Sukses

Journal: Sensasi Film Horor, Cuan Gede di Balik Bulu Kuduk Merinding

Liputan6.com, Jakarta - Usia Lenny Tambun memang sudah tak muda lagi. Tapi kegemarannya menonton film di bioskop tak pernah luntur. Apalagi untuk menikmati sajian film horor yang menjadi salah satu kesukaannya. Anak semata wayangnya pun seringkali menemaninya untuk menonton bersama.

Film horor menurut Lenny dapat menjadi pelampiasan kepenatan setelah bekerja. Musiknya yang khas membuat adrenalinnya terpacu. Beberapa kali teriakan karena kaget ketika menonton film horor menjadi hal yang disukainya.

"Sebenernya sih ketegangannya yang bikin senang buat nonton film horor. Bikin teriak-teriak bisa melepaskan stres, toh yang nakutin suara musiknya," kata Lenny kepada Liputan6.com.

Selain menaikkan adrenalinnya, Lenny mengaku sebuah film horor mempunyai ending yang membuat penasaran dan ingin menonton kelanjutannya. Lenny juga mengaku diajak berimajinasi oleh film-film horor yang ditontonnya.

Film-film yang dibintangi Suzanna merupakan film horor yang seringkali dia tonton berulang. Bahkan lebih dari 40 judul film horor telah ditontonnya sejak muda hingga usia 45 tahun. Film yang ditontonnya pun beragam. Mulai dari produksi dalam negeri hingga luar negeri.

Namun film yang menurutnya sering terbayang-bayang adalah produksi Indonesia dan Thailand. Lenny juga sempat ketakutan usai menonton sebuah film. Di mana dia seringkali membayangkan ada hantu di sebuah kebon kosong, hutan, ataupun pohon besar.

"Tapi tetap pantang menyerah, masih aja nonton terus, film horor is my life. Paling menyeramkan itu film horor Indonesia, karena hantunya kita familiar sama namanya, lalu produksi Thailand mistisnya dapat, musiknya, lalu lokasinya pengambilan filmnya itu bikin menarik," Lenny menjelaskan.

Kegemaran untuk menonton film horor juga disampaikan Ryana Aryadita. Beberapa kali film horor produksi dalam negeri maupun negara lain dia tonton di bioskop. Film horor menurutnya sangat menguji adrenalin dan memiliki tantangan tersendiri. Apalagi ketika sebuah film yang ditayangkan di bioskop.

"Apalagi kalau nonton di bioskop terus pada kaget dan teriak tuh kayak seru gitu," kata Aryadita kepada Liputan6.com.

Film horor yang menampilkan sosok hantu hingga teror makhluk aneh lainnya menjadi hal yang disukainya. Sejumlah judul film horor menjadi favoritnya. Misalnya film "Shutter", "Alone" dari Thailand dan "Death Bell" dari Korea Selatan.

Kemudian "Pengabdi Setan", "Sebelum Iblis Menjemput", "Perempuan Tanah Jahanam", hingga "Suzanna: Bernapas dalam Kubur" masih menjadi film produksi dalam negeri yang akan direkomendasikannya kepada orang lain.

"Seru aja nontonnya sambil nahan napas dan ngeliat layar yang kayak ketumpahan tinta alias gelap," Aryadita menandaskan.

 

 
2 dari 5 halaman

Cuan Besar

Animo besar masyarakat Indonesia terhadap film horor inilah yang membuat film-film yang bisa membuat bulu kuduk merinding ini laku keras di pasaran, lima tahun belakangan ini. Mulai dari "Pengabdi Setan", "Jailangkung" (2017), "Suzanna: Bernapas dalam Kubur" (2018), hingga terakhir, "KKN di Desa Penari" mendapat sambutan sangat bagus di layar-layar bioskop.

Bahkan, "KKN di Desa Penari" yang digarap sutradara Awi Suryadi, mampu meraih 7 juta penonton setelah tayang selama 19 hari atau sejak 30 April 2022. Film ini melewati torehan "Pengabdi Setan" yang sempat meraup 4,2 juta penonton pada tahun 2017.

"KKN di Desa Penari" juga menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa mengungguli "Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1" (2016) dan "Dilan 1990" (2018) yang masing-masing ditonton 6,8 juta orang dan 6,3 juta orang.

Bisa dibayangkan berapa besar cuan yang didapat MD Pictures, selaku rumah produksi yang membuatnya.

Jika menggunakan hitung-hitungan yang kerap digunakan semasa sebelum Pandemi Covid-19, di mana produser mendapat Rp 15.000 dari setiap tiket, terbayang sudah keuntungan yang diraup MD Pictures, tentu setelah dikurangi biayai produksi film ini yang disebut-sebut mencapai Rp 15 miliar.

Sementara jika dihitung dari pendapatan kotor dari total 7 juta penonton dikalikan harga tiket termurah di bioskop, sebesar Rp 35.000, total cuan dari film yang sempat rilis tertunda akibat pandemi Covid-19 ini bisa mencapai Rp 245 miliar!

Kedekatan dengan Hal Mistis

Film horor produksi dalam negeri sangat beragam, mulai dari cerita hantu hingga membuat ulang dengan judul yang sama.

Kritikus dan Pengamat Film, Wina Armada Sukardi menyatakan tak semua film horor garapan dalam negeri meraih sukses besar. Namun, film horor merupakan salah satu genre yang disukai oleh masyarakat Indonesia setelah komedi. Menurut dia, ada faktor sosiologis yang menyebabkan film horor mendapatkan tempat tersendiri oleh penonton dalam negeri.

"Kalau kita lihat karakteristik sosiologis bangsa Indonesia menyukai hal-hal yang masih bersifat humor, kemudian juga yang kedua menyukai hal-hal yang bersifat mistis yang ketiga dan sebagainya itu yang ada religius, romantis," kata Wina kepada Liputan6.com.

Wina menjelaskan, meskipun saat ini teknologi canggih dan modern masyarakat Indonesia masih banyak yang terlibat atau menggandrungi hal-hal mistis. Misalnya seorang profesor dengan akademisi tinggi masih mendatangi kuburan keramat, hingga hebohnya ritual pawang hujan saat penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2022.

Menurut dia tak ada sub ganre horor yang spesifik yang diminati penonton Indonesia. Sebab pelepasan emosional seperti halnya ketegangan yang dibangun dari unsur-unsur mistis dalam film tersebut.

"Walaupun dengan satu catatan tidak berarti semua film horor sebuah film itu pasti langsung meledak, tidak tentu. Di situ ada marketingnya yang bagaimana awal-awal produser melakukan booming pembelian tiket untuk mendorong pada awal-awal film ini ditonton banyak orang sehingga banyak dikenal itu juga mempengaruhi. Sisi lain dari soal genre, soal tema," papar dia.

Wina juga menyatakan meledaknya sebuah film dalam negeri akan berdampak pada keterkaitan penonton negara tetangga. Seperti halnya di Singapura maupun Malaysia. Kendati begitu hal tersebut tidak menjadi jaminan sukses besar seperti di dalam negeri.

Sebab, kata dia, karakteristik sosiologis setiap negara berbeda-beda. "Tidak jaminan apa yang sukses di Indonesia itu juga akan sukses di negara-negara lain. Tapi, kalau negara-negara serumpun barangkali kesuksesan itu bisa mempunyai ekor yang panjang di negara-negara serumpun di Asia," jelas Wina.

3 dari 5 halaman

Alasan Psikologis Soal Orang Suka Film Horor

Film horor produksi dalam negeri beragam, mulai dari cerita hantu hingga membuat ulang dengan judul yang sama. Meksipun tak semua film horor mendulang kesuksesan, namun genre tersebut memiliki penikmat tersendiri.

Kenapa orang suka menonton film horor?

Psikolog Rini Hapsari Santosa menyatakan terdapat sejumlah alasan masyarakat suka menonton film horor. Menurut dia, film horor memiliki sisi misterius dan mistik yang menjadi daya tarik tersendiri untuk masyarakat. Sebab tema horor terasa dekat dengan konteks masyarakat Indonesia yang memiliki berbagai latar belakang budaya dan kepercayaan.

Kemudian, hal mistis juga berada dalam perbatasan antara kenyataan atau fiksi atau khayalan. Selain memiliki daya tarik tersendiri, mistis juga mengundang rasa ingin tahu sekaligus perdebatan.

"Jadi itu sesuatu yang memang berdiri antara kenyataan atau bukan seperti itu jadi hal yang menarik. Karena jadi di satu sisi itu relate dengan kehidupan sehari-hari karena di masyarakat kita juga mungkin banyak sedikit banyak bersentuhan dengan hal-hal mistis," kata Rini kepada Liputan6.com.

 

Rini menjelaskan, menonton seperti halnya membaca yang memberikan pengalaman tersendiri kepada orang yang menikmatinya. Penonton juga merasa menjadi bagian dari alur film yang disajikan. Sebab sebuah tayangan atau film memang didesain untuk menggugah penonton dan biasanya terbawa.

Ketika merespons stimulus yang ditampilkan, tubuh juga akan bereaksi secara fisik ataupun psikologis. Seperti halnya menonton film horor yang biasanya memberikan sensasi yang cukup intens. Mulai dari penonton yang berdebar-debar dan ketegangan saat menyaksikan adegan yang dianggap menakutkan atau mengagetkan.

Rini menilai dinamika sensasi naik turun itu biasanya yang disukai para penikmat film horor. Kendati begitu respons setiap orang akan berbeda tergantung akumulasi pengalaman dan minatnya.

"Jadi kalau dia udah berkali-kali nonton terus juga emang karena pengalaman tegang diikuti dengan rileks. Saat tegang kita berdebar-debar jadi ikut tegang badan tegang, otot tegang kalau udah selesai ada efek kelegaan juga," ucapnya.

"Karena itu penting untuk tetap memperhatikan batas usia penonton dan batas rasa nyaman diri kita pribadi. Adegan atau stimulus yang terlalu intens dapat dirasakan terlalu mengganggu bagi sebagian orang," Rini menandaskan.

 

4 dari 5 halaman

Film Horor Stabil di Papan Tengah

Untuk sebagian orang merasa bingung ketika seseorang harus rela mengeluarkan sejumlah uang untuk menonton hal yang dianggap menakutkan atau ditakut-takuti.

Berdasarkan pada laman Psychcentral terdapat empat alasan kenapa orang memilih atau menyukai sebuah tayangan horor. Pertama yaitu adanya perasaan puas setelah menonton film. Sensasi sesudah selesai menonton film horor merupakan hal yang menyenangkan bagi pecinta film horor seperti diungkapkan Glenn Sparks dari Brian Lamb School of Communication, Purdue University, Amerika Serikat. Sesudah keluar bioskop, bukan takut yang dirasakan, melainkan senang telah berhasil menonton film tersebut. 

Kemudian, penikmat adrenalin tinggi yakni berdasarkan data sekitar 10 persen orang di dunia menikmati adrenalin tinggi seperti saat menonton film horor. Lalu adanya faktor gender. Dalam sebuah penelitian menunjukkan lebih banyak pria yang menikmati film horor.

Selanjutnya, film horor dinilai dapat melepaskan penat. Beberapa orang menyukai menonton film horor karena menikmati rasa ditakut-takuti dan hal tersebut mampu membuat orang-orang tersebut seolah melepaskan stres yang dihadapi.

Pengamat film, Adrian Jonathan menyatakan film horor Indonesia mulai tahun 2000-an cukup konsisten yang setiap tahun ada di bioskop tanah air. Saat itu kata dia ada sekitar 20-30 film horor setiap tahunnya. Bahkan secara penghasilan juga cukup menguntungkan.

"Rata-rata cukup okelah dalam segi penghasilan, oke dalam arti balik modal atau di papan tengah box office Indonesia seringnya di situ," kata Adrian kepada Liputan6.com.

Untuk jumlah penonton saat itu rata-rata menunjukkan angka sekitar 100 ribu sampai 200 ribu orang. Menurut dia, tak banyak alasan khusus kenapa masyarakat Indonesia menyukai film horor. Adrian menilai alur cerita dari pengalaman nonton film horor cukup dapat diprediksi akhir ceritanya.

"Dia (film horor) relatif lentur atau mudah untuk dicerna atau ditonton untuk berbagai kalangan kalau dibandingkan misal dengan drama contoh film-film drama populer dalam arti box office Indonesia," ucapnya.

Lalu, Adrian menyatakan basis peminat film horor di Indonesia juga cukup tinggi. Kendati begitu dia menyatakan film horor sempat mengalami penurunan ketika mulai tahun 2010-an. Hingga akhirnya pada tahun 2017 ke atas penonton sejumlah film horor di Indonesia cukup bagus. Saat itu film horor terlaris dipegang oleh "Pengabdi Setan" (2017) yang mencapai 4,2 juta penonton.

Euforia Faktor Eksternal

Kemudian disusul dengan film lainnya seperti "Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur" (2018) dengan 3.346.185 penonton, "Danur: I Can See Ghosts" (2017) ada 2.736.391 penonton, hingga "Jailangkung" (2017): 2.550.271 penonton. Setelah adanya pandemi Covid-19 dan bioskop sempat dilakukan penutupan sementara film horor "KKN di Desa Penari" mencatat rekor baru dengan penonton hingga 7 juta orang selama 19 hari penayangan.

Adrian menilai rekor tersebut juga diiringi dengan sejumlah faktor eksternal yang menjadikan euforia penonton tetap terjaga meskipun perilisan sempat tertunda beberapa kali. "Tapi ada faktor eksternal, hype ceritanya tinggi banyak yang menunggu. Faktor lain film Indonesia yang paling besar marketing paska pandemi ya KKN di Desa Penari, kayak kran air kebuka aja gitu. Momentumnya pas," ujar dia.

 

5 dari 5 halaman

Game Changer

Sementara itu, Adrian menilai, sebenarnya untuk masalah konten film horor saat ini yang disajikan tak beda jauh dengan yang sebelumnya. Atau kata lain mengembalikan pakem lama yakni horor pedesaan. Hal itu pernah besar pada masanya yang seringkali mengangkat isu urban legend ataupun sub urban.

"Nyaris film laris, film horor laris atau bahkan kebanyakan film laris lima tahun terakhir adalah film-film hasil pengolahan IP yang brillian," Adrian menandaskan.

Sebelumnya "KKN di Desa Penari" merupakan cerita viral di Twitter yang akhirnya diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi MD Pictures. 

Sutradara film "KKN di Desa Penari", Awi Suryadi memprediksi film arahannya akan menembus 8 juta penonton pada Senin (23/5/2022). Hal tersebut disampaikannya saat acara Perubahan Tren Film Indonesia Pasca Covid-19 Melandai secara daring, Jumat (20/5/2022).

Menurut dia, film dengan ganre horor penyelamat industri layar lebar akibat pandemi Covid-19. Fenomena itu kata dia juga terjadi disejumlah negara seperti halnya Thailand.

"Saya harap KKN di Desa Penari jadi game changer. Dalam artian produser makin berani investasi bujet produksi yang serius untuk genre ini. Semester kedua akan dilanjutkan dengan IP horor besar yaitu Pengabdi Setan 2,” kata Awi Suryadi.