Jalan Malino-Sungguminasa Tertutup Longsor

Jalan provinsi yang menghubungkan Malino, Sinjai, dan Makassar, Sulsel, longsor tergerus Sungai Jenneberang. Luapan air sungai juga merobohkan tiang listrik dan telepon serta merusak belasan rumah warga.

Diterbitkan 28 Januari 2006, 01:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Gowa: Jalan provinsi yang menghubungkan kota wisata Malino, Sungguminasa, Sinjai, dan Makassar, Sulawesi Selatan, terputus akibat longsor, Jumat (27/1). Ruas jalan yang ambruk sepanjang enam puluh meter ini terjadi di kilometer 54 di Parangloe, Gowa, Sulsel. Longsor terjadi akibat gerusan Sungai Jenneberang yang meluap selama sepekan terakhir.

Berdasarkan pemantauan SCTV, gerusan sungai juga membuat ambruk belasan tiang listrik dan tiang telepon di pinggir jalan. Akibatnya, pasokan listrik dan jalur komunikasi di Kecamatan Parangloe, Biringbulu, Tompobulu, dan Tinggimoncong terputus total.

Luapan air Sungai Jenneberang juga telah merusakkan 17 rumah warga yang berada di bantaran sungai. Puluhan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. "Setelah turun hujan, tiba-tiba datang air sungai dengan deras," kata Daeng Caya, warga Parangloe.

Badan Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Bencana Gowa mengimbau warga yang berada di sekitar aliran sungai untuk berhati-hati. Selain itu, para pengguna jalan di jalur ini juga diminta waspada karena masih terdapat beberapa titik rawan longsor.

Longsor juga terjadi di tebing Sungai Ciliwung di Desa Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, sekitar pukul 07.30 Wib pagi tadi. Dalam kejadian ini seorang warga bernama Soni tertimbun tanah longsor.

Menurut Oson Ruswandi, salah seorang saksi mata, korban saat itu berada di pinggir sungai hendak memetik petai namun tiba-tiba tanah di atasnya longsor. "Sebenarnya dia [Soni] sudah diperingatkan tapi tak didengar," kata Oson.

Warga bersama aparat keamanan segera mencari korban yang diduga tertimbun tanah sedalam lima meter. Mereka menggali timbunan tanah dengan meyemprotkan air. Namun, upaya pertolongan sempat terganggu hujan sehingga kondisi medan menjadi licin. Rencananya, pencarian akan dilanjutkan Sabtu ini.

Sejumlah warga terus berdatangan ke rumah korban menyampaikan rasa duka cita. Samih, istri korban bersama tiga anaknya tak henti-henti menangis. "Sedih, inginnya mayat bapak cepet ketemu," kata Yanah, anak korban.

Longsor yang terjadi di tebing Sungai Ciliwung ini diduga akibat maraknya penggalian pasir di sekitar bantaran sungai. Beberapa waktu silam, longsor juga terjadi di kawasan Puncak, Bogor. Akibat peristiwa ini lalu lintas dari arah Bogor menuju Cianjur dan Bandung maupun sebaliknya macet total hingga empat kilometer [baca: Jalan Raya Puncak Tertutup Longsor].(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6