Sukses

Kisah Petra, WNI yang Tinggal di India saat Gelombang Tsunami Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini India sedang dirundung duka lantaran kasus virus Corona yang menyebabkan Covid-19 melonjak tiba-tiba.

Kondisi ini sama sekali tak pernah disangka, sebab angka positif Covid-19 sempat menurun pada beberapa bulan sebelumnya, tetapi kini malah menembus 20 juta jiwa.

Mereka yang terpapar kini sedang berjuang, melawan virus yang menyerang, dan berharap kesembuhan akan datang.

Banyak kisah pilu dari sana. Cerita dari mereka yang kesulitan mendapat tabung oksigen dan kamar perawatan tak tersedia, hingga kehilangan keluarga tercinta. India luluh lantak karena Corona.

Petra, warna negara Indonesia (WNI) yang tinggal di India, salah satunya. Ia ingin berbagi kisah tentang kondisi terkini negara Bollywood, setelah dihantam gelombang tsunami corona.

Petra tinggal di kawasan Hyderabad, salah satu kota di India. Sejak kasus Covid-19 diumumkan tahun lalu, Petra sebenarnya tak terlalu banyak keluar rumah. Itu pula yang menyebabkan dirinya terlambat tahu ada gelombang kedua Covid-19 di India.

"Sebenarnya aku baru tahu beritanya beberapa minggu lalu karena selama ini aku di rumah terus, dan aku tidak mau paranoid. Jadi tidak mau sering ikutin berita," cerita Petra saat berbincang dengan merdeka.com melalui sambungan telepon pada Selasa, 4 Mei 2021.

Kabar adanya gelombang kedua Covid-19 di India justru didapat Petra dari rekannya di Indonesia. Setelah mendapatkan informasi itu, segera Petra mencari kebenarannya.

Petra menceritakan, gelombang kedua Covid-19 di India membawa rasa sedih tersendiri buatnya. Apalagi, beberapa teman dekatnya ikut terpapar.

Kadang kala saat rasa was-was datang, Petra tak bisa menahan kesedihannya. Tetapi dia berusaha melawan ketakutannya.

"Kayak sekarang teman-temanku itu ada sebelas orang yang kena. Kalau dulu waktu selama setahun lockdown tidak ada temanku yang kena. Ada pun tapi cuma kenal. Nah ketika gelombang kedua, ada 11 orang teman kena. Jadi lebih terasa," ucap Petra.

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 7 halaman

Layaknya Kota Mati

Petra tinggal di India karena mengikuti sang suami. Sudah tiga tahun terakhir sejak 2017 lalu, dia menetap di Hyderabad.

Menurutnya, pandemi membuat kondisi India khususnya Hyderabad berubah sangat drastis. Apalagi ketika tahun lalu, saat India benar-benar lockdown.

Menurut Petra, kala itu kawasan permukimannya benar-benar seperti kota mati. Hampir tak terlihat aktivitas warga di luar rumah.

Sampai datanglah vaksin Covid-19. Pelan-pelan, warga mulai berani keluar rumah dengan tetap menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan menjaga jarak.

Pusat perbelanjaan juga sudah dibuka kembali. Tetapi, tetap diberlakukan sistem antre. Sekalipun datang dengan pasangan, hanya salah satu yang boleh masuk. Sehingga suasana tatanan hidup baru atau new normal benar-benar dirasakan.

"Tapi aku tidak bilang semua daerah di India kayak gitu ya. Itu yang aku lihat di daerah ku di Hyderabad seperti itu," kata Petra.

Saat itu, kasus harian Covid-19 di India juga mulai menurun.

 

3 dari 7 halaman

Kasus Melonjak Setelah Festival Keagamaan

Tetapi siapa sangka, angka positif Covid-19 tiba-tiba saja melonjak pada April lalu. Petra mengaku kaget dan sempat tak percaya.

Disebut-sebut, melonjaknya angka positif setelah acara festival keagamaan. Tetapi Petra tidak mengetahui pasti soal itu.

"Tetapi yang bisa saya katakan, di India itu kan banyak banget festivalnya. Kalau di Indonesia, Hindu itu setahuku cuma Nyepi. Kalau di sini Nyepi-nya banyak, jadi kayak satu daerah nyepi hari ini, mungkin daerah lain Nyepi bulan kapan. Dan di sini perayaannya Nyepi-nya itu bukan sepi kayak di tempat kita. Tapi udah kayak bener-bener kumpul-kumpul main petasan, pokoknya kumpul-kumpul," papar Petra.

Banyak pemberitaan luar negeri mengabarkan bagaimana kondisi masyarakat India terpapar Covid-19 di gelombang kedua ini. Potret dan narasi yang disampaikan benar-benar menguras air mata.

Menurut Petra, kondisi warga yang dimuat dalam pemberitaan itu bukan di daerahnya. Sepengetahuannya, kondisi terparah terjadi di Mumbai, Kerala, dan New Delhi.

"Kalau di tempatku ada, tapi tidak sampai seperti yang di berita yang kehabisan oksigen. Kenapa aku bilang begini, karena ada tetanggaku kena dan dia harus dilarikan ke RS, kalau di berita katanya enggak dapat kamar dan oksigen, tetapi tetanggaku dapat. Jadi, aku nilainya gini, ini tergantung wilayahnya dulu, kalau wilayah tempatku sejauh ini bisa dapat, tapi apa yang aku sampaikan tidak bisa mewakili orang-orang yang ada di luar sana, di wilayah berbeda," jelas dia.

Dia juga tidak mengetahui persis kondisi di wilayah paling tinggi terpapar Covid-19. Petra hanya memantau informasi dari teman-temannya di grup percakapan.

"Mereka tidak cerita detail di grup, paling kalau ada teman yang kena, ada juga teman kita cari ventilator. sekali lagi cuma dengar dari teman bukan dari berita, dari seorang teman. Kalau di daerahku masih dapat, mereka yang gejala tidak parah, karantina di rumah," jelas dia.

Di Hyderabad, katanya, berdasarkan aplikasi pemantau Covid-19 yang dibuat pemerintahan setempat, tercatat kasus aktif pada 4 Mei kemarin mencapai 79.520, sembuh 381.365, meninggal 2.476, yang terkonfirmasi 463.361.

 

4 dari 7 halaman

Hyderabad Setelah Gelombang Kedua Covid-19

Meskipun gelombang kedua Covid-19 terjadi di India, Petra tidak terlalu sering mendengar lalu lalang ambulans.

Tetapi, yang dirasakan berbeda lebih pada interaksi dengan tetangga yang kembali terbatas dan dia memahami itu. Petra berharap pemerintah setempat kembali memberlakukan lockdown agar jumlah kasus aktif di wilayahnya tidak terus bertambah.

"Kalau kondisi kayak di tempat tinggalku, tetanggaku udah mulai tidak mau keluar lagi. Kalau kemarin udah sempat tukaran makanan, pas kondisi membaik. Tapi sekarang udah tidak lagi, tidak berani. Terus aku juga berharap ada lockdown, tapi sekarang kita ada jam malam night curfew. Jadi dari jam 9 malam tidak boleh keluar, toko jam 8 malam udah tutup sampai jam 5 pagi," ucap Petra.

Sedangkan lalu lintas di wilayahnya juga cenderung sama seperti setelah lockdown sebelumnya dibuka. Tidak padat seperti sebelum pandemi Covid-19, tetapi masih ada beberapa kendaraan melintas.

Apalagi, sebagian besar perkantoran masih memberlakukan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH). Begitu juga aktivitas sekolah yang belum terlihat.

"Ini kan dulu penuh ya kawasannya. Kalau sebelum covid dulu kan selalu ada motor lewat, minimal orang sini kan suka klakson jadi tahu saja (ada kendaraan), sekarang dengar, tapi sesekali tidak seperti dulu," kata dia.

Selama jam malam, lanjut Petra, petugas juga selalu berpatroli. Bahkan patroli ketat petugas juga dilakukan sebelum India dilanda Covid-19.

Dikarenakan belum ada penguncian wilayah, sambung Petra, dirinya masih bisa dengan mudah berbelanja. Dia juga tidak melihat ada kelangkaan masker atau hand sanitizer.

 

5 dari 7 halaman

Sikap Pemerintah di India

Gelombang kedua Covid-19 sudah beberapa pekan melanda India. Lalu bagaimana sikap pemerintah setempat?

Petra belum bisa menilai apakah penanganan gelombang kedua Covid-19 lebih baik atau lebih buruk dibandingkan saat awal kasus ini masuk India. Tetapi dia melihat, saat ini ada sebagian warga yang mendukung pemerintah, tetapi tak sedikit yang menyalahkan.

"Kalau untuk gelombang pertama menurutku cukup baik kan ada lockdown, penyuluhan, dan lain lain. Tapi kalau untuk gelombang kedua, nah ini yang aku masih merasa kurang yakin untuk bilang baik atau tidak karena ini kejadiannya juga baru mulai baru-baru ini," jelasnya.

Di tengah kondisi tak menentu di India, sebagai perantauan Petra merasa rindu orang tua dan kampung halaman. Tetapi, dia tidak bisa meninggalkan India begitu saja. Ada suami tercinta yang tak mungkin ditinggalkan. Itu sebabnya, dia memilih bertahan sementara waktu. Sampai kabar bahagia itu tiba, Corona tiada.

"Harapan saya semoga keadaan di India cepat pulih, sehat semua, dan kehidupan bisa berjalan dengan normal," tutup Petra.

 

Reporter: Lia Harahap

Sumber: Merdeka

6 dari 7 halaman

Varian B117 Covid-19 Seperti di India Sudah Masuk Indonesia

7 dari 7 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: