Penyelidik KPK Ungkap Hari Terakhir Melihat Harun Masiku hingga 'Lenyap' di PTIK

Arif menceritakan kembali momen terpantaunya pelaku kasus suap pergantian antarwaktu calon anggota legislatif dari PDI Perjuangan (PDIP) Harun Masiku, 8 Januari 2020.

Diperbarui 16 Mei 2025, 13:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Arif Budi Raharjo dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan dengan terdakwa Hasto Kristiyanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat (16/5/2025).

Di hadapan majelis, Arif menceritakan kembali momen terpantaunya pelaku kasus suap pergantian antarwaktu calon anggota legislatif dari PDI Perjuangan (PDIP) Harun Masiku, 8 Januari 2020. Menurut dia, saat itu adalah hari terakhir Harun Masiku tiba-tiba bisa menghilang sampai saat ini.

"Pada pagi harinya Harun Masiku terlihat. Dia keluar Thamrin Residence, dia memesan taksi, kemudian ke Grand Hyatt, itu kami pantau. Pada saat (mau) operasi tangkap tangan pukul 11 siang, saya berada di sekitar Thamrin Residence, saya ada dua tim, dua mobil dan kami dibantu tim surveillance," kata Arif.

Arif menjelaskan, tim penyelidik mendeteksi lokasi Harun, namun titiknya melompat-lompat. Terkadang dekat, tapi bisa juga menjauh. Arif menduga sulitnya mendeteksi lokasi pasti Harun dikarenakan yang bersangkutan kerap mengganti moda transportasi, mulai dari mobil, motor, dan taksi.

"Kami mendeteksi dari sisi update lokasi lompat-lompat, saya juga heran mengapa posisi kadang dekat dan kadang jauh. Tapi sekitar pukul 15.00, Harun ada di Grand Hyat mau masuk Thamrin Residence. Saat itu kami berjaga," jelas penyelidik KPK itu.

Arif mengingat, saat itu Harun memakai baju merah marun. Arif pun meminta tim untuk memantau secara ketat sebelum tim mendekat dan merapat ke lokasi target.

"Waktu itu lalu lintas macet, saya sampai turun dari mobil masuk ke Grand Hyat. Dan saat kami tiba, saya kira lift menuju kamar, tapi lift yang kami masuki adalah lift ke pusat perbelanjaan. Kami kejar dan lihat Harun, tapi sudah menumpangi sepeda motor. Lalu kami lakukan pengejaran waktu itu sekira pukul 18.00 menjelang magrib," jelas Arif.

"Kami tetap kejar dan menggali informasi. Pada saat itu HP-nya Harun masih hidup. Kami lakukan update posisi, tapi tiba-tiba menghilang titiknya," imbuhnya.

 

Ada Perintah Agar Harun Masiku Mencelupkan HP

Arif berkomunikasi dengan tim dari posko. Posko menyampaikan informasi bahwa ada perintah yang masuk ke Harun untuk mencelupkan ponselnya. Namun Harun Masiku tampak masih bingung dengan perintah tersebut. Selanjutnya, informan itu diketahui bernama Nur Hasan.

"Kami mendapat informasi dari posko, Harum ditelepon seseorang, bahwa ada arahan dari 'Bapak' untuk mencelupkan HP-nya, tapi Harun dari suaranya masih ragu-ragu kalimat. Hal itu yang menyampaikan bernama Hasan yang belakangan diketahui nama lengkapnya Nur Hasan," ungkap Arif.

Arif lalu melakukan update posisi terhadap Nur Hasan, dia meminta Harun merapat ke kantor DPP PDIP dan rumah SS atau Sutan Syahrir. Informasi tersebut lalu diikuti, baik ke kantor DPP PDIP dan Sutan Syahrir.

"Tapi selanjutnya kami mendapat info lagi, Nur Hasan menuju Blok M dari kantor DPP PDIP, itu posisinya magrib menuju isya. Dari sekitar Blok M itu posisinya ada di sekitaran PTIK," jelas Arif.

Karena lokasinya di sekitar kompleks Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Arif pun masuk dengan membawa surat resmi untuk mengejar Harun. Hal itu ditunjukkan saat bertemu penjaga gerbang. Penjaga pun mempersilakan Arif dan timnya masuk.

"Tim kemudian masuk ke PTIK, kami melihat di sana ada penjaga, dan kami sebelum masuk, kami izin untuk masuk dengan bawa surat tugas. Kami lalu menunggu sambil solat di masjid PTIK. Pada saat itu karena handphone Harun mati dan kemudian ada komunikasi sebelumnya (dengan Nur Hasan) ada info (Harun) akan dijemput, kami sempat muterin PTIK dan diduga posisinya Harun ada di dalam. Ketika kami menunggu Harun, kami bertemu tim Rossa (dari penyidik KPK)," jelas Arif.

 

Tim KPK Meyakini Ada Hasto di PTIK

Arif kemudian berkomunikasi dengan Rossa, dan mengatakan Hasto Kristiyanto juga diyakini berada di posisi yang sama di sekitaran PTIK. Meski belum diketahui dengan jelas persisnya.

"Saya komunikasi (dengan Rossa) bahwa terdakwa (Hasto) ada di posisi yang sama. Kemudian kami ditelepon dan dikatakan ada 5 anggota polisi berbaju kaos, saya lihat mereka sudah saling menyela (dengan tim dari KPK). Nadanya meninggi dan mereka meminta kami untuk masuk ke salah satu ruang di PTIK. Ada lima orang dari KPK (dibawa ke ruang PTIK) selain saya, ada juga Pak Rossa," dia menandasi.

Usai dibawa ke ruang anggota di PTIK, Arif sudah kehilangan jejak Harun Masiku hingga hari ini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6