Sukses

Kapuspen TNI Mengakui PT Freeport Memberikan Dana

Liputan6.com, Jakarta: Pertanyaan soal pemberian dana dari PT Freeport untuk TNI terjawab sudah. TNI memang benar menerima bantuan uang sebagai kompensasi mengamankan aset perusahaan itu. Sekitar 80 persen duitnya diberikan berbentuk pemeliharaan kesehatan, alat transportasi, perumahan, dan biaya makan prajurit yang berjaga di Tembagapura, Papua. Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin di Jakarta, Sabtu (15/3) siang. Saat diwawancarai, Sjafrie mengaku menolak suaranya direkam.

Menurut Sjafrie, jumlah bantuan dari PT Freeport setiap tahun terus bertambah. Tercatat, sejak 2001, TNI menerima duit sekitar US$ 4,7 juta. Pada tahun berikutnya, ditambah lagi senilai US$ 5,6 juta. Data ini dibenarkan Senior Manager Corporate Communications PT Freeport Indonesia Siddharta Moersjid. Dia juga mengamini keterangan Sjafrie yang menyebutkan dana tersebut tidak kontan, tapi berupa natura atau bantuan dalam bentuk peralatan teknis. Penambahan nilai dana, kata Siddharta, karena jumlah personel TNI yang berjaga di lokasi penambangan membludak dari 200 menjadi 2.000 orang.

Penambahan pasukan tersebut dilakukan setelah terjadi kerusuhan di Tembagapura dan Timika pada 1996. Dari informasi yang dihimpun Liputan6.com, ketika itu kericuhan terjadi lantaran permintaan bantuan sosial sebanyak satu persen dari pendapatan kotor PT Freeport tidak dikabulkan. Insiden itu mengakibatkan belasan orang terluka. Pascakejadian itu, Direktur PT Freeport Indonesia Hoediatmo Hoed langsung dicopot dari jabatannya.

Angka itu berbeda dengan keterangan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto saat ditanyai wartawan, kemarin. Menurut Panglima, prajurit yang bertugas menjaga PT Freeport sebanyak 600 personel. Di sana, mereka hanya mendapat uang makan dan uang saku. "Kalau 600 orang [prajurit], satu orang mendapat [Rp] 2 miliar baru benar," kata dia, menghitung [baca: Panglima TNI: Saya Tidak Disetori Uang Freeport ].(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)