5 Pernyataan TNI AD dan ASABRI Usai Insiden Ledakan Amunisi di Garut

TNI Angkatan Darat (AD) melanjutkan investigasi kasus ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut, Jawa Barat.

Diterbitkan 15 Mei 2025, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - TNI Angkatan Darat (AD) melanjutkan investigasi kasus ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut, Jawa Barat, yang sebelumnya sempat terhenti saat memasuki malam hari. Sebanyak 13 orang terdata meninggal dunia akibat peristiwa tersebut.

"Bahwa kemarin kegiatan penyisiran dan investigasi di lapangan jelang gelap dihentikan oleh tim investigasi, karena cuaca gelap jelang malam. Dan rencananya pagi ini kegiatan penyisiran dan kegiatan tim investigasi akan dilanjutkan kembali," tutur Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana kepada wartawan, Selasa 13 Mei 2025.

Menurut Wahtu, salah satu investigasi yang dilakukan dengan mendalami keterangan 25 prajurit TNI dan 21 sipil.

"Berkaitan dengan tim investigasi saat ini masih bekerja di lapangan, dan kami sampaikan bahwa tim investigasi sudah meminta keterangan beberapa saksi dari masyarakat ada 21 orang dan dari unsur TNI ada 25 orang," papar Wahyu, Kamis (15/5/2025).

Dia mengatakan, tim investigasi masih mencocokkan setiap keterangan saksi dengan dihadapkan pada fakta-fakta yang didapat di lapangan, termasuk juga berkaitan dengan sejumlah barang bukti yang telah dikumpulkan.

"Untuk nantinya akan dilaksanakan analisa. Dan juga ada beberapa unsur yang perlu diuji sehingga itu memerlukan waktu," ucap Wahyu.

Sementara itu sebelumnya, TNI AD pun memastikan bertanggung jawab penuh terhadap pengurusan para korban meninggal dunia akibat ledakan amunisi di Garut tersebut.

"TNI AD bertanggung jawab secara penuh untuk membantu semua proses penanganan dan pemakaman para korban, baik yang berasal dari jajaran TNI AD maupun yang dari masyarakat sekitar," terang Wahyu.

Selain itu, TNI AD menawarkan kesempatan bagi anak-anak korban meninggal dunia dalam peristiwa ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut.

"Pimpinan TNI Angkatan Darat sudah menyampaikan kepada Bapak Pangdam Siliwangi untuk menyampaikan kepada putra putri dari korban, apabila ingin bergabung dengan TNI AD, TNI AD membuka peluang kepada seluruh putra putri korban," terang Wahyu.

Sementara itu, PT ASABRI (Persero) menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya empat prajurit TNI dalam insiden ledakan amunisi kedaluwarsa. Keempat prajurit tersebut merupakan peserta aktif ASABRI, dan wafat dalam tugas negara.

Sebagai bentuk penghormatan sekaligus tanggung jawab institusi, ASABRI langsung hadir mendampingi keluarga korban dan memastikan seluruh hak peserta diberikan secara cepat, tepat, dan profesional.

Berikut sederet pernyataan TNI AD hingga ASABRI usai terjadinya insiden ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut, Jawa Barat dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. Lanjutkan Investigasi Ledakan Amunisi di Garut yang Tewaskan 13 Orang

TNI Angkatan Darat (AD) melanjutkan investigasi kasus ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut, Jawa Barat, yang sebelumnya sempat terhenti saat memasuki malam hari. Sebanyak 13 orang terdata meninggal dunia akibat peristiwa tersebut.

"Bahwa kemarin kegiatan penyisiran dan investigasi di lapangan jelang gelap dihentikan oleh tim investigasi, karena cuaca gelap jelang malam. Dan rencananya pagi ini kegiatan penyisiran dan kegiatan tim investigasi akan dilanjutkan kembali," tutur Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana kepada wartawan, Selasa 13 Mei 2025.

Sementara, kata Wahyu, untuk penanganan korban meninggal dunia tengah dipersiapkan untuk diserahkan kepada keluarga masing-masing.

"Untuk korban yang berasal dari masyakarat sekitar setelah ada izin dari tim medis nanti akan dibawa oleh pihak keluarga masing-masing dimakamkan di TPU yang ada di desa sekitar," ucap dia.

Wahyu menyatakan, TNI AD sepenuhnya bertanggung jawab untuk membantu seluruh proses penanganan dan pemakaman, baik korban yang berasal dari prajurit maupun masyarakat sekitar.

"Kami mohon doa agar semua proses penanganan para korban menuju tempat peristirahatannya yang terakhir dapat berjalan dengan lancar, dan kami juga mohon doa kegiatan investigasi yang dilakukan hari ini oleh TNI AD dapat berjalan dengan baik," Wahyu menandaskan.

Ledakan terjadi saat pemusnahan amunisi tidak layak di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Senin 12 Mei 2025. Korban meninggal mencapai 13 orang, terdiri dari 4 anggota TNI AD dan 9 warga sipil.

 

2. Dalami Keterangan 25 Prajurit dan 21 Sipil Terkait Ledakan Amunisi di Garut

TNI AD masih melakukan investigasi terkait peristiwa ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut, Jawa Barat, yang menewaskan 13 orang. Salah satunya dengan mendalami keterangan 25 prajurit TNI dan 21 sipil.

"Berkaitan dengan tim investigasi saat ini masih bekerja di lapangan, dan kami sampaikan bahwa tim investigasi sudah meminta keterangan beberapa saksi dari masyarakat ada 21 orang dan dari unsur TNI ada 25 orang," tutur Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana kepada wartawan, Kamis (15/5/2025).

Menurut Wahyu, tim investigasi masih mencocokkan setiap keterangan saksi dengan dihadapkan pada fakta-fakta yang didapat di lapangan, termasuk juga berkaitan dengan sejumlah barang bukti yang telah dikumpulkan.

"Untuk nantinya akan dilaksanakan analisa. Dan juga ada beberapa unsur yang perlu diuji sehingga itu memerlukan waktu," jelas dia.

Wahyu pun meminta publik dapat menunggu hasil investigasi secara menyeluruh terkait insiden ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut. Dia berharap semua pihak dapat ikut mendoakan, baik untuk korban tewas dan keluarganya, serta kelancaran proses investigasi.

"Kami memohon doa dan juga memohon pengertian semua pihak, investigasi yang sedang bekerja di lapangan sehingga nanti pada saatnya dapat kami sampaikan kepada semua pihak berkaitan dengan hasil pelaksanaan tugas tim investigasi di lapangan," ucap Wahyu.

 

3. Pastikan Bertanggung Jawab Urus Pemakaman 13 Korban Tewas Akibat Ledakan Amunisi di Garut

TNI AD memastikan bertanggung jawab penuh terhadap pengurusan para korban meninggal dunia akibat ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut, Jawa Barat. Tercatat, sebanyak 13 orang tewas dalam kejadian tersebut, dengan rincian 4 prajurit TNI dan 9 warga sipil.

"TNI AD bertanggung jawab secara penuh untuk membantu semua proses penanganan dan pemakaman para korban, baik yang berasal dari jajaran TNI AD maupun yang dari masyarakat sekitar," kata Wahyu.

Wahyu mengatakan, jenazah Kepala Gudang Pusat Amunisi III Pusat Peralatan TNI AD Kolonel Korps Peralatan Antonius Hermawan akan dibawa ke rumah duka Bekasi, Jawa Barat, dan disemayamkan di kampung halamannya yakni Sleman, Yogyakarta.

Kemudian, jenazah Kepala Seksi Administrasi Pergudangan Gudang Pusat Amunisi III Pusat Peralatan TNI AD Mayor Korps Peralatan Anda Rohanda akan dibawa ke kediaman Cileunyi, Bandung, Jawa Barat.

Selanjutnya, jenazah Anggota Gudang Pusat Amunisi III Pusat Peralatan TNI AD Kopda Eri Dwi Priambodo akan dibawa ke kediaman Temanggung, Jawa Tengah.

Serta jenazah Anggota Gudang Pusat Amunisi III Pusat Peralatan TNI AD Pratu April Setiawan akan dibawa ke Pulau Mongondow, Sulawesi Utara.

"Untuk korban yang berasal dari masyakarat sekitar, setelah ada izin dari tim medis nanti akan dibawa oleh pihak keluarga masing-masing, dimakamkan di TPU yang ada di desa sekitar," terang Wahyu.

 

4. Tawarkan Anak Korban Ledakan Amunisi di Garut Jadi Prajurit

Kemudian, TNI AD pun menawarkan kesempatan bagi anak-anak korban meninggal dunia dalam peristiwa ledakan amunisi kedaluwarsa di Garut, Jawa Barat, untuk menjadi prajurit.

"Pimpinan TNI Angkatan Darat sudah menyampaikan kepada Bapak Pangdam Siliwangi untuk menyampaikan kepada putra putri dari korban, apabila ingin bergabung dengan TNI AD, TNI AD membuka peluang kepada seluruh putra putri korban," ucap Wahyu.

Menurut Wahyu, nantinya jajaran Kodim 0611 Garut akan memberikan pendampingan dan bimbingan kepada seluruh putra putri korban, agar prosesnya dapat berjalan dengan baik.

Sementara itu, TNI AD telah menyalurkan santunan kedukaan bagi seluruh korban sipil. Termasuk juga tengah menyiapkan hak-hak dari keluarga korban dari prajurit.

"Semua hak-hak dari anggota semua akan diberikan. Saat ini, Pusat Peralatan TNI Angkatan Darat selaku induk satuan Angkatan Darat sedang menyelesaikan berkaitan dengan hak-hak almarhum sehingga nanti tersampaikan kepada seluruh korban, dalam hal ini keluarganya," kata Wahyu.

 

5. ASABRI Salurkan JKK dan JHT TNI Korban Ledakan Munisi di Garut

PT ASABRI (Persero) menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya empat prajurit TNI dalam insiden ledakan Disposal Munisi di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Senin, 12 Mei 2025. Keempat prajurit tersebut merupakan peserta aktif ASABRI, dan wafat dalam tugas negara.

Sebagai bentuk penghormatan sekaligus tanggung jawab institusi, ASABRI langsung hadir mendampingi keluarga korban dan memastikan seluruh hak peserta diberikan secara cepat, tepat, dan profesional.

Direktur Utama PT ASABRI (Persero), Jeffry Haryadi P.M menegaskan, kehadiran ASABRI bukan hanya sebagai institusi asuransi sosial, tetapi sebagai keluarga yang berkomitmen menjaga amanah prajurit dan memberikan pelayanan terbaik bagi keluarga peserta.

Dalam upaya memberikan penghormatan terakhir, ASABRI menurunkan jajaran direksi dan pimpinan cabang untuk turut serta dalam proses kepulangan dan pemakaman jenazah.

Tim dari Kantor Cabang Utama Jakarta, Manado, Semarang, dan Bandung mendampingi keluarga di daerah asal masing-masing, memastikan bahwa setiap tahapan dijalankan dengan penuh empati dan ketulusan.

Manfaat JKK dan THT

Sebagai bagian dari perlindungan atas risiko kerja yang dihadapi prajurit, ASABRI telah menyalurkan manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Tabungan Hari Tua (THT) kepada ahli waris para korban.

Penyaluran manfaat ini mengacu pada ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2015 yang telah diperbarui dengan PP Nomor 54 Tahun 2020.

Manfaat yang diberikan antara lain:

  • Santunan Risiko Kematian Khusus (SRKK) Tewas,
  • Nilai Tunai Tabungan Asuransi (NTTA),
  • Bantuan beasiswa bagi anak-anak korban yang masih menempuh pendidikan (maksimal dua anak).

Selain itu, ahli waris juga berhak menerima gaji terusan, pensiun warakawuri bagi istri/suami yang ditinggalkan, dan tunjangan orang tua bagi peserta yang belum menikah.

Komitmen ini menunjukkan bahwa ASABRI tidak hanya menyalurkan manfaat secara administratif, tetapi juga hadir untuk memastikan keberlanjutan kesejahteraan keluarga peserta yang gugur dalam tugas.

Langkah cepat dan terstruktur ASABRI ini merupakan implementasi nyata dari visi perusahaan sebagai pengelola asuransi sosial yang tepercaya, profesional, dan peduli. Seluruh proses diselenggarakan dengan mengedepankan prinsip 5T: Tepat Waktu, Tepat Alamat, Tepat Orang, Tepat Jumlah, dan Tertib Administrasi.

ASABRI juga terus menjunjung tinggi prinsip Good Corporate Governance (GCG) dengan menghadirkan pelayanan yang akuntabel, tanggap, dan berintegritas. Kepercayaan peserta dan keluarga adalah fondasi utama yang dijaga oleh ASABRI dalam setiap tindakannya.

Melalui aksi nyata ini, ASABRI menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sekadar penyedia layanan asuransi, tetapi juga sahabat perjuangan peserta TNI, Polri, dan ASN sepanjang masa.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6