6 Ucapan Mulai PDIP, Wamensos hingga Presiden Prabowo Saat Pringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni

Setiap tahunnya pada 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila.

Diperbarui 03 Juni 2025, 11:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap tahunnya pada 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum penting untuk merefleksikan kembali nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa.

Lantas, seperti apa ucapan para tokoh saat peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni? Salah satunya DPP PDI Perjuangan (PDIP) yang menggelar Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih, memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni di Halaman Parkir Masjid At Taufiq, Lenteng Agung Jakarta Selatan, Minggu pagi 1 Juni 2025.

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat yang bertindak sebagai inspektur upacara, menyampaikan Pancasila akan selalu jaya dan bersemayam dalam jiwa bangsa Indonesia demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Oleh karena itu, dia mengajak para kader PDIP untuk menjadi Pancasilais sejati dengan turun ke bawah, mendengarkan aspirasi rakyat, serta membantu menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi.

"Marilah kita semua sebagai putra-putra terbaik bangsa, sebagai kader-kader nasionalis Sukarnois, sebagai kader-kader Pancasilais, kita tunjukkan bahwa inilah kader PDIP Perjuangan yang siap untuk turun ke bawah. Yang mendengarkan aspirasi rakyat, bersedia menderita bersama rakyat dan berjuang untuk melepaskan rakyat dari penderitaannya," kata Djarot, Minggu 1 Juni 2025.

Selain itu, Sekretaris Kabinet atau Seskab Teddy Indra Wijaya mengatakan, Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga menjadi kompas moral bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut dia, peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2025 kembali menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk meneguhkan komitmen terhadap nilai-nilai dasar yang mempersatukan Indonesia.

"Pancasila adalah dasar negara sekaligus kompas moral bangsa. Nilai-nilai Pancasila menjadi tuntunan untuk menghadapi berbagai tantangan zaman, yang akan membawa kita kembali ke jati diri sebagai manusia Indonesia," kata Seskab Teddy.

Kemudian, Presiden Prabowo Subianto mengajak semua masyarakat Indonesia menjadikan momentum Hari Lahir Pancasila untuk menjaga persatuan dan tak saling gontok-gontokkan. Menurut dia, hal ini merupakan harapan asing yang tak suka apabila Indonesia kuat dan kaya.

Berikut sedret ucapan para tokoh di peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. Djarot PDIP Ingatkan Pancasila Bukan Hanya Jargon, Tapi Jalan Perjuangan

DPP PDI Perjuangan (PDIP) menggelar Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih, memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni di Halaman Parkir Masjid At Taufiq, Lenteng Agung Jakarta Selatan, Minggu pagi 1 Juni 2025.

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat yang bertindak sebagai inspektur upacara, menyampaikan Pancasila akan selalu jaya dan bersemayam dalam jiwa bangsa Indonesia demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Oleh karena itu, dia mengajak para kader PDIP untuk menjadi Pancasilais sejati dengan turun ke bawah, mendengarkan aspirasi rakyat, serta membantu menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi.

"Marilah kita semua sebagai putra-putra terbaik bangsa, sebagai kader-kader nasionalis Sukarnois, sebagai kader-kader Pancasilais, kita tunjukkan bahwa inilah kader PDIP Perjuangan yang siap untuk turun ke bawah. Yang mendengarkan aspirasi rakyat, bersedia menderita bersama rakyat dan berjuang untuk melepaskan rakyat dari penderitaannya," kata Djarot.

Menurut Djarot, dengan turun ke bawah, para kader PDIP dapat mendengarkan aspirasi rakyat, menyatu dengan kehendak rakyat, serta tampil di garda depan untuk mengorganisir dan memimpin rakyat.

"Memimpin rakyat untuk mendapatkan kebebasannya, mendapatkan kemakmurannya, mendapatkan kesehatannya, meningkatkan pendidikannya. Itulah lautan pengabdian kita," ungkap dia.

Dia mengungkapkan, para kader PDIP harus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Djarot mencontohkan salah satu wujud pengamalan tersebut adalah dengan melawan segala bentuk perilaku korupsi.

"Mereka-mereka yang korupsi sampai miliaran dan puluhan miliar, bahkan ratusan miliar, itu adalah mereka-mereka bukan seorang Pancasilais. Dialah pengkhianat dari Pancasila. Mereka-mereka yang menguasai tambang beribu-ribu hektar dan menyengsarakan rakyat dan merusak lingkungan, itu adalah pengkhianat Pancasila. Maka itu juga harus kita lawan," terang Djarot.

Dia menilai, saat ini masih banyak ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat. Hal inilah yang menjadi dasar dan semangat bagi kita untuk terus berjuang dengan mengaplikasikan Pancasila tersebut.

"Pancasila itu bukan azimat, Pancasila itu bukan jargon. Pancasila itu harus diperjuangkan supaya menjadi realita. Itu yang diinginkan oleh Bung Karno," kata dia.

"Akhirnya, saya menyampaikan dirgahayu Pancasila ke-80 tahun. Jaya dan abadilah Pancasila di bumi Indonesia untuk selama-lamanya," pungkas Djarot.

 

2. Wagub Jakarta Rano Karno Sebut Pancasila Bukan Sekedar Historis dan Teks Normatif, Tapi Ideologis

Wakil Gubernur (Wagub) Jakarta Rano Karno mempimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni setiap tahunnya.

Lewat amanatnya, Wagub Jakarta Rano Karno menegaskan, memperingati momentum Hari Lahir Pancasila adalah sangat penting dalam untuk mengingat sejarah panjang bangsa Indonesia.

"Hari lahirnya Pancasila, kita tidak hanya mengenang rumusan dasar negara, tetapi juga meneguhkan kembali komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Rano di Balai Kota Jakarta, Senin 2 Juni 2025.

Dia menegaskan, Pancasila bukan sekadar dokumen historis atau teks normatif yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945.

Pancasila, kata Rano Karno, adalah jiwa bangsa, pedoman hidup bersama, serta bintang penuntun dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

"Dalam semangat memperkokoh ideologi Pancasila, izinkan saya mengajak kita semua merenungkan kembali bahwa Pancasila adalah rumah besar bagi keberagaman Indonesia. Ia mempersatukan lebih dari 270juta jiwa dengan latar belakang suku, agama, ras, budaya dan bahasa yang berbeda," terang Rano dalam amanatnya.

Dalam Pancasila, lanjut dia, masyarakat Indonesia belajar kebinekaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu.

Menurut Rano Karno, dari sila pertama hingga sila kelima, terkandung prinsip yang menuntun dan membangun bangsa dengan semangat gotong-royong, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Pria karib disapa Doel ini mengingatkan, dalam konteks pembangunan nasional saat ini, pemerintah telah menetapkan Asta Cita sebagai delapan agenda prioritas menuju Indonesia Emas 2045. Salah satu yang paling fundamental adalah memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia (HAM).

"Mengapa ini menjadi prioritas? Karena kita menyadari bahwa kemajuan tanpa arah ideologis akan mudah goyah. Kemajuan ekonomi tanpa pondasi nilai-nilai Pancasila bisa melahirkan ketimpangan. Kemajuan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila bisa menjerumuskan bangsa pada dehumanisasi," wanti dia.

Maka dari itu, Rano mendorong kepada semua pihak untuk memperkokoh ideologi Pancasila dan menegaskan kembali bahwa pembangunan bangsa harus selalu berakar pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Sebab, di era globalisasi dan digitalisasi yang semakin kompleks, tantangan terhadap Pancasila semakin nyata.

"Melalui Asta Cita, kita dipanggil untuk melakukan revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam segala dimensi kehidupan: dari pendidikan, birokrasi, ekonomi, hingga ruang-ruang digital," dia menandasi.

 

3. BPIP Ingatkan Pejabat Harus Jadi Tauladan Nilai Pancasila ke Masyarakat

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2025 yang ke 80 Tahun secara khidmat di Lapangan Gedung Pancasila, Jakarta, Senin 2 Juni 2025.

Acara ini menjadi peneguhan atas komitmen kebangsaan dan pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Upacara dihadiri Presiden Prabowo Subianto selaku Inspektur Upacara, didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Hadir pula Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden ke-6 RI sekaligus Wakil Ketua Dewan Pengarah BPIP, Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno; serta Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Muhammad Jusuf Kalla.

Kepala BPIP Yudian Wahyudi menjelaskan tema Peringatan Tahun 2025 adalah memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya. Momem ini diharapkan mampu menegaskan pentingnya internalisasi nilai Pancasila dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pemerintahan, ekonomi, dan pendidikan.

"Melalui tema ini, kami ingin menegaskan bahwa Pancasila adalah pondasi moral dan etika bagi seluruh penyelenggara negara yang wajib diamalkan untuk membangun integritras, profesionalitas, serta mencegah berbagai praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Selain itu, figur penyelenggara negara harus mampu tampil menjadi subjek tauladan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat," terang Yudian.

Selain itu, Ia juga menyampaikan seruan penting kepada seluruh komponen bangsa untuk memperingati dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Hari ini, kita memperingati 80 tahun Hari Lahir Pancasila. Satu momen historis bangsa untuk memperingati Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, serta pandangan hidup bangsa yang harus diketahui asal-usulnya dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi, sehingga Pancasila senantiasa diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara," jelasnya.

 

4. Wamensos Agus Jabo Ingatkan Soal Cita-Cita dan Tujuan Bangsa

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan bangsa mengamanatkan untuk mencapai kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan rakyat. Ia menilai, tidak boleh ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dalam pembangunan.

"Kita masih punya tugas berat, menurunkan kemiskinan, menghapus ketimpangan, menyediakan jaring pengaman sosial yang kuat dan bermanfaat," tegasnya dalam Upacara Hari Lahir Pancasila di kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Senin 2 Juni 2025.

Agus Jabo mengungkapkan, tugas tersebut harus diselesaikan dengan bekerja dan bukan sekadar berbicara. Menurutnya, tugas itu pun hanya dapat diselesaikan dengan kolaborasi dan keberpihakan, bukan sekadar koordinasi dan peraturan.

"Mari kita jadikan peringatan Hari Lahir Pancasila bukan hanya untuk mengingat tapi untuk bergerak lebih cepat dan luas," ungkapnya.

Agus Jabo pun mengatakan, Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 dari rahim perdebatan, penderitaan, dan cinta mendalam kepada Indonesia. Ia menilai, Pancasila lahir saat rakyat masih tertinggal dan kemiskinan menjadi bagian dari sistem yang menindas.

"Pancasila lahir sebagai jalan tengah yang bijaksana," katanya.

Agus Jabo menjelaskan, Pancasila tidak hanya mempersatukan perbedaan, tapi juga menjanjikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Meski begitu, kemiskinan masih ada usai 79 tahun kemerdekaan.

"Keterbatasan masih menjadi wajah Sebagian rakyat kita, di sinilah Kemensos selalu ada," ucap Agus Jabo.

Agus Jabo mengungkapkan, Kemensos bukan sekadar pelengkap administrasi, tapi sebagai bagian ke depan perjuangan kemanusiaan. Ia pun mengatakan, melalui Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), bantuan sosial akan lebih adil dan tepat sasaran.

"Sekolah rakyat yang menjadi program prioritas juga akan memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi," ungkapnya.

"Kemensos ada lewat sekolah-sekolah yang memberi harapan baru bagi anak-anak luarga miskin ekstrem yang selama ini hanya bisa melihat sekolah dari jauh," jelas Agus Jabo.

Ia pun mengatakan, anak-anak dari keluarga miskin kini bisa segera masuk asrama dan belajar dengan layak di Sekolah Rakyat. Lalu, mereka juga bisa mengejar masa depan.

"Kami ingin menyampaikan rasa bangga dan hormat kami kepada seluruh ASN serta para pegawai Kemensos yang bekerja dalam diam, namun penuh arti," kata Agus Jabo.

Dirinya mengapresiasi para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang menempuh jalan berlumpur dan jembatan gantung untuk memastikan satu keluarga tidak jatuh lebih dalam ke dalam jurang kemiskinan.

Selain itu, Agus Jabo pun mengapresiasi Taruna Siaga Bencana (Tagana), Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), Karang Taruna, Pelopor Perdamaian (Pordam), dan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) yang dianggap memberikan harapan dan rasa dipedulikan.

"Mereka semua adalah wujud nyata dari Pancasila, yang bekerja, bergerak, dan menyentuh langsung bagi rakyat," ujarnya.

Dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, Wamensos Agus Jabo pun membacakan sebuah puisi. Ia pun membacakannya dengan saksama dan penuh haru.

Adapun puisi yang dibacakan Agus Jabo adalah seperti di bawah ini.

Pancasila di Tangan yang Bekerja

Pancasila bukan sekadar silaIa suara hati dan suara jiwadari Sentra Darussa'adah Aceh hingga Balai Kemensos yang ada di PapuaIa hidup dalam tekad bersama

Pancasila hidup dalam keringat petani, nelayan, pemulung, tukang tambal ban, dan calon-calon siswa Sekolah Rakyat

Kami lihat Pancasila di tangan-tangan pendamping sosial yang menyapa

Kami lihat Pancasila di dapur-dapur Tagana yang menanak harapan dari bantuan yang tiba

Kami lihat Pancasila di langkah letih pendamping PKH yang tak pernah mengeluh

Kami juga melihat Pancasila di mata ibu penulung yang berkata lirih: Terima kasih negara telah peduli pada kami

Pancasila bukan sekadar lima sila di kertas kerja

Tetapi Pancasila adalah lima cahaya yang membelah gelapnya luka

Ia tumbuh dalam gerimis Sekolah Rakyat yang tak gentar mengajak anak negeri menatap masa depan yang lebih mandiri

Pancasila bukan sekadar lambangIa adalah tangan yang menghapus air mata, jembatan dari luka ke cita-cita

Pancasila adalah kita untuk selalu menjaga sesama

Memastikan tak ada warga yang bertinggal, tak ada kemiskinan yang dibiarkan kekal

 

5. Seskab Teddy Ingatkan Pancasila adalah Kompas Moral Bangsa

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, Pancasila bukan hanya dasar negara, tetapi juga menjadi kompas moral bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut dia, peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2025 kembali menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa untuk meneguhkan komitmen terhadap nilai-nilai dasar yang mempersatukan Indonesia.

"Pancasila adalah dasar negara sekaligus kompas moral bangsa. Nilai-nilai Pancasila menjadi tuntunan untuk menghadapi berbagai tantangan zaman, yang akan membawa kita kembali ke jati diri sebagai manusia Indonesia," kata dia dalam keterangannya, Senin 2 Juni 2025.

Teddy mengakui, tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, muncul dari dalam maupun luar. Maka dari itu, penguatan karakter kebangsaan berlandaskan Pancasila menjadi pondasi yang harus diperkuat.

Dia pun mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi dalam berpikir, bersikap, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

"Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2025. Mari terus jadikan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi dalam kehidupan sehari-hari kita," Teddy menandasi.

 

6. Prabowo Ajak Rakyat Bersatu dan Hilangkan Gontok-gontokan

Presiden Prabowo Subianto mengajak semua masyarakat Indonesia menjadikan momentum Hari Lahir Pancasila untuk menjaga persatuan dan tak saling gontok-gontokkan. Menurut dia, hal ini merupakan harapan asing yang tak suka apabila Indonesia kuat dan kaya.

"Saya mengajak sekali lagi seluruh rakyat indonesia bersatu. Perbedaan jangan menjadi sumber gontok-gontokkan. Ini selalu yang diharapkan oleh kekuatan kekuatan asing yang tidak suka Indonesia kuat, tidak suka Indonesia kaya," kata Prabowo saat memimpin upacara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin 2 Juni 2025.

Dia menyebut Pancasila menyatukan bangsa Indonesia ditengah keberagaman agama, etnis, dan bahasa. Tak hanya itu, Prabowo menyebut Pancasila juga yang menyatukan rakyat Indonesia di tengah ketidakpastian dunia.

"Ternyata pancasila inilah yang telah memperkenankan untuk bersatu di tengah gelombang dinamika dunia yang begitu penuh ketidakpastian" ujarnya.

Prabowo mengingatkan saat ini dunia dihadapkan dengan ketidakpastian, tantangan globalisasi, distruksi teknologi, perubahan sosial yang cepat, dan konflik antar negara besar. Meski begitu, dia bersyukur Indonesia saat ini menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia.

"Kita bersyukur bahwa kita sekarang sudah mulai merasakan bangsa Indonesia sebagai bangsa ke-4 terbesar di dunia dari segi jumlah penduduk, tapi juga bangsa di dunia yang sudah mencapai ke-16 ekonomi terbesar dan dari tahun ke tahun menuju kekuatan demi kekuatan," kata Prabowo.

Dia meminta masyarakat tak menjadikan Pancasila sekedar slogan dan mantra saja. Prabowo menekankan masyarakat harus menjaga nilai-nilai Pancasila agar Indonesia menjadi negara yang maju.

"Marilah kita yakinkan bahwa Pancasila hidup, Pancasila bukan sekedar mantra. Kita tidak boleh diam manakala nilai-nilai dilemahkan, kita harus menjaga harus membela dan harus meneruskan nilai-nilai tersebut agar negara kita melangkah maju," tutup Prabowo.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6