Sukses

AirNav: Erupsi Anak Gunung Krakatau Tak Berdampak pada Penerbangan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau yang lebih dikenal AirNav Indonesia memastikan, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berdampak terhadap operasioal penerbangan di ruang udara sekitarnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama AirNav Indonesia, Mokhammad Khatim mengatakan, pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap estimasi sebaran abu vulkanik atau volcanic ash yang timbul dari aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga hari ini.

"Dari pantauan intensif yang terus dilakukan, sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk sementara ini belum berdampak terhadap operasional penerbangan di area sekitarnya. Operasional penerbangan pada ruang udara sekitar Gunung Anak Krakatau terpantau masih beroperasi secara normal," ungkap Khatim, Minggu (12/4/2020).

AirNav Indonesia, kata dia, terus membangun komunikasi secara intens dengan semua pemangku kepentingan penerbangan nasional termasuk Kementerian Perhubungan, pengelola bandara, dan maskapai penerbangan terkait dinamika perkembangan operasional penerbangan di lapangan.

"Hingga saat ini kami juga belum menerima laporan dari pilot (pilot report) yang menyampaikan melihat abu vulkaik di rute penerbangan sekitar Gunung Anak Krakatau," ujar Khatim.

Meski demikian, Khatim menegaskan bahwa pihaknya tetap meminta seluruh maskapai yang saat ini beroperasi pada ruang udara tersebut untuk terus meningkatkan kewaspadaannya.

"Kami terus memberikan informasi terbaru mengenai estimasi lokasi sebaran abu vulkanik kepada seluruh maskapai. Informasi tersebut kami berikan secara berkala melalui ASHTAM of Krakatau Volcano, yang terbaru adalah ASHTAM Number VAWR 2007 yang terbit pada Sabtu, 11 April 2020, pukul 17.10 WIB," pungkasnya. 

 

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 3 halaman

PVMBG: Krakatau 10 Kali Erupsi Selama 2020

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat dari Januari hingga April 2020 Gunung Anak Krakatau telah 10 kali erupsi.

Kepala Subdirektorat Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Badan Geologi Nia Haerani menyatakan, Gunung Anak Krakatau diturunkan tingkat aktifitasnya dari Level III atau Siaga menjadi Level II atau Waspada, pada 25 Maret 2019. Aktifitas vulkaniknya masih fluktuatif.

Berdasarkan data yang disampaikannya, selama Januari 2020 terjadi empat kali erupsi pada 1, 07 dan 15 Januari, menghasilkan kolom erupsi berwarna putih kelabu dengan tinggi maksimum 500 m dari atas puncak. Kemudian pada 6 hingga 11 Februari 2020 terjadi rangkaian erupsi yang menghasilkan kolom abu berwarna putih kelabu tebal dengan ketinggian maksimum 1.000 meter dari atas puncak.

Selanjutnya di Maret 2020, terjadi dua kali erupsi pada 18 Maret 2020 yang menghasilkan kolom abu berwarna putih kelabu setinggi 300 meter dari atas puncak. Pada 10 April 2020, terjadi dua kali erupsi, menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu tebal setinggi 500 meter dari atas puncak, diikuti dengan erupsi menerus tipe strombolian. Tidak terdengar suara gemuruh atau dentuman akibat erupsi.

"Menjelang dan selama erupsi, gempa-gempa vulkanik masih terekam dengan jumlah yang belum signifikan, menunjukkan masih terjadinya suplai magma ke kedalaman yang lebih dangkal," terang Nia Haerani dikutio dari website resmi ESDM magma.vsi.esdm.go.id pada Sabtu, 11 April 2020.

Berdasarkan pengamatan deformasi dengan tiltmeter, Gunung Anak Krakatau masih bersifat fluktuatif dan menunjukkan gejala kenaikan yang tidak signifikan sejak 5 April 2020 hingga terjadinya erupsi pada Jumat, 10 April 2020 sekitar pukul 22.35 wib. Bahkan suara dentuman yang terdengar di wilayah Tangerang, Jakarta, Bogor hingga Depok, dikaitkan dengan suara dentuman tersebut.

Nia menganalisa data kegempaan dan deformasi yang menunjukkan bahwa aktifitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih fluktuatif, lantaran suplai fluida dari kedalam atau perut gunung masih terjadi.

Menurutnya, jenis fluida pada rangkaian erupsi Januari hingga Maret 2020 diduga didominasi oleh gas atau uap air, sedangkan erupsi pada 10 April 2020 material batuan pijar sudah terbawa ke permukaan dengan intensitas yang belum signifikan, jauh lebih kecil dibandingkan rangkaian erupsi pada periode Desember 2018 hingga Januari 2019.

Erupsi gunung berapi di tengah periaran Selat Sunda memiliki beberapa potensi bahaya yang harus diketahui oleh masyarakat luas, yakni lontaran material lava, aliran lava dan hujan abu lebat di sekitar kawah dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: