Sukses

Novel Baswedan Yakin 75 Pegawai KPK Tidak Putus Asa Tak Dilantik Jadi ASN

Liputan6.com, Jakarta - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menduga, pelantikan 1.271 pegawai menjadi aparatur sipil negara (ASN) untuk menjatuhkan mental dirinya dan 74 pegawai tak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK).

Menurut Novel Baswedan, hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Novel menegaskan, dia dan 74 pegawai KPK tak lulus TWK tak putus asa berjuang memberantas tindak pidana korupsi.

"Saya menduga upaya memaksakan pelantikan untuk membuat 75 pegawai KPK ini putus asa atau kecewa. Tapi saya yakin tidak terjadi demikian, karena komitmen kawan-kawan (75 orang) ini benar-benar untuk menjaga harapan agar tetap bisa berbuat dalam upaya memberantas korupsi," ujar Novel kepada Liputan6.com dikutip Rabu (2/6/2021).

Novel menduga, pelantikan terhadap 1.271 pegawai menjadi ASN pada, Selasa 1 Juni 2021 adalah kemauan Ketua KPK Firli Bahuri. Menurut Novel, Firli memaksakan pelantikan meski tes wawasan kebangsaan masih menjadi polemik.

"Setahu saya yang memaksakan diri untuk dilakukan pelantikan pada 1 Juni 2021 adalah Pak Firli Bahuri. Tidak ada aturan atau norma yang memerlukan pelantikan secara terburu-buru seperti ini," kata Novel.

Novel menilai, Firli memiliki kepentingan tertentu dalam proses pelantikan ASN terhadap pegawai KPK. Menurut Novel, tujuan Firli adalah menyingkirkan 75 pegawai yang tak lulus TWK dan tak dilantik sebagai ASN pada Selasa 1 Juni 2021.

"Hal ini menambah keyakinan bahwa ada suatu kepentingan Firli Bahuri untuk menyingkirkan 75 pegawai KPK yang bekerja baik," kata Novel Baswedan.

2 dari 3 halaman

Firli Bahuri: Tidak Ada Upaya Menyingkirkan Siapa pun di KPK

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri menegaskan bahwa tidak ada upaya menyingkirkan siapapun di lembaga antirasuah itu.

"Saya agak heran kalau ada kalimat ada upaya menyingkirkan, saya katakan tidak ada upaya untuk menyingkirkan siapapun," katanya saat jumpa pers di KPK, Jakarta, Selasa (1/6/2021).

Firli menegaskan, semua pegawai yang mengikuti TWK di tes dengan alat ukur yang sama. Pertanyaan dan modulnya juga tidak berbeda.

"Kenapa saya pastikan itu? karena tes wawasan kebangsaan yang dilakukan diikuti oleh 1.351 pegawai dengan ukuran sama, instrumen yang sama, alat ukurnya sama, waktu mengerjakan sama, pertanyaannya sama, modulnya sama, hasilnya memenuhi syarat 1.271. Yang tidak memenuhi syarat 75," tuturnya.

Dia menambahkan, semua pegawai yang ikut TWK dilakukan dengan kriteria dan sesuai syarat, mekanisme dan prosedur. Sehingga, hasil akhirnya tak ada yang memenuhi dan tidak memenuhi syarat.

"Jadi tidak ada upaya untuk menyingkirkan siapapun, kami pimpinan tidak ada satu pun niat untuk menyingkirkan seseorang, tapi hasil tes wawasan kebangsaan adalah hasil sendiri," jelasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: