Sukses

Kemensos: Penanganan Korban Bencana Butuh Keseriusan dan Gerak Cepat

Liputan6.com, Jakarta Memastikan kehadiran negara di tengah masyarakat merupakan tugas setiap anggota Kabinet Indonesia Maju, terlebih di saat bencana. Komitmen tersebut telah dibuktikan oleh Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini di setiap bencana di Tanah Air, Risma selalu turun langsung ke lapangan tanpa pandang hari dan waktu, Sabtu, Minggu, pagi, siang, sore hingga dini hari, tetap hadir.

Diakui oleh Mensos Risma untuk terjun ke lokasi bencana, membutuhkan stamina dan fisik yang prima, sehingga komando di lapangan tidak main-main. Sebab, rakyat menjadi taruhan untuk memberikan perlindungan, rasa aman, serta kepastian.

Tentu saja, dalam pelaksanaan memperhatikan situasi dan kearifan lokal warga setempat menjadikan berbagai paket bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dari para korban bencana alam, mulai dari permakanan hingga logistik.

Di lokasi bencana, Kementerian Sosial tidak bisa bekerja sendirian melainkan menjalin kerja sama dengan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota, serta pilar dan potensi kesejahteraan sosial. 

Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi), Kemensos menangani usai masa tanggap darurat bencana dan tak sekedar memberikan bantuan sosial, melainkan ada Layanan Dukungan Psikososial (LDP) dan trauma healing bagi korban bencana.

 

 

2 dari 2 halaman

Kemensos Ajak Semua Pihak Bekerja All Out

Dari setiap kunjungan ke lokasi bencana, Mensos Tri Rismaharini selalu mengajak pihak terkait untuk bekerja all out, cepat, mengutamakan pemenuhan kebutuhan permakanan korban bencana, serta berkoordinasi dengan Pemda setempat. 

Kemensos sudah bekerja all out, cepat, mengutamakan pemenuhan kebutuhan pengungsi, serta berkoordinasi dengan Pemda. Maka, patut disayangkan, jika sikap tegas dan serius Mensos disalahpahami padahal sedang menjalankan tugas negara.

Kepada seluruh jajaran di Kemensos RI, Mensos memberikan sinyal tegas sejak 23 Desember 2020 usai dilantik langsung ‘blusukan’ ke pemulung di kolong jembatan. 

Terlebih saat bencana, bukan ‘marah-marah’ melainkan memotivasi agar Tagana gerak cepat mendirikan Dapur Umum (DU) supaya segera memenuhi konsumsi korban bencana yang secara psikologis sedang tidak stabil dan rapuh jiwanya.

Dari setiap bencana yang menjadi korban adalah para lanjut usia (lansia), balita, anak-anak, perempuan, ibu hamil, serta penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan dengan cepat. 

Bukan kontraproduktif dan membuat ‘kegaduhan’ dengan hal-hal tidak prinsip dan fundamental. Kemensos ada di setiap bencana di ujung negeri, bukti negara hadir!

 

(*)