Jelang Armuzna, Amirul Hajj Bagikan 4 Cara Bersyukur agar Bisa Jadi Haji Mabrur

Amirul Hajj sekaligus Katib Aam PB NU KH. Ahmad Said Asrori membeberkan cara bersyukur yang tepat kepada jemaah haji, salah satunya mengikuti semua aturan dan persyaratan berhaji yang sudah dipahami.

Diterbitkan 02 Juni 2025, 00:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Amirul Hajj sekaligus Katib Aam PB NU KH. Ahmad Said Asrori meminta jemaah haji Indonesia yang berkesempatan menunaikan haji pada tahun ini lebih banyak bersyukur. Pasalnya, mereka lebih dulu dipanggil ke Tanah Suci dibandingkan jemaah haji lain yang juga sudah mendaftar.

"Bapak, Ibu, panjenengan rawuh (bisa) ke sini harus disyukuri karena ini nikmat yang luar biasa. Banyak saudara kita itu sudah daftar, nanti berangkatnya tahun 2057. Kalau hari ini umurnya sudah 60, 2057 berapa tahun lagi itu?" ujarnya dalam visitasi dan edukasi kepada jemaah di Hotel 312 Makkah, Minggu, (1/6/2025).

Ia membeberkan cara bersyukur yang tepat kepada jemaah haji, yakni mengikuti semua aturan dan persyaratan berhaji yang sudah dipahami. Jemaah juga harus menjaga mood agar tetap bahagia.

"Tidak boleh susah, tidak boleh sedih. Kalaupun jenengan sakit, jangan bersedih, karena sakit hakikatnya adalah kafarallahu (penggugur dosa)," dia menjelaskan.

Ia mengatakan bahwa perasaan bahagia adalah modal sehat. Meski begitu, jemaah haji yang sakit tetap harus berikhtiar dengan mengobati penyakitnya lewat bantuan dokter.

Cara bersyukur kedua yang direkomendasikannya adalah tidak mengeluh. Anggap situasi yang sulit dan berat sebagai ujian yang harus dinikmati. Jemaah haji bisa meminta tolong bila ada kesulitan, tapi tidak mengeluh.

"Kalau tadi Bapak Kiai Romo Syafii (Wamenag) menyampaikan, salah satunya adalah agar kita mencair tawa, tidak boleh mengeluh. Ridho dengan apa yang kita hadapi dan apa yang kita alami. Ini nanti akan sehat," sambungnya.

 

Hindari Pertentangan

Cara bersyukur ketiga adalah dengan menghindari pertentangan dan bergosip tentang orang lain. Sebagai jemaah haji, hal utama yang harus diperhatikan adalah mengevaluasi diri sendiri.

"Haji ini adalah puncak dari rukun Islam. Ini penting," katanya lagi.

Cara keempat bersyukur yang tepat adalah segera menolong orang yang membutuhkan. Itu, kata Kiai Said, adalah kunci membuka pertolongan dari Allah.

"Insya allah nanti akan muncul, ada turun pertolongan Allah, sehingga haji kita semua adalah haji yang Rasulullah janjian, al-hajjul mabrur laisalahu jaza'un ilal jannah," imbuhnya.

Saat ini, seluruh jemaah haji Indonesia sudah tiba di Tanah Suci dan bersiap untuk menjalankan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Jemaah haji dijadwalkan berangkat ke Arafah pada Rabu, 4 Juni 2025, bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1446 H.

 

Makna Haji Mabrur

Mengutip kanal Islami Liputan6.com, secara bahasa, haji mabrur diartikan sebagai haji yang baik atau ibadahnya telah dilaksanakan dengan baik dan diterima Allah SWT. Sedangkan, secara istilah adalah haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya.

Artinya, ibadah haji dikerjakan dengan menjalankan rukun, wajib, dan sunnah haji serta menjauhi segala larangan atau hal yang dapat mengurangi kesempurnaan ibadah haji.

Rasulullah SAW memberikan penjelasan terkait pahala bagi jamaah haji yang mendapatkan predikat mabrur dalam hadis. "Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga." (HR Bukhari).

Predikat haji mabrur adalah hak prerogatif Allah SWT untuk disematkan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Namun, seseorang yang meraihnya pasti memiliki ciri-ciri haji mabrur.

 

Ciri-ciri Haji Mabrur

Dikutip dari laman muhammadiyah.or.id, ada dua ciri haji mabrur yang umum didapati, yakni:

Pertama, dermawan dan selalu menebar kedamaian. Hal ini berdasarkan hadis: "Dari Jabir ra. berkata: Rasulullah saw bersabda: Haji mabrur, tidak ada balasan baginya melainkan hanya syurga, Mereka bertanya, Wahai Nabiyullah apa itu haji yang mabrur? Beliau bersabda: Memberikan makanan dan menyebarkan salam." (HR. Ahmad).

Kedua, santun dalam bertutur kata. Dalam hadis disebutkan: "Dari Jabir ra. Berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah bersabda; Memberikan makanan dan santun dalam berkata." (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi: Hadis ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim).

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6