Liputan6.com, Garut: Proses evakuasi Kereta Api Serayu atau Citra Jaya yang terguling di Malangbong, Garut, Jawa Barat, masih berlangsung hingga Ahad (22/4) sore. Jalur selatan kereta api juga masih lumpuh dan jalur pun dialihkan ke Cikampek dan Cirebon.
Pihak PT Kereta Api Indonesia membangun jalur rel sementara yang berjarak sekitar lima meter dari lokasi rel yang longsor. Direncanakan pembangunan jalur ini sudah rampung nanti malam dan akan diujicoba.
Jika berhasil, lusa jalur sementara ini sudah bisa dilewati KA jurusan Bandung-Surabaya yang sejak kemarin dialihkan melalui Cikampek dan Cirebon. Dua gerbong yang terguling juga belum bisa diangkat, menunggu tuntasnya perbaikan rel [baca: Dua Gerbong Kereta Citra Jaya Dievakuasi].
KA ekonomi Serayu jurusan Jakarta-Kroya terguling Sabtu dini hari, di antara Stasiun Cibatu dan Stasiun Bumiwaluya, Malangbong [baca:Â Kereta Citra Jaya Terguling ke Perkebunan]. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun puluhan penumpang menderita luka-luka. Penyebab terperosoknya rangkaian KA diduga akibat gerusan air hujan yang membuat tanah di sekitar bantalan rel longsor.
Sementara itu, pihak PT KAI mencatat ada enam titik di sepanjang jalur selatan dari arah Bandung ke Tasikmalaya yang rawan longsor. Ironisnya, kendati sudah mengetahui titik rawan longsor, kecelakaan tetap terjadi. Pihak PT KAI hanya memantau titik rawan longsor, tanpa ada pembenahan di jalur itu.
Menurut Ahmad Sujadi, Humas PT KAI Daerah Operasi I, jalur yang rawan longsor itu mulai dari Stasiun Warung Bandrek hingga Bumiwaluya. Jalur ini berbahaya karena banyak melalui pegunungan dan perbukitan.
Berdasarkan penelusuran SCTV di Kilometer 22 jalur selatan, tepatnya di daerah Kersamana, Garut, kondisi rel tidak jauh berbeda dengan lokasi tergulingnya KA Citra Jaya tersebut. Setiap hari enam rangkaian kereta yang berjalan dari arah Bandung harus melewati tikungan tajam yang di samping kiri dan kanannya terdapat tebing dengan kedalaman mencapai 10 meter.
Meskipun di bagian bawah terlihat bebatuan buatan pihak PT KAI yang berfungsi menahan longsor, namun menurut Komite Nasional Keselamatan Transportasi, tikungan itu masih sangat rawan mengingat frekuensi rangkaian kereta yang melintas setiap harinya.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
Pihak PT Kereta Api Indonesia membangun jalur rel sementara yang berjarak sekitar lima meter dari lokasi rel yang longsor. Direncanakan pembangunan jalur ini sudah rampung nanti malam dan akan diujicoba.
Jika berhasil, lusa jalur sementara ini sudah bisa dilewati KA jurusan Bandung-Surabaya yang sejak kemarin dialihkan melalui Cikampek dan Cirebon. Dua gerbong yang terguling juga belum bisa diangkat, menunggu tuntasnya perbaikan rel [baca: Dua Gerbong Kereta Citra Jaya Dievakuasi].
KA ekonomi Serayu jurusan Jakarta-Kroya terguling Sabtu dini hari, di antara Stasiun Cibatu dan Stasiun Bumiwaluya, Malangbong [baca:Â Kereta Citra Jaya Terguling ke Perkebunan]. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun puluhan penumpang menderita luka-luka. Penyebab terperosoknya rangkaian KA diduga akibat gerusan air hujan yang membuat tanah di sekitar bantalan rel longsor.
Sementara itu, pihak PT KAI mencatat ada enam titik di sepanjang jalur selatan dari arah Bandung ke Tasikmalaya yang rawan longsor. Ironisnya, kendati sudah mengetahui titik rawan longsor, kecelakaan tetap terjadi. Pihak PT KAI hanya memantau titik rawan longsor, tanpa ada pembenahan di jalur itu.
Menurut Ahmad Sujadi, Humas PT KAI Daerah Operasi I, jalur yang rawan longsor itu mulai dari Stasiun Warung Bandrek hingga Bumiwaluya. Jalur ini berbahaya karena banyak melalui pegunungan dan perbukitan.
Berdasarkan penelusuran SCTV di Kilometer 22 jalur selatan, tepatnya di daerah Kersamana, Garut, kondisi rel tidak jauh berbeda dengan lokasi tergulingnya KA Citra Jaya tersebut. Setiap hari enam rangkaian kereta yang berjalan dari arah Bandung harus melewati tikungan tajam yang di samping kiri dan kanannya terdapat tebing dengan kedalaman mencapai 10 meter.
Meskipun di bagian bawah terlihat bebatuan buatan pihak PT KAI yang berfungsi menahan longsor, namun menurut Komite Nasional Keselamatan Transportasi, tikungan itu masih sangat rawan mengingat frekuensi rangkaian kereta yang melintas setiap harinya.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334225/original/010172500_1787825621-demo_motor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331817/original/055880700_1787567222-BSU_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310112/original/014361000_1785306495-Screenshot_2026-07-29_125347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334903/original/053454000_1787904698-HOAX__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/476742/original/220407cka-evakuasi.jpg)