Sukses

MUI Minta Arab Saudi Konsisten Ciptakan Perdamaian di Yaman

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhammad Cholil Nafis menilai invansi militer Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman sebenarnya bertujuan untuk menciptakan perdamaian. Bila Arab Saudi tetap konsisten dengan sikapnya ini, maka menurut dia, Indonesia perlu mendukung.

"Sementara ini kita melihat sebagai sarana menciptakan kedamaian. Karena Yaman minta bantuan ke Arab Saudi, pemerintahannya yang sah itu lari ke Arab Saudi, lalu di kota-kota strategis dikuasai pemberontak, maka Saudi berkewajiban untuk lakukan bantuan dan lindungi rakyat Yaman," ujar Nafis di kediaman Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4/2015).

Untuk itu, Nafis berharap Arab Saudi dan sekutunya tetap konsisten melakukan invansi militer dengan tujuan perdamaian, bukan karena ada sesuatu yang lain. Misalnya, bertujuan juga untuk menyingkirkan kaum yang faham atau ideologinya berseberangan dengan negara-negara di kawasan Teluk, seperti kaum Syiah yang ada di Yaman.

"Kita harap Saudi itu konsisten, jangan sampai dialihkan ke persoalan perbedaan ideologi, perbedaan mahzab, perbedaan keyakinan," ucap Dosen sekaligus ‎Sekretaris Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Pascasarjana Universitas Indonesia ini.‎

Bagi Nafis, siapapun berhak untuk berbeda, baik itu soal keyakinan maupun ideologi. Karenanya, invansi militer Arab Saudi cs ke Yaman itu harus menjadi satu perjuangan untuk kemanusiaan, yang notabene kemanusiaan harus melebihi dari apapun di‎ dunia ini, termasuk soal perbedaan ideologi.

"Saya berpikir siapapun berhak untuk bebeda. Tapi yang mesti kita perjuangkan lebih dari itu, yakni kemanusian," ucap Nafis.

Yaman terus bergejolak setelah kelompok milisi Houthi, yang berjuang untuk mendapatkan peningkatan otonomi di Provinsi Saada, melancarkan pemberontakan secara berkala sejak 2004. Aksi mereka yang paling signifikan terjadi sejak Juli 2014.

Puncaknya pada September 2014, ketika mereka menguasai Ibukota Sanaa, menyandera staf kepresidenan, dan menembaki kediaman Presiden Yaman Abdu Rabuh Mansour Hadi. Kondisi itu yang kemudian membuat Arab Saudi dan sekutunya di kawasan Teluk turun tangan melakukan operasi militer ke Yaman. (Riz/Sun)

Loading