI),kembali menegaskan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Salah satu inisiatif unggulannya adalah program Lab Komputer Keliling (Lakoling) yang hadir sebagai solusi nyata dalam menjembatani kesenjangan akses teknologi dan literasi digital, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (wilayah 3T).

"Menyalakan semangat belajar, menguatkan akses pendidikan digital untuk semua," ujar Direktur Sumber Daya Manusia PT Surveyor Indonesia Lussy Ariani Seba melalui keterangan tertulis, Kamis (26/6/2025).

Dia menjelaskan, program Lakoling telah memberikan pelatihan literasi digital langsung kepada siswa-siswi dan masyarakat di daerah terpencil, termasuk di SDN Riung Gunung, dengan melibatkan tokoh inspiratif lokal, Asep Iqbal Rohmana yang secara konsisten berkeliling mengajarkan keterampilan komputer kepada anak-anak sekolah dasar, siswa putus sekolah, serta berbagai penerima manfaat lainnya.

"Sejak tahun 2023, Lakoling telah menjangkau 17 kampung, memberikan manfaat kepada lebih dari 300 orang, dan menyalurkan laptop yang dikelola langsung oleh para local heroes," ucap Lussy.

Dalam kegiatan terbaru, lanjut dia, PTSI kembali menyalurkan tambahan unit laptop, sebagai bagian dari upaya memperluas akses digital.

Menurut Lussy, tak hanya fokus pada teknologi, kepedulian PTSI terhadap kesejahteraan pendidikan juga diwujudkan melalui penyaluran bantuan sembako kepada 118 siswa kelas 1–6 dan 11 guru serta petugas sekolah.

"Ini merupakan bentuk nyata komitmen sosial perusahaan untuk mendukung lingkungan belajar yang lebih baik, nyaman, dan inklusif. Langkah ini merupakan bentuk pengabdian mereka kepada masyarakat," kata Lussy.

 

Pastikan Tak Ada Anak Bangsa Tertinggal

Lussy menegaskan, program Lakoling tidak akan terwujud tanpa dukungan, kerja keras, dan kolaborasi dari berbagai pihak, baik dari internal PTSI maupun para mitra lokal.

"Inilah bentuk nyata komitmen kami dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui TJSL, khususnya di sektor pendidikan dan pemberdayaan masyarakat," ucap dia.

"Kami ingin memastikan bahwa tidak ada anak bangsa yang tertinggal dalam akses terhadap pembelajaran berbasis teknologi. Program Lakoling adalah langkah konkret PTSI untuk menjawab tantangan kesenjangan digital, dan bagian dari kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan Nomor 4: Pendidikan Berkualitas," sambung Lussy.

Selain itu, Lussy juga menegaskan kalau PTSI terus berinovasi demi mendukung program pemerintah yang ingin menciptakan masyarakat penuh edukasi.

"Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. Ke depan, PTSI akan terus berinovasi dan memperluas jangkauan program-program TJSL yang berdampak langsung bagi masyarakat," kata dia.

"Bersama, mari kita wujudkan Indonesia yang lebih inklusif, tangguh, dan berdaya saing melalui semangat gotong royong yang berkelanjutan," tutup Lussy.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6