Sukses

Detik-Detik Mendebarkan Menjelang Perang Irak

Liputan6.com, Jakarta: Bayang-bayang serangan pasukan Amerika Serikat dan sekutunya ke Irak kian dekat. Batas akhir ultimatum Presiden George Walker Bush selama dua kali 24 jam agar Saddam Hussein dan keluarganya meninggalkan Irak, tinggal beberapa jam lagi. Akankah perang benar-benar terjadi? Bagaimana nasib rakyat Irak selanjutnya? Pertanyaan seputar krisis Irak yang menyita perhatian dunia ini dibahas dalam dialog khusus bertema Perang AS-Irak, Mengapa Harus Terjadi? yang dipandu Ira Koesno di Studio SCTV Jakarta, Rabu (19/3) malam.

Situasi mencekam mewarnai beberapa jam menjelang batas akhir ultimatum AS. Sebagian masyarakat Kota Baghdad berdiam di dalam rumah dan sebagian lainnya tetap beraktivitas seperti biasa. Meski sejumlah personel militer terlihat sibuk menempatkan karung-karung pelindung serangan, situasi pasar tetap normal. Reporter SCTV Merdi Sofansyah dan juru kamera Effendi Kassah melaporkan, para pedagang masih menjual perlengkapan kebutuhan hidup tanpa terganggu. Omzet pendapatan juga tidak terpengaruh.

Hari ini, Majelis Nasional Irak menyatakan tetap mendukung kepemimpinan Presiden Saddam Hussein. Pemimpin Majelis Saadun Hamadi menyatakan, rakyat Irak mengecam dan menolak ultimatum Bush yang disebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat global [baca: Semua Anggota Parlemen Irak Mendukung Saddam]. Sedangkan Menteri Informasi Irak Muhammad Said Al-Sahaf mengingatkan pasukan AS dan Inggris yang akan menginvasi negaranya akan menghadapi kematian dan kemenangan tidak akan mudah diraih. Al-Sahaf menuding para komandan perang AS dan sekutunya menipu prajuritnya dengan mengatakan mereka akan memenangkan pertempuran.

Hingga beberapa jam menjelang batas akhir ultimatum, lalu lalang kendaraan masih terlihat di Baghdad. Sebagian besar rakyat Irak tampaknya tidak takut menghadapi serangan militer. Mereka tidak melakukan eksodus ke luar negeri [baca: Baghdad Mempersiapkan Diri Menghadapi Perang]. Pemandangan yang tidak biasa hanya tampak pada berhentinya kegiatan perdagangan.

Para pemilik toko menutup, mengosongkan, dan mengunci toko mereka. Sebagian penduduk diperkirakan menempati ruang-ruang bawah tanah yang dibangun sendiri. Pemandangan lain terlihat di Kota Irbil dan Dohuk di Irak Utara. Di kedua kota ini, warga suku Kurdi justru mengepak barang-barang dan bergegas meninggalkan kota menuju pedalaman di pegunungan. Para warga asing, staf kedutaan besar, dan Tim Inspeksi Persenjataan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNMOVIC) juga sudah meninggalkan Baghdad. Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan sejak kemarin memerintahkan agar seluruh pegawainya, para pengamat dan seluruh anggota UNMOVIC segera meninggalkan Irak karena ultimatum AS hingga kini belum dipatuhi [baca: Pekerja Kemanusiaan PBB Meninggalkan Irak].

Seluruh dunia menyerukan perdamaian termasuk negara-negara yang pemerintahannya mendukung penyerangan AS ke Irak. Tanpa mengemban mandat PBB, AS dan sekutunya menjadi polisi dunia dan mengultimatum Saddam Hussein. Negeri Paman Sam menutup jalur diplomasi karena menyadari kecil kemungkinan mereka memenangkan suara di Dewan Keamanan PBB untuk resolusi kedua Irak.

Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab berpendapat, Prancis, Jerman, dan Rusia tidak cukup menjadi kekuatan penyeimbang. Ketiga penentang agresi militer itu kini hanya sebatas mampu membentuk opini publik. Bahkan, suara Prancis dinilai agak melunak setelah muncul keinginan sebagian masyarakat AS untuk memboikot produk mereka. Dengan alasan yang tak jauh berbeda, Cina, pemegang hak veto di DK PBB, juga sangat berhati-hati memberikan reaksi. "Saya melihat kebijaksanaan telah sirna dan sekarang lebih ditonjolkan egoisme kelompok. Karena egoisme tidak bisa menyatukan diri, maka timbul perang," ujar Alwi.

Alwi berpendapat negara-negara yang tergabung dalam Liga Arab juga tak mampu mempengaruhi AS untuk mengurungkan niatnya. Kuwait, Iran, dan Arab Saudi adalah sederetan negara tetangga yang merasa dianiaya rezim Saddam. Pengalaman ketiga negara itu yang pernah berseteru kemudian menyatukan sikap negara-negara Teluk menentang kehadiran pemerintahan yang mengancam mereka. Alwi memperkirakan Turki lambat laun akan mengizinkan wilayahnya menjadi pusat operasi tentara AS karena membutuhkan dukungan untuk masuk menjadi anggota Uni Eropa.

Meski tak sedikit rakyat AS yang menentang kebijakan Bush, popularitas mantan Gubernur Texas itu di dalam negeri meningkat tajam. Menurut Alwi, Bush menerima lampu hijau dari Kongres karena dalihnya melucuti senjata pembunuh massal Irak didukung rakyatnya. "Kalau Bush mengambil inisiatif tapi tidak didukung mayoritas rakyatnya, perang tak akan terjadi," kata Alwi. Cuma, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa ini mengingatkan jika perang berlangsung cukup lama, AS akan menghadapi tantangan yang lebih keras dari masyarakat dunia.

Perang di Abad XXI ini juga secara tak langsung menampilkan dua pimpinan negara. Saddam Hussein yang memimpin Irak selama 20 tahun lebih, kini menjadi legenda. Dialah seteru utama dua Presiden AS yakni George Bush dan putranya George Bush yunior. Sosok pemimpin Negeri 1001 itu sering digambarkan keras, berdisiplin tinggi, dan cenderung tidak toleran terhadap lawan-lawan politiknya. Kegetiran hidup sering dialami pria kelahiran 28 April 1937 dari keluarga petani miskin di Desa Al Awja, Tikrit, Irak Tengah, ini sejak kecil. Putra Hussein Al Majid ini yatim saat lahir hingga kemudian menjalani masa kecil di bawah didikan keras pamannya Al Haj Ibrahim dan Khairullah Tulfah.

Dalam gemblengan kedua orang itu, Saddam kecil banyak memperoleh cerita tentang kejayaan Irak massa lampau dan nasionalisme Arab. Raja Babilonia Nebuchadnezzar, Khalifah Shalahudin Al Ayyubi yang pernah membebaskan Jerussalem, dan Presiden Mesir Gamal Abdul Naser adalah tiga idola yang terus memompa ambisi Saddam menjadi pemimpin hingga kemudian dia bergabung dengan Partai Baath pada 1957.

Sejak bernaung di partai sosialis yang didirikan Michel Aflag pada usia 20 tahun itu, Saddam banyak memperoleh kepercayaan melaksanakan misi-misi penting. Satu tugas yang pernah diembannya adalah membunuh Presiden Abdul Karim Kasim. Namun, misi ini gagal, hingga Saddam melarikan diri ke Suriah dan kemudian ke Mesir sambil belajar di Fakultas Hukum Universitas Kairo.

Pada 1963, Saddam kembali ke Irak dan dipercaya oleh Michel Aflag sebagai anggota Dewan Pimpinan Partai Baath. Lewat sebuah kudeta pada 1968, karier Saddam terus berkibar hingga terakhir menapak ke kursi presiden pada 1979. Sebagai pemimpin politik, Ayah Uday, Qusay, Rana, Raghda, dan Hala ini mampu mengendalikan Partai Baath dan militer.

Saddam juga tidak segan-segan menendang siapa pun yang bisa mengganggu kepemimpinannya termasuk Menteri Pertahanan Adnan Khairullah, meski masih saudara sepupunya. Dia juga menghukum kedua menantunya Husein Kamal Hassan dan Saddam Kamal Hassan karena melarikan diri ke Yordania. Pria yang kerap menggunakan seragam militer ini juga sering membuat kebijakan yang mengundang kontroversi seperti perang dengan Iran dan invasi ke Kuwait yang memicu Perang Teluk 1991 silam.

Di sisi lain, George Walker Bush tengah menanti detik-detik penting dalam karir politiknya sebagai pemimpin Negeri Adidaya. Berbungkus isu menghancurkan senjata pemusnah massal, putra George Bush ini mempertaruhkan segalanya untuk menggulingkan rezim Saddam. Presiden ke-43 AS ini dikenal berprestasi biasa-biasa saja saat menempuh pendidikan di sejumlah sekolah elite.

Kelahiran New Haven, Connecticut, 6 Juli 1946, ini menorehkan sejarah ketika dilantik menjadi presiden pada 20 Januari 2001. Nama George Walker Bush dan George Bush memang tak bisa dipisahkan. Walau sang ayah tidak tampak membayanginya, Bush muda lebih aman berada dalam Dinasti Bush. Dalam keluarga yang berasal dari sebuah desa kecil di Essex, Inggris, itu, George Walker Bush dan Jebb Bush adalah generasi penerus yang cukup dibanggakan. Bush yunior pernah menjabat Gubernur Texas sedangkan Jebb Bush menjadi Gubernur Florida. Sejarah karier politik seperti ini tergolong langka di AS.

George Walker Bush pernah menjadi pilot di Texas Air National Guard yang konon menyebabkan dia tidak ditugaskan berperang di Vietnam. Sepanjang karirnya, Bush pernah gagal meraih kursi Kongres pada 1978 hingga kemudian terjun ke bisnis perminyakan seperti ayahnya. Dari perkawinannya dengan Laura Welch, George Walker Bush dikarunia putri kembar Jenna dan Barbara.

Sebagai Presiden AS, Bush yunior tentu tak cukup hanya mengandalkan dirinya. Dia selalu didampingi tiga tokoh serangkai yang pernah membantu ayahnya yakni Dick Cheney yang kini menjabat wakil presiden, mantan Kepala Staf Gabungan Perang Teluk Colin Powell yang diangkat sebagai menteri luar negeri, dan mantan Menlu James Baker. Karier politik George W. Bush masih mengkilap hingga kini. Namun, tentunya dia harus berhati-hati agar momen penting menyerang Irak tidak menjadi neraka atas jalan yang telah dirintisnya.

Berdasar pengalaman mantan Duta Besar Indonesia di Irak Mubramsyah, dalam diri Saddam menyatu dua karakter yang bertolak belakang yakni keras sekaligus murah hati. Agar Irak tetap dipimpin seorang nakhoda, Saddam menjalankan kekuasannya dengan cara-cara layaknya diktator. Mengeksekusi kelompok oposisi dan kalangan militer yang menentangnya, termasuk gaya khas kepemimpinan Saddam.
0
Meski demikian, Saddam sangat memperhatikan kehidupan masyarakat menengah dan orang-orang miskin. Dia misalnya selalu menyediakan sembilan bahan kebutuhan pokok, tidak pernah menaikkan harga bahan bakar minyak dalam kurun waktu tertentu, dan pendistribusian barang-barang itu tidak pernah diselewengkan. "Karena kepedulian itu, Saddam sangat dicintai rakyatnya," kata Mubramsyah.

Dalam pandangan Mubramsyah, Saddam sangat lihai mengambil hati rakyatnya yang kini menderita karena embargo. Sifat keras dan lembut juga digunakan Saddam saat berdiplomasi dengan negara-negara di sekelilingnya. Hampir setiap kebijakan, Saddam selalu mengutamakan keyakinannya dibanding nasihat orang-orang dekat. "Agar aman dalam berpolitik, Saddam dengan lembut memelihara rakyatnya yang miskin," kata dia.

Sedangkan Guru Besar Universitas Ohio, AS, William Liddle berpendapat pekerjaan rumah Bush senior yang belum selesai dan upaya pembuktian kepada Dinasti Bush, hanyalah alasan kecil yang mempengaruhi Bush yunior memutuskan menyerang Irak. "Bush menderita paranoia setelah serangan 11 September 2001. Dia merasa sesuatu yang luar bisa telah terjadi dan tidak boleh terulang lagi," kata Liddle melalui sambungan telepon internasional.

Perihal naiknya popularitas Bush di dalam negeri, pengamat politik Indonesia ini mengatakan hal itu adalah gejala umum yang berlaku di dunia. Saat terjadi krisis, semua orang ingin mendengar kebijakan pemimpinnya. "Begitu juga masyarakat AS. Walau ada yang ragu, tapi cenderung mempercayai Bush," kata pengamat yang akrab disapa Bill ini. Meski kepentingan ekonomi dikorbankan karena ongkos perang yang cukup besar, Bush yakin bisa membayarnya dengan menjatuhkan Saddam.

Saat membedah karakteristik rakyat Irak, Mubramsyah memilahnya menjadi beberapa kategori. Kelompok oposisi terdiri dari masyarakat Kurdi dan penganut Syiah yang berjumlah 5 juta orang. Pengikut setia Saddam adalah 350 ribu tentara ditambah satu juta milisi dan anggota Partai Baath. Namun Saddam kini lebih banyak memberikan fasilitas kepada masyarakat Syiah, tapi tak bisa mengendalikan Kurdi. "Saddam berupaya mengurangi kekuatan oposisi dengan memperhatikan kebutuhan rakyatnya," kata dia.

Menurut Mubramsyah, bisa dipahami kemudian kecintaan rakyat yang begitu besar kepada Saddam menyebabkan sejumlah kudeta tak pernah berhasil. Saddam juga menyamaratakan kemiskinan ke semua lapisan masyarakat, semisal menteri tidak diizinkan memiliki mobil mewah. Pendapatan per kapita yang turun drastis dari US$ 2.900 menjadi US$ 59 tak banyak mengubah kehidupan sehari-hari karena pemerintah memberikan subsidi besar untuk BBM dan berupaya menstabilkan harga. "Kalau dolar [AS] turun harga harus turun," kata dia.

Presiden Irak itu juga selalu dilindungi pasukan elite dan berani mati. "Rasanya tidak ada pemimpin seperti Saddam," kata dia. Untuk kehidupan kaum perempuan, pemerintah Irak membolehkan berpakaian bebas dan, tidak harus memakai jilbab. Pendidikan kaum hawa di sana juga cukup tinggi. Mubramsyah memprediksi sikap keras Saddam diperlukan untuk periode tertentu. "Setelah embargo usai, dia akan berbuat sesuatu yang lebih positif," kata Mubramsyah.

Perang Teluk masih membekas di benak rakyat Irak. Bungker-bungker pelindung serangan udara adalah tempat yang banyak dipenuhi warga Irak saat itu. Alhasil tempat seperti itu menimbulkan trauma dan tidak lagi diminati. Meski mampu melindungi serangan senjata kimia dan biologis, tapi belum teruji menahan serangan bom. Hal itu terbukti saat 480 jiwa melayang ketika AS menjatuhkan bom.

Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Pemerintah Saddam menyediakan cukup banyak makanan, obatan-obatan, dan perlengkapan lainnya di dalam shelter. Namun 34 bungker di Baghdad tak lagi digunakan karena rakyat Irak merasa tidak aman lagi jika serangan militer dilancarkan.

Beberapa negara masih mencoba hingga detik-detik terakhir melobi Saddam Hussein agar perang bisa terhindarkan. Seandainya perang berlangsung, bagaimana dampaknya bagi Irak, kawasan Timur Tengah, dan Indonesia? Menurut analisa pengamat Timur Tengah Riza Sihbudi, skenario yang digelar AS akan serupa dengan Afghanistan. "Amerika akan memunculkan penguasa baru dari kalangan oposisi biar terlihat sopan di mata dunia," kata Riza. Hanya keberagaman etnis di Irak menyulitkan AS menemukan pengganti Saddam yang bisa diterima semua kalangan. Memilih penguasa baru dari kalangan Syiah yang berjumlah 60 persen dari total penduduk Irak bukan pilihan yang tepat karena akan menciptakan Iran kedua.

Sebagian besar masyarakat Arab juga tidak menyukai sikap AS yang cenderung menekan Irak, tapi membiarkan Israel meski nyata-nyata kerap melanggar resolusi PBB. Riza mengkhawatirkan perang yang berlangsung lama akan membangkitkan solidaritas Arab. "Bangsa manapun tidak ingin penguasanya dicopot sesuka hati oleh AS," tutur dia. Lebih buruk lagi jika motivasi AS menyerang Irak benar-benar karena mengincar minyak. "Bisa jadi setelah Irak, target selanjutnya Arab Saudi dan Iran. Ini kolonialisme baru," kata dia.

Sedangkan cendekiawan muslim Komarudin Hidayat meminta ketegasan pemerintah, kalau perlu menyebut AS sebagai agresor. Dia juga berharap konflik itu tidak ditiupkan menjadi perang agama. Sebab Sri Paus Paulus Yohanes II sebagai pemimpin umat Katolik telah berusaha mencegahnya. Kekhawatiran itu kian menguat setelah para Imam Masjid Al Azhar Mesir mengusulkan dikeluarkan fatwa jihad, bahwa serangan terhadap Irak sama halnya serangan kepada umat Islam. "Alangkah baiknya setelah Saddam jatuh, AS mendesak Israel mematuhi resolusi PBB sehingga dunia melihat fair," kata Komarudin.

Mengenai dampak perang Irak di Tanah Air, Komaradin telah menanyakan kesiapan Polri dan pemerintah memberi penjelasan dan perlindungan kepada orang asing. Jangan sampai masyarakat merazia setiap orang berkulit putih. Dia juga mengingatkan tidak semua rakyat AS mendukung kebijakan Bush. Sweeping warga negara asing dan pemboikotan produk AS akan merugikan diplomasi Indonesia. "Ini problem Bush dan pemerintahannya, bukan antara rakyat Indonesia dan orang Amerika," ujar dia, mengingatkan.(COK)