Sukses

HEADLINE: Tertinggi di Asia Tenggara, Apa Strategi Indonesia Tekan Kasus Covid-19?

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Hingga saat ini penyebaran kasus masih terus berlangsung di sejumlah daerah. Angkanya cukup variatif dan fluktuatif. Tercatat per hari 30 Juli 2020, kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah mencapai angka 56.385. Sementara yang sembuh 24.806 orang dan meninggal adalah 2.876 orang.

Capaian kasus ini, menjadikan Indonesia ada di urutan teratas negara di ASEAN dengan kasus Covid-19 terbanyak. Meninggalkan Singapura (46.661) dan Filipina (36.438 kasus) yang berada di peringkat dua dan tiga ASEAN. 

Lantas, apa upaya pemerintah menghentikan laju pandemi ini?

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan, pihaknya fokus mengerjakan apa sedang dihadapi saat ini. Menurutnya, pemerintah telah optimal melakukan penanganan pandemi COvid-19.

"Kenapa harus diukur pakai ASEAN? kenapa harus dibandingkan dengan negara ASEAN? Tidak ada gunanya itu," jelasnya kepada Liputan6.com, Selasa (30/6/2020).

Menurutnya, adalah tidak tepat membandikan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia dengan negara ASEAN, karena memang ada perbedaan mendasar dalam hal populasi penduduk antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Yuri menyatakan, penanganan Covid-19 di Indonesia telah mengalami banyak kemajuan. Hal itu bisa dirujuk dengan banyaknya jumlah pasien Covid yang berhasil disembuhkan dan menurunnya angka kematian yang ada saat ini.

"Kita tidak bisa mengevaluasi penyakit menular hanya dengan akumulatif jumlah yang sakit, yang positif. Kalau penyakit ini pasti ada yang sembuh kan? Makanya jangan dilihat dari yang positifnya. Apalagi dibandingkan dengan ASEAN. Penduduk Singapura saja kalah banyak sama Jakarta," jelasnya.

Menurut Yurianto yang terpenting saat ini untuk dilakukan akan menjalankan protokol kesehatan. Jaga jarak, pakai masker dan cuci harus harus sudah dilakukan tanpa harus menunggu imbauan dari pemerintah.

"Nggak usah ngomong PSBB. Yogyakarta tak pakai PSBB kasus terkendali. Aceh juga, yang masalah itu bukan mengendalikan penyakit dengan PSBB tapi dengan protokol kesehatan," katanya.

Yuri menambahkan, bicara Covid-19 saat ini tak lagi soal klaster-klaster baru yang bermunculan. Tetapi penularan lokal dari orang ke orang.

"Sudah tidak ada lagi klaster. Kalau terjadi di pasar, apa orangnya orang situ saja? Kan tidak, dari mana-mana," ujarnya.

Infografis Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara Kasus Covid-19. (Liputan6.com/Trieyasni)

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyatakan, sebagai upaya penanganan Covid-19, pihaknya mendorong percepatan produksi dalam negeri reagen PCR Covod-19 dan juga rapid test yang masif.

"Izin edar reagen PCR dan rapid diagnostic test sudah kita terbitkan saat ini," ujarnya di acara Webinar Nasional IV Bulan Bung Karno 2020, Selasa (30/6/2020).

Surat izin tersebut sebagai upaya pemenuhan ventilator terutama dalam penanganan Covid-19. Kemenkes bersama sejumlah perguruan tinggi dan lembaga penilitian bersinergi untuk menciptakan inovasi ventilator. 

"Sampai saat ini sudah dilakukan pendampingan terhadap 36 inovator untuk pengembangan ventilator. Sebanyak 4 inovator ventilator sudah berizin," ujarnya.

Terawan menyatakan, terjadi peningkatan yang signifikan terkait produksi alat-alat kesehatan untuk penanganan pandemi Covid-19 dari Februari 2020 hingga akhir Juni saat ini. Itu semua, kata dia, untuk mendukung ketersediaan produk alkes bagi penanganan Covid-19.

Lebih jauh Terawan mengimbau masyarakat untuk menggunakan jasa telemedicine atau layanan berobat jarak jauh atau online untuk meminimalisir penyebaran corona di lingkungan rumah sakit, khususnya tenaga medis. 

"Kita sudah mengimbau rumah sakit dan fasilitas kesehatan untuk mengembangkan dan menggunakan layanan kesehatan telemedicine kepada masyarakat," ujarnya.

Terus menanjaknya angka kasus positif Covid-19 membuat risau Presiden Jokowi. Dia pun meminta jajarannya segera membuat terobosan baru yang berdampak besar terhadap penanganan pandemi Covid-19 saat ini.

"Saya minta agar kita bekerja tidak linier. Saya minta ada sebuah terobosan yang bisa dilihat oleh masyarakat dan terobosan itu kita harapkan betul-betul berdampak kepada percepatan penanganan ini. Jadi tidak datar-datar saja," ujarnya di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 29 Juni 2020.

Jokowi menyatakan, saat ini beberapa provinsi masih memiliki angka penyebaran Covid-19 yang cukup tinggi. Untuk mempercepat penanganan di provinsi atau di daerah-daerah tertentu tersebut, Jokowi meminta ada tambahan tenaga medis dan alat medis dari pusat.

Jokowi juga juga meminta jajarannya mengawasi dan memberi panduan bagi daerah-daerah yang akan memulai menuju masa adaptasi kebiasaan baru. Pemerintah pusat harus turun memberikan panduan kepada daerah mengenai tahapan-tahapan yang harus dilalui sebelum membuka kembali fasilitas dan kegiatan publik maupun perniagaan.

"Saya juga minta dilihat betul daerah-daerah yang mulai masuk ke new normal. Tahapannya betul-betul dilalui baik itu prakondisi, timing-nya kapan, diberikan panduan, ada guidance dari pusat sehingga mereka tidak salah. Ada prakondisi, ketepatan timing-nya, kemudian yang ketiga prioritas sektor mana yang dibuka. Itu betul-betul diberikan panduan," katanya.

Mantan Gubernur DKI itu juga mewanti-wanti agar jangan sampai terjadi gelombang kedua pandemi corona. Sosialisasi penerapan disiplin protokol kesehatan harus dilakukan besar-besaran dengan melibatkan elemen dan tokoh masyarakat serta agama.

"Ancaman Covid belum berakhir, ancamannya masih tinggi. Kondisi masih berubah rubah, masih sangat dinamis. Oleh sebab itu kita harus menjaga jangan sampai muncul gelombang kedua, jangan sampai second wave," tambah Jokowi di sela kunjungan di Jawa Tengah, Selasa (30/6/2020).

Jokowi menambahkan, masalah Corona bukan hanya urusan krisis kesehatan. Tapi juga krisis ekonomi. Sebab, dia melihat, demand dan suplai dalam ekonomi terganggu.

"Pada kuartal pertama, kita masih tumbuh keadaan normal kita di atas 5 (persen), tapi kuartal pertama kita tumbuh 2,97 (persen), tapi di kuartal kedua, kita sangat khawatir sudah berada di posisi minus pertumbuhan ekonomi kita," ucap Jokowi.

Oleh karena itu, Jokowi meminta agar harus hati-hati dalam mengelola manajemen krisis kesehatan dan ekonomi. Dia ingin gas dan rem betul-betul diatur supaya keduanya berjalan beriringan.

"Jangan sampai melonggarkan tanpa sebuah kendali rem sehingga ekonominya bagus tapi Covid nya naik, bukan itu yang kita inginkan, Covid nya terkendali tapi ekonominya juga tidak ganggu kesejahteraan masyarakat," tutur Jokowi.

Jokowi melanjutkan, untuk mengelola keduanya tidak mudah. Terbukti, global pun mengalami resesi karena Corona.

"Dunia diperkirakan di tahun 2020 akan terkontraksi -6, sampai -7,6 artinya apa? Global dunia sudah masuk yang namanya resesi," kata Jokowi.

"Oleh sebab itu, kalau kita bisa mengatur, mengelola gas dan rem antara Covid-19, kesehatan dan ekonomi ini lah yang kita harapkan dan ini menjadi tanggung jawab kita semua bukan hanya gubernur, bupati dan wali kota, tapi jajaran forkopimda, TNI-Polri, Gugus Tugas agar betul-betul menjaga agar itu bisa berjalan dengan baik," ujar Jokowi. 

 

2 dari 4 halaman

Jangan Sekedar Kasih Perintah

Epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono pencegahan corona Covid-19 sebenarnya tidak susah. Asal, semua masyarakat diajak untuk menanggulangi pandemi bersama-sama, jangan sekadar kasih perintah.

"Awalnya kita harus menggerakkan masyarakat, lalu mengomunikasikannya. Tanpa informasi yang kuat, orang tidak akan mengerti," kata Pandu kepada Liputan6.com, Selasa, (30/6/2020).

Menurut Pandu, tidak sedikit masyarakat yang tidak mengerti alasan harus memakai masker, termasuk cara memakai masker yang benar. Edukasi yang tidak berjalan maksimal, kurangnya kampanye publik, dan tidak dilakukan secara sistematik pada akhirnya memunculkan persepsi yang keliru di masyarakat.

"Seharusnya ini dilakukan sejak awal. Sejak Maret dilakukan," katanya.

Guru Besar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI ini melanjutkan, alasan PSBB tidak optimal karena masyarakat tidak dilibatkan sejak awal PSBB diberlakukan. Masyarakat hanya disuruh tinggal di rumah, tanpa diberi alasan jelas harus tinggal di rumah yang tak disangka tiga bulan lamanya.

"Kemudian sekarang dibilang new normal atau normal yang baru. Orang menyangkanya 'Oh, sudah normal? Ini baru normal'. Begitu kerumunan diizinkan, masyarakat lupa bahwa mereka harus melakukan protokol kesehatan," katanya.

Padahal, lanjut Pandu, saat ini kondisi di Indonesia sedang tidak normal. Sebab, angka kasus Covid-19 di Tanah Air masih tinggi.

Oleh sebab itu, perlu ditanamkan di dalam diri masing-masing individu untuk selalu ingat '3M', yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

"Perilaku penduduk itu cukup 3M. Itu sudah mengurangi risiko di tengah kondisi yang tidak normal ini. Jangan dibilang normal, lah," katanya.

Pandu pun menyayangkan penggunaan kata new normal yang terlontar dari pemerintah. Menurutnya, tidak perlu memakai kata-kata itu, karena bisa memberikan persepsi yang kelru dan berbeda.

Itu mengapa penting untuk mengedukasi masyarakat secara terus menerus. Tidak cukup jika edukasi ini diselipkan sebelum Gugus Tugas melaporkan jumlah kasus COVID-19 harian di Indonesia.

Pandu, mengatakan, edukasi pun harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh.

"Kampanye publik itu dilakukan secara sistematis, tidak bisa dilakukan hanya satu orang dan satu jam. Pesannya itu harus tersampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti," Pandu melanjutkan.

Pandu, mengingatkan, Indonesia terdiri dari lapisan masyarakat yang berbeda-beda. Pun model komunikasi yang juga tak sama antara satu dan yang lainnya.

Ada yang suka yang menonton televisi, ada pula yang senangnya melihat Instagram, dengar radio, dan ada pula yang senang menonton pertunjukkan tradisional seperti wayang atau lawakan.

Sehingga, sudah seharusnya semua media digunakan untuk bisa mencapai penduduk yang memang berbeda-beda ini.

"Pengetahuan soal 3M saja tidak cukup. Harus dibiasakan juga," katanya.

"Dibiasakan, diingatkan, diingatkan, jadinya terbiasa," katanya.

Dia lalu mengibaratkan seperti seseorang yang hendak bepergian dengan pesawat terbang. Saat masuk ke dalam pesawat, semua penumpang 'dianggap bodoh', dan dimunculkanlah cara memakai sabuk pengaman, dan diingatkan kembali cara melepas sabuk pengaman.

"Ya karena itu tadi, kita sedang berada di kondisi yang penuh risiko. Sama kayak kehidupan sekarang, kehidupan yang penuh risiko," katanya.

"Anggap saja sekarang ini kita sedang naik pesawat, mau terbang yang jauh," ujarnya.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Ede Surya Darmawan menyatakan, sejauh ini sudah ada kemajuan deteksi kasus Covid-19 yang dilakukan oleh pemerintah. 

"Kan prinsipnya manajemen epidemi itu tiga ya, prevention, detection, dan response. Jadi sebenarnya dalam konteks detection makin banyak orang yang dites itu bagus," ujarnya kepada Liputan6, Selasa (30/6/2020).

Meski dalam konteks deteksinya bagus, Ede menyatakan, yang perlu dilakukan saat ini adalah penguatan masyarakatnya.

"Untuk apa? Untuk preventif supaya yang dites jangan berkurang, yang dites itu terus meningkat, temuannya berkurang gitu," jelasnya.

Jadi kalau dalam seminggu ini misalnya rata-rata sudah tes 20 ribu orang, maka yang positifnya kalau bisa turun dari 1.000.

"Kalau itu makin turun kita enggak khawatirkan dengan jumlah testing yang meningkat bahkan misalnya testingnya boleh saja sampai 100 ribu per hari enggak masalah," katanya.

Selain itu, hal lainnya yang harus  diimbangi adalah bagaimana masyarakat makin paham dan mau mencegah penyebaran Covid-19. "Itu yang penting, jangan kemudian masyarakatnya ngasal seperti sekarang kan berbahaya, bisa makin banya yang positif. Jadi tidak turun-turun," katanya.

Dalam kasus ini, pemerintah mesti didorong supaya selain tes yang masif juga menyadarkan masyarakat semua unsur sampai  ke level bawah.

"Lurah, desa sampai ke RT RW harus giat menggencarkan supaya orang mau mencegah. Jangan kemudian sudah buka masker, sudah gak cuci tangan lagi, salaman sembarangan gitu. Kalau seperti itu nanti kita ngeri, nanti malah proporsi yang positif malah makin meningkat," pungkasnya.

3 dari 4 halaman

10 Negara ASEAN dengan Kasus Covid-19 Tertinggi hingga Terendah

Pandemi Virus Corona Covid-19 masih terus menghantui negara-negara di dunia, khususnya Asia Tenggara. Berbagai negara memang sudah melonggarkan kebijakan pembatasan sosial, tetapi kasus masih naik di beberapa negara.

Di Indonesia, tatanan new normal sudah digaungkan, sementara kasus corona tiap harinya masih bertambah.

Kasus-kasus juga masih bertambah di Singapura. Sejak dua bulan terakhir, mayoritas kasus berasal dari asrama pekerja asing.

Per akhir Juni, berikut kasus Virus Corona Covid-19 di seluruh negara ASEAN berdasarkan data CoronaTracker, Selasa (30/6/2020):

1. Indonesia

Total kasus: 56.385

Kasus corona di Indonesia masih konsisten meningkat setiap harinya, meski Presiden Jokowi sudah membolehkan mal dibuka.

Jumlah dan tingkat persentase kematian di Indonesia juga sangat tinggi di ASEAN. 

2. Singapura

Total kasus: 43.661

Pasien Virus Corona di Singapura terus meningkat karena tes besar-besaran di asrama pekerja. Sementara, kasus penularan lokal di Singapura relatif berhasil diredam.

Singapura juga tegas memberi sanksi bagi pelanggar aturan lockdown. Pekan lalu, ada sejumlah pekerja asing yang izin kerjanya dicabut karena tertangkap kamera melanggar aturan.

3. Filipina

Total kasus: 36.438

Kasus di Filipina relatif tinggi, yakni 36 ribu. Presiden Rodrigo Duterte telah menerapkan kebijakan karantina besar-besaran untuk meredam penyebaran virus.

Presiden Duterte juga sempat menuai kontroversi ketika menyuruh aparat menembak perusuh saat lockdown.

Total kasus sembuh di Filipina mencapai 9.956 kasus, dan ada 1.255 pasien yang meninggal.

4. Malaysia

Total kasus: 8.637

Negeri jiran Malaysia juga berhasil meredam penyebaran Virus Corona. Pemerintahan Muhyiddin Yassin pun berani melakukan lockdown selama beberapa minggu.

Lockdown di Malaysia sudah dilonggarkan dan berbagai bisnis sudah boleh buka dengan mengikuti protokol new normal. Warga juga boleh jalan-jalan ke luar daerah.

5. Thailand

Total kasus: 3.171

Thailand adalah salah satu negara ASEAN yang mengklaim berhasil meredam corona di negaranya. Sejak Mei lalu, Thailand sudah sempat melaporkan nol kasus harian.

Tercatat, 3.056 pasien sembuh, 58 meninggal, dan masih ada 1 orang yang dirawat di ruang ICU.

6. Vietnam

Total kasus: 355

Vietnam sempat mencuri perhatian dunia internasional karena menyelesaikan lockdown corona tanpa adanya korban jiwa.

Kebijakan di Vietnam juga sangat ketat. Ketika lockdown, warga sampai dilarang untuk sekadar berjalan-jalan keluar rumah.

7. Myanmar

Total kasus: 299

Kasus pertama di Myanmar berasal dari seorang pria 36 tahun yang baru saja kembali dari Amerika Serikat, kemudian ada kasus kedua yakni pria berusia 26 tahun yang baru kembali dari Inggris.

Sebanyak enam orang meninggal dunia.

8. Brunei dan Kamboja

Total kasus: 141

Kasus di Brunei dan Kamboja sama-sama berjumlah 141.

Di Brunei, hampir seluruh pasien sudah sembuh, kecuali satu orang yang berada di ruang ICU. Dua orang disebut meninggal dunia.

Sementara, 130 orang sembuh di Kamboja dan belum ada laporan pasien meninggal.

9. Laos

Total kasus: 19

Semua kasus Laos dilaporkan sudah sembuh. Tak ada kasus kematian di negara ini.

Laos melaporkan kasus pertamanya pada Maret lalu. Kasus pertama berasal dari laki-laki berusia 28 tahun yang baru mengunjungi Thailand.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: