Sukses

Provinsi Kalimantan Utara Siap dan Mendukung Penerapan Kurikulum Merdeka

Liputan6.com, Jakarta Kunjungan kerja guna melihat kesiapan sekolah dalam melaksanakan Kurikulum Merdeka dilakukan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Selain kesiapan, kunjungan kerja ini sebagai upaya meminta dukungan pemerintah daerah terhadap Kurikulum Merdeka.

Kunjungan kerja kali ini dilakukan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Sesditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen) Sutanto ke Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara pada Rabu (27/7) dan Kamis (28/7) lalu. Kunjungan ini disambut langsung oleh Gubernur Provinsi Kalimantan Utara  H. Zainal A Paliwang SH, M.Hum. di kantornya. 

Hadir pula Bupati Bulungan yang diwakili oleh Sekretaris Daerah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bulungan, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Utara, Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Kalimantan Utara, perwakilan Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Kalimantan Utara, Komisi IV DPRD Kabupaten Bulungan, dewan pendidikan, pengawas, kepala sekolah, serta tim konsultan daerah di bidang pendidikan dari Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI).

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

185 Sekolah Terapkan Kurikulum Merdeka

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bulungan Suparmin Setto mengungkapkan kesiapannya dalam mengawal penerapan Kurikulum Merdeka. Sejumlah upaya sudah dilakukan oleh pihaknya, seperti pembentukan tim teknis untuk mengadaptasi Kurikulum Merdeka serta melakukan sosialisasi melalui komunitas belajar, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru dan Kepala Sekolah (MGMP), maupun Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S).

Dukungan terhadap implementasi Kurikulum Merdeka juga ditegaskan oleh Kepala Dinas Provinsi Kalimantan Utara Teguh Henri Sutanto. 

“Kami mendukung dan siap melaksanakan Kurikulum Merdeka di Provinsi Kalimantan Utara,” tegasnya.

Di tahun ajaran 2022/2023 ini, 185 sekolah di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara mulai mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, dengan rincian 159 sekolah memilih Mandiri Belajar, 4 sekolah memilih Mandiri Berubah, dan sisanya memilih Mandiri Berbagi.

3 dari 4 halaman

Cegah Ketertinggalan Pembelajaran

Ada anggapan yang berkembang di masyarakat, bahwa ganti menteri ganti kurikulum. Pada kesempatan kali ini, Sutanto pun meluruskan asumsi tersebut. Baginya, ini merupakan ikhtiar pemerintah dalam memulihkan pembelajaran pasca pandemi di tahun 2020 hingga awal 2022 dan juga sebagai langkah langkah strategis dalam memitigasi learning loss

Selain itu, Sutanto juga mengimbau agar dinas pendidikan dapat mendukung apapun pilihan tahap implementasi Kurikulum Merdeka yang dipilih sekolah, baik itu Mandiri Belajar, Mandiri Berubah, ataupun Mandiri Berbagi. 

“Kurikulum Merdeka memberi keleluasaan kepada sekolah untuk memilih tahapan kurikulum sesuai kesiapannya masing-masing,” jelasnya.

Sebelumnya, Mendikbudristek Nadiem Makarim menjelaskan satuan pendidikan diberikan kebebasan menentukan tiga kurikulum yang akan dipilih. Yakni Kurikulum 2013 penuh, Kurikulum Darurat (Kurikulum 2013) yang disederhanakan, dan Kurikulum Merdeka.

Nadiem pun menyebut penyederhanaan Kurikulum Darurat ini efektif memitigasi ketertinggalan pembelajaran (learning loss)

“Sekolah-sekolah yang pindah ke kurikulum darurat, kemudian Sekolah Penggerak yang kini menerapkan Kurikulum Merdeka, learning loss-nya ada yang berkurang hingga 50 persen,” ujar Nadiem.

4 dari 4 halaman

Hasil Kunjungan ke Sekolah

Dalam kunjungan kerja tersebut, Sesditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen juga berkunjung ke tiga sekolah, yaitu SD Negeri 013 Tanjung Selor, SMP Negeri 1 Tanjung Selor, dan SMA Negeri 1 Tanjung Selor. Di tahun ajaran 2022/2023 ini, SD Negeri 013 Tanjung Selor memilih Mandiri Belajar. 

Warsiyah, Kepala SD Negeri 013 Tanjung Selor mengaku senang atas kunjungan Sesditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen ke sekolahnya. Sebagai sekolah rintisan literasi kelas awal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah setempat bersama INOVASI, sekolah ini telah mulai mengimplementasikan pembelajaran berbasis proyek sejak tahun 2017.

“Kami sangat senang dan berterima kasih atas kunjungan dan perhatian bapak Sesditjen ke sekolah kami. Kami  ingin menunjukkan bahwa di tengah keterbatasan, SDN 013 Tanjung Selor juga bisa melaksanakan Kurikulum Merdeka. Meski kami sering terkendala di jaringan internet, tapi kami selalu berdiskusi di KKG, baik di tingkat sekolah maupun di tingkat yang lebih luas,” terangnya.

Serupa dengan SD Negeri 013 Tanjung Selor, SMP Negeri 1 Tanjung Selor juga menerapkan Mandiri Belajar. 

“Kami punya guru penggerak di sekolah ini yang sering kami jadikan teman diskusi. Selanjutnya, kami berencana untuk mengadakan diskusi rutin di komunitas belajar mini di sekolah setiap hari Jumat dan Sabtu, serta memanfaatkan forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk lebih mendalami implementasi Kurikulum Merdeka,” jelas Neni Martini, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.

Sementara itu, SMA Negeri 1 Tanjung Selor memilih tahap Mandiri Berubah. Dan salah seorang guru mengaku bahwa tantangan Kurikulum Merdeka adalah tuntutan kemandirian, bukan hanya bagi guru, tapi juga siswa. 

“Saya berusaha menjelaskan pada siswa bahwa proyek itu bukanlah beban tambahan, melainkan tantangan agar mereka bisa mengembangkan keterampilannya,” ungkap Christina, guru kelas X di SMAN 1 Tanjung Selor.

 

(*)

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS