Sukses

Letusan Anak Gunung Rinjani Picu 5 Gempa Bumi di Indonesia?

Liputan6.com, Jakarta - 5 Gempa berturut-turut melanda Tanah Air sepanjang Rabu (4/11/2015). Dimulai dengan lindu 5,4 Skala Richter (SR) di 35 km timur laut Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terjadi pada pukul 04.25 WIB tadi.

Disusul kemudian gempa di Garut, Jawa Barat. Lalu lindu susulan di Alor kembali, diikuti gempa di Pandeglang-Jabar, dan Nias Selatan-Sumatera Utara.

Gempa-gempa tersebut terjadi di tengah aktifnya Gunung Barujari di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Gunung yang juga disebut sebagai Anak Gunung Rinjani itu kembali meletus dan memuntahkan abu vulkanik.

Pagi tadi, letusannya setinggi 1.500 meter dari puncak Gunung Barujari atau 3.800 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Baca Juga

Lantas adakah hubungan antara fenomena gempa beruntun dengan aktifnya gunung berapi tersebut?

Ahli gempa yang pernah menjabat sebagai Kasi Informasi Gempa Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Suharjono menjelaskan, peristiwa gempa dan meletusnya gunung berapi ini merupakan hal wajar. Kedua aktivitas bumi itu terjadi akibat pertemuan lempeng.

Namun, kata dia, baik gempa dan letusan gunung berapi itu tak saling mempengaruhi atau pun memberi dampak.

"Baik gempa maupun gunung berapi terjadi akibat aktivitas pergerakan lempeng. Tapi bukan gempa berdampak pada gunung. Gunung (meletus) dan gempa lebih disebabkan oleh pertemuan lempeng," jelas Suharjono kepada Liputan6.com di Jakarta, Rabu (4/11/2015).

"Ini konsekuensi logis pertemuan lempeng. Bukan hal yang aneh," imbuh dia.

Dia menuturkan, di mana ada pertemuan lempeng, di situ ada sumber gempa dan titik-titik gunung berapi. Dan lempeng ini akan selalu bergerak selama Bumi berputar.

Dengan kata lain, gempa dan aktifnya gunung berapi akan selalu ada tanpa bisa dicegah. "Selama Bumi berputar, di dalam Bumi ada arus konveksi, sehingga lempengan di Bumi bergerak terus," tandas Suharjono.

2 dari 2 halaman

Gempa Pandeglang

Sementara itu, gempa 5,2 SR yang berpusat di Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Banten, yang 'menggoyang' Jakarta diperkirakan karena terjadinya pergerakan lempengan Eurasia di dasar lautan.

"Gempa ini kemungkinan karena (pergerakan) dari lempengan atau struktur tanah aja. Awal gempa ada di Ujung Kulon, itu dari hasil monitor, tapi kita masih siaga," ucap salah satu pegawai di Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) Kelas I Serang, Mafian, Rabu (4/11/2015).

Petugas Kantor BMKG yang berlokasi di Jalan Raya Taktakan, Kota Serang, Banten, kini tetap memantau pergerakan lempeng bumi. Karena tak menutup kemungkinan akan terjadi nya gempa susulan. Terlebih, di Nias, telah terjadi gempa bumi.

"Kalau susulan, kemungkinannya pasti ada, tapi kita tetap harus waspada juga. Saat ini, gempa tersebut masih berjalan, sekarang gempanya ada di Daerah Nias, Sumatera Utara, gempa ini tidak berpotensi tsunami," beber Mafian.

Gempa Pandeglang terjadi pada Rabu kemarin sekitar pukul 13.14 WIB. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut terjadi pada koordinat 6.80 LS, 105.01 BT atau 88 kilometer barat daya Saketi, Kabupaten Pandeglang, dengan kedalaman 10 km.

Gempa ini bahkan terasa hingga Jakarta. Titik gempa jarak terdekat dari Ujung Kulon 32 km. (Ndy/Mut/Ans)