Sukses

Pencarian 53 Kru KRI Nanggala 402 Berpacu dengan Waktu

Liputan6.com, Jakarta - Pencarian kapal selam KRI Nanggala 402 yang hilang kontak terus dilanjutkan. Keberadaan kapal harus segera terdeteksi agar seluruh penumpang bisa cepat diselamatkan. Mengingat ketersediaan oksigen di kapal selam hanya bertahan dalam waktu 72 jam.

Terkait hal ini, Kapuspen TNI Mayjen Achmad Riad menerangkan, tim bakal mengerahkan segala kemampuan pada operasi pencarian kapal selam hari ini. Dia tak mau berspekulasi terkait hasil akhir.

"Kita tidak bisa memberikan spekulasi apapun terkait itu. Yang jelas kita upayakan saja dulu lah. Pokoknya sampai batas waktu besok jam 3, dimaksimalkan hari ini," ujar Riad dalam keterangannya, di Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (23/4/2021).

Riad berharap mendapatkan kabar baik terkait pencarian kapal selam yang dilakukan oleh petugas di lapangan.

"Kita mohon bantuan doanya sehingga pasukan atau peralatan yang dikerahkan bisa maksimal bisa menangkap posisi tersebut," ujar dia.

Riad mengatakan, tim yang melakukan pencarian kapal selam KRI Nanggala 402 menemukan titik magnet yang cukup kuat, yang diharapkan menjadi titik terang.

Titik ini ditemukan oleh KRI Pulau Rimau yang menemukan di kedalaman 50-100 meter melayang. Adapun, ini langsung ditindaklanjuti oleh KRI Rigel.

"(Titik magnet yang ditemukan) tidak berubah dan akan dikejar itu. Mudah-mudahan itu menjadi titik terang," kata dia.

Dalam pencarian KRI Nanggala 402, telah dikerahkan 21 kapal untuk menyisir perairan utara Bali.

Menurutnya, jumlah ini juga termasuk mengerahkan kapal selam KRI Alugoro.

"Totalnya 21 unit KRI termasuk KRI Alugoro yaitu kapal selam juga," kata dia.

Tak hanya TNI, pihak Polri juga turut membantu dalam melakukan pencarian kapal selam KRI Nanggala 402.

"Kita juga mendapat perbantuan dari kepolisian sebanyak empat kapal yakni kapal Gelatik, Enggang, Barata, dan Balam," ujar dia.

Sementara kapal-kapal dari negara sahabat juga datang hari ini.

Salah satunya kapal asal Singapura, yakni MV Swift Rescue yang memiliki kemampuan khusus untuk penyelematan.

"Terkait kapal-kapal dari negara sahabat, ini ada MV Swift harapan kita mudah-mudahaan sore atau malam tiba," kata Riad.

Selain itu, ada pula kapal Mega Bakti asal Malaysia, lalu ada Balarat dan HS Sirius milik Australia, serta satu kapal yang dikirimkan oleh pemerintah India semuanya direncanakan tiba hari ini.

Sementara Amerika Serikat mengirimkan airborne team atau angkatan udara mereka untuk membantu Indonesia mencari kapal selam KRI Nanggala 402 yang hilang.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan, Departemen Pertahanan AS "sangat sedih" dengan berita hilangnya kapal selam KRI Nanggala 402 yang hilang pada Rabu 21 April saat latihan di lepas pantai Bali.

"Pikiran kami bersama para pelaut Indonesia dan keluarganya," kata Kirby dalam sebuah pernyataan.

"Atas permintaan pemerintah Indonesia, kami mengirimkan aset udara untuk membantu pencarian kapal selam yang hilang," lanjutnya.

2 dari 3 halaman

Penantian Keluarga

Helen, istri Serda Diyut Subandriyo (37) salah satu anak buah kapal selam KRI Nanggala-402 yang hilang di perairan Bali, berharap agar KRI Nanggala, suaminya dan semua ABK lainnya segera ditemukan dalam keadaan selamat.

"Harapan sekaligus doa saya, juga mohon doanya kepada teman-teman Pak Diyut di seluruh Indonesia, semoga KRI Nanggala-402, Pak Diyut dan kru ABK semuanya cepat ditemukan selamat dan semuanya sehat," ujarnya Jumat (23/4/2021) seperti dilansir Antara.

Menurut Helen, kontak terakhir dengan suaminya pada hari Selasa (20/4/2021) sekitar pukul 22.00 WIB melalui pesan WA.

Setelah itu, dia berniat membangunkan sahur sang suami. Namun, pesan WA hanya centang satu atau belum terkirim.

"Rabu dini hari mau bangunin sahur dengan kirim pesan WA sudah centang satu. Setelah itu, dapat kabar jika KRI Nanggala dilaporkan hilang kontak," katanya.

Tak hanya Helen, Istri Serda Mes Guntur Ari Prasetya, juru diesel di kapal selam KRI Nanggala-402, Berda Asmara pun terus menunggu kepulangan sang suami.

Dia pun menggelar istigasah dan doa bersama secara daring untuk keselamatan suaminya beserta seluruh awak kapal lainnya.

Berda yang juga Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menceritakan, terakhir kali bertemu suaminya pada Senin 19 April kemarin atau sebelum Serda Mes Guntur Ari Prasetya bertugas di KRI Nanggala-402.

"Seperti biasa saya diantarkan ke rumah orang tua terlebih dahulu dan pamitan mau berangkat layar, hanya bilang doain selamat dik," ucap Berda.

Berda mengungkapkan sebelum berangkat, suaminya sudah berada di rumah selama lima hari karena baru selesai berlayar. Tidak ada firasat atau kegiatan berbeda yang dilakukan Serda Mes Guntur Ari Prasetya sebelum kembali bertugas di Kapal Selam KRI Nanggala.

"Setiap pulang suami selalu menanyakan kabar saya dan anak selama ditinggal, bercanda gurau," ujarnya.

Berda juga tidak bisa menahan tangis saat mengingat sosok suaminya yang sangat perhatian dan penyayang. Selama tidak berlayar, suaminya selalu memanfaatkan waktu maksimal dengan keluarga.

"Suami saat awal bekerja dahulu sudah memberi tahu saya tentang risiko kerjanya. Nunjukin video kapal selam Rusia yang hilang. Jadi mau tidak mau, siap tidak siap ya harus siap," ucapnya.

Berda mengungkapkan dirinya baru mengetahui kapal selam hilang kontak saat usai berbuka, Rabu 21 April kemarin petang, melalui grup ibu-ibu KRI Nanggala-402.

Menurutnya saat berlayar memang tidak bisa dikontak sampai tiga atau empat hari setelah sandar. "Ternyata hilang kontak kapalnya, dan saya lihat di internet memang ada berita hilang kontaknya," ucapnya.

Hingga saat ini Berda mengaku masih menunggu kabar KRI Nanggala-402 melalui grup para istri, namun belum ada kabar apapun.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: