Demo Sopir Truk ODOL Bisa Picu Distribusi Pangan Terhambat, Ini Kata Kepala Bapanas

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menyampaikan sejumlah kerugian sejumlah pihak imbas dari aksi demo aturan truk ODOL tersebut.

Diterbitkan 24 Juni 2025, 17:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Demo sopir ODOL hambat pasokan pangan dan berpotensi menaikkan harga kebutuhan pokok.
  • Kepala Bapanas imbau sopir truk tetap beraktivitas meski menolak aturan.
  • Zero ODOL penting demi keamanan berkendara, hindari kerusakan jalan.

Liputan6.com, Jakarta - Sopir truk ODOL (Over Dimension Over Load) di berbagai daerah melakukan aksi demo menentang aturan baru tentang angkutan barang melebihi ukuran dan muatan.

Gelombang aksi protes ini dikhawatirkan dapat menghambat pasokan pangan, sehingga dikhawatirkan memicu harga kebutuhan pokok naik.

Menanggapi aksi demo sopir ODOL, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menyampaikan justru akan merugikan semua pihak, mulai dari petani dan peternak hingga konsumen.

"Jika tidak mengirim barang petani dan peternaknya susah. Pelaku bisnis truk juga susah, sopirnya juga enggak dapat uang karena enggak kerja," kata Arief usai meninjau SPPG di Pasir Angin, Bogor, Selasa (24/6/2025).

Kerugian lainnya adalah pasokan menjadi terhambat dan dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. Untuk itu, ia menyarankan kepada sopir truk ODOL untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasa meskipun menolak aturan tersebut.

"Karena menolak (aturan) lalu tidak mengirim barang, jangan begitu," ujar Arief.

 

Dukung Zero Truk ODOL

 

Secara pribadi, kata Arief, sangat mendukung program nasional Zero Over Dimension Over Load yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 18 Tahun 2021 tentang pengawasan muatan angkutan barang dan penyelenggaraan penimbang kendaraan bermotor di jalan.

Menurutnya, belajar dari beberapa kasus kecelakaan di sejumlah daerah didominasi truk yang melebihi ukuran dan muatan.

"Keamanan kendaraan jauh lebih penting. Coba lihat kasus kecelakaan truk di Cipularang itu karena apa? Truk rem blong, bisA rem blong, karena over dimension over load," ujarnya.

Tak cuma itu, adanya truk yang dimodifikasi agar bisa memuat barang lebih banyak tersebut mempercepat kerusakan jalan.

"Kemarin saya sudah diskusi khusus dengan Pak Menko. Jalannya jadi cepat rusak, itu biayanya (perbaikan) tinggi. Biasa kapasitas 10 ditambah jadi 20 itu kalau direm juga susah. Makanya ada rem blong," terangnya.

 

Sopir Truk Diminta Memahami Aturan

"Ya terserah mau yang mana, ini pilihan. Menurut saya pribadi aturan itu harus ditaati bukan untuk dilanggar," tambahnya.

Arief berharap semua pihak termasuk para sopir truk dapat memahami aturan ini, karena bukan demi keselamatan dalam berkendara saja tetapi juga memperlancar distribusi pangan.

"Keamanan pangan harus dijaga, keamanan berkendara juga harus dijaga, supply chain juga harus dijaga. Jangan sampai harga naik karena pasokan terhambat karena tidak ada pengiriman. Mendingan naik harganya untuk keamanan untuk berkendara. Karena begitu kecelakaan, cost-nya besar," pungkasnya.

 

Infografis

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6