Support System Sehat untuk Remaja, Saatnya Normalisasi Sambat Tanpa Takut Dianggap Lebay

Support system remaja yang sehat membantu mereka merasa didengar dan dipahami ketika menghadapi tekanan di rumah, sekolah, maupun lingkungan sosial.

Diterbitkan 28 September 2026, 17:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Support system memiliki peran penting dalam membantu remaja melewati berbagai perubahan dan tekanan selama masa pertumbuhan. Dukungan tidak selalu hadir dalam bentuk bantuan ketika menghadapi persoalan besar.

Kehadiran orang yang bersedia mendengarkan, memahami, dan memberi ruang untuk bercerita juga dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental remaja. Masa remaja merupakan periode yang ditandai perubahan sosial, emosional, dan fisik.

Lingkungan pertemanan, tuntutan sekolah, hingga kondisi keluarga dapat menjadi sumber tekanan yang memengaruhi kesejahteraan emosional. Situasi tersebut membuat sebagian remaja lebih rentan mengalami kecemasan, stres, maupun gejala depresi.

Melansir Headlight Health, Senin (28/9/2026), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 10 hingga 20 persen remaja mengalami gangguan mental. Sebagian dari mereka bahkan belum terdiagnosis atau memperoleh penanganan yang sesuai.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya membangun lingkungan yang membuat remaja merasa aman untuk mengungkapkan perasaan. Normalisasi "sambat" dapat menjadi salah satu langkah sederhana, selama keluh kesah tidak diabaikan atau dijadikan bahan penghakiman.

Ruang komunikasi yang terbuka juga membantu remaja merasa dihargai ketika menghadapi persoalan sehari-hari yang terasa berat. Keluarga dan sekolah dapat menjadi support system terdekat bagi remaja.

Jajak pendapat National Alliance on Mental Illness (NAMI) pada 2022 menunjukkan bahwa remaja dengan persoalan kesehatan mental banyak mengandalkan orang tua dan sekolah untuk mendapatkan informasi serta bimbingan.

Membangun Ruang Aman

Remaja tidak selalu mudah mencari bantuan ketika menghadapi masalah kesehatan mental. Menurut The Conversation, mereka dapat merasa khawatir akan disalahpahami, kesulitan menyampaikan emosi, atau belum mengetahui orang yang tepat untuk dipercaya.

Karena itu, support system perlu dibangun dari lingkungan yang membuat remaja merasa aman, dihargai, dan nyaman bercerita. Orangtua, guru, dan pengasuh dapat menciptakan ruang tersebut melalui komunikasi yang empatik dan tidak menghakimi.

Saat remaja mulai terbuka, dengarkan ceritanya tanpa buru-buru menyalahkan, memberi ceramah, atau mengubah percakapan menjadi interogasi. Tanyakan bentuk dukungan yang mereka perlukan dan tunjukkan bahwa perasaan mereka layak didengarkan.

Pembahasan mengenai kesehatan mental juga tidak perlu menunggu munculnya masalah serius. Kebiasaan membicarakan emosi dalam keseharian dapat membantu remaja mengenali perasaan serta lebih percaya diri untuk meminta bantuan saat membutuhkannya.

Tingkatkan Pemahaman tentang Kesehatan Mental

Pengetahuan tentang kesehatan mental dapat membantu remaja dan orang dewasa memahami tantangan emosional sekaligus mengurangi stigma yang masih melekat. Pemahaman tersebut juga membuat keluarga lebih siap menentukan langkah ketika remaja membutuhkan dukungan.

Orangtua dan guru dapat mengenali berbagai sumber bantuan yang tersedia, mulai dari keluarga, teman, sekolah, tenaga kesehatan, hingga layanan profesional. Informasi ini penting agar remaja mengetahui tempat yang dapat dituju ketika menghadapi persoalan.

Mereka juga perlu memahami tanda-tanda gangguan mental, serta membedakannya dari perubahan perilaku yang umum terjadi selama masa remaja. Pengamatan sebaiknya dilakukan secara wajar tanpa membuat anak merasa terus diawasi.

Ketika muncul perubahan yang mengkhawatirkan, ajak remaja berbicara dengan tenang dan penuh empati. Jelaskan pilihan penanganan secara terbuka sesuai kebutuhannya. Sekolah pun dapat menyediakan edukasi kesehatan mental sekaligus membantu siswa menemukan sumber dukungan yang tepat.

Berikan Dukungan dengan Empati, Bukan Menghakimi

Dukungan kesehatan mental remaja dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua dan guru bisa menunjukkan empati, memberi kesempatan beristirahat ketika mereka merasa kewalahan, serta menghindari sikap yang membuat remaja merasa bersalah karena membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.

Sikap penuh belas kasih membantu remaja merasa diterima saat menghadapi masa sulit. Dukungan tersebut tetap perlu disertai batasan dan tanggung jawab agar remaja belajar menghadapi persoalan secara bertahap.

Ketika kecemasan atau depresi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, orang dewasa dapat membantu mencari langkah yang sesuai dengan kondisi mereka. Jika diperlukan, dukungan dapat dilanjutkan dengan mengarahkan remaja kepada tenaga profesional untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Pemahaman bahwa persoalan kesehatan mental dapat dialami siapa saja juga penting untuk mengurangi stigma. Dengan begitu, remaja tidak merasa sendirian atau malu ketika membutuhkan bantuan dari orang-orang di sekitarnya.