Japanese Manicure, Rahasia Perawatan Kuku Berkilau Alami bak Mutiara

Japanese manicure mengandalkan bahan khusus dan teknik pemolesan untuk menghasilkan kilau alami tanpa kuteks atau warna tambahan.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 20:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Japanese manicure menjadi salah satu teknik perawatan kuku yang tidak mengandalkan kuteks berwarna atau gel. Teknik yang berasal dari Jepang ini mengutamakan perawatan kuku alami melalui proses pemolesan menggunakan bahan-bahan khusus.

Itu menempatkan kondisi kuku alami sebagai bagian utama dari proses perawatan, bukan sekadar permukaan yang ditutup dengan produk kosmetik. Japanese manicure juga dikenal sebagai P.Shine manicure.

Teknik ini tidak menggunakan proses pengeringan kuteks dengan lampu seperti pada sejumlah perawatan kuku lainnya. Bahan-bahan yang ditujukan untuk merawat kuku diaplikasikan langsung pada permukaan kuku sebelum dipoles menggunakan leather buffer, melansir Who What Wear, Selasa (6/10/2026).

Proses tersebut menjadi salah satu pembeda Japanese manicure dari manicure yang menggunakan lapisan gel atau warna. Perawatan tidak berfokus pada penambahan warna, desain, maupun lapisan buatan pada kuku.

Tahap pemolesan justru menjadi bagian penting karena bahan yang diaplikasikan kemudian dipadukan dengan permukaan kuku melalui gerakan buffing. Perawatan kuku dilakukan dengan mempertahankan permukaan alami sekaligus memberikan perhatian pada kondisi kuku melalui bahan yang digunakan selama proses.

Pilihan ini dapat menjadi alternatif bagi orang yang ingin melakukan perawatan kuku tanpa menjadikan kuteks atau nail art sebagai bagian utama.

Japanese manicure tetap memiliki tahapan khusus yang membedakannya dari manicure biasa. Pemilihan bahan, cara mengaplikasikan pasta, teknik pemolesan, hingga penggunaan bubuk pelindung menjadi rangkaian yang menentukan hasil akhir perawatan.

Tahapan Japanese Manicure

Proses diawali dengan menyiapkan kuku sebelum bahan perawatan diaplikasikan. Permukaan kuku kemudian diberi pasta khusus yang mengandung bahan seperti beeswax, pearl powder, keratin, vitamin, dan mineral.

Pasta yang sudah diaplikasikan selanjutnya dipoles menggunakan leather buffer. Tahap pemolesan dilakukan hingga bahan tersebut menyatu dengan permukaan kuku. Proses ini menjadi kunci munculnya kilau khas Japanese manicure karena permukaan kuku dipoles hingga terlihat lebih halus dan mampu memantulkan cahaya.

Tahap berikutnya menggunakan bubuk pelindung yang diaplikasikan di atas kuku untuk membantu menyegel bahan perawatan yang telah dipoles sebelumnya. Lapisan tersebut membuat hasil perawatan bertahan pada permukaan kuku tanpa membutuhkan kuteks berwarna atau proses pengeringan menggunakan lampu.

Efek Kilau Japanese Manicure

Kilau menjadi daya tarik utama Japanese manicure karena teknik ini tidak mengandalkan warna untuk membuat kuku terlihat menonjol. Permukaan kuku dipoles secara teliti hingga menghasilkan efek mengilap yang terlihat alami.

Hasil pemolesan dapat memberikan tampilan kuku yang lebih sehat dan kuat, dengan kilau yang tidak mudah terkelupas seperti kutek. Lapisan hasil Japanese manicure tidak memberikan efek chipping atau pertumbuhan ulang yang terlihat jelas seperti pada kuteks atau gel.

Kilau tersebut mengikuti pertumbuhan kuku alami sehingga perubahan tampilannya berlangsung secara lebih bertahap. Perawatan jadi lebih menarik bagi individu yang menginginkan kuku tetap rapi tanpa harus sering memperbaiki warna yang mulai terkelupas, sehingga sering disebut sebagai perpaduan antara estetika dan perawatan.

Perbedaan Japanese Manicure dengan Gel dan BIAB

Japanese manicure memiliki pendekatan yang berbeda dari gel dan BIAB (Builder in a Bottle) dalam memperlakukan kuku. Gel dan BIAB merupakan sistem polimer sintetis yang menggunakan bahan seperti akrilat untuk membentuk lapisan pada kuku. Proses tersebut membutuhkan UV curing agar produk dapat mengeras dan menempel pada permukaan kuku.

BIAB kerap dipasarkan sebagai produk yang membantu memperkuat kuku, tetapi formulanya tetap mengandalkan ikatan kimia. Penggunaan dehydrator dalam proses aplikasinya turut menjadi salah satu perbedaan karena bahan tersebut dapat membuat kuku alami menjadi lebih kering.

Japanese manicure lebih berfokus pada pemberian bahan perawatan dan pemolesan pada kuku alami. Perbedaan formulasi dan mekanisme tersebut menjadi salah satu alasan Japanese manicure dipilih sebagai alternatif bagi orang yang ingin mendapatkan perawatan kuku tanpa menggunakan sistem enhancement seperti gel atau BIAB.