Liputan6.com, Jakarta - Udang menjadi salah satu bahan makanan yang mudah diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari tumisan, sup, gorengan, hingga masakan berbumbu pedas. Namun, udang mentah tidak bisa selalu langsung dimasukkan ke wajan begitu saja. Jika proses membersihkan dan mengolahnya kurang tepat, bau amis bisa tetap terasa bahkan setelah dimasak. Teksturnya pun dapat berubah menjadi keras dan alot sehingga mengurangi kenikmatan saat disantap.
Kualitas udang memang menjadi salah satu faktor penting, tetapi teknik pengolahan sebelum memasak juga tidak kalah menentukan. Udang perlu dibersihkan dengan benar, bagian yang tidak diperlukan sebaiknya dibuang, dan proses pencucian maupun pemberian bumbu perlu dilakukan secukupnya. Selain itu, teknik memasak juga harus diperhatikan karena udang relatif cepat matang. Memasaknya terlalu lama justru dapat membuat dagingnya kehilangan kelembutan dan menjadi lebih kenyal atau keras.
Karena itu, jangan asal memasak udang mentah jika ingin mendapatkan hasil yang gurih, juicy, dan tidak alot. Beberapa langkah sederhana sejak udang masih mentah dapat membantu mempertahankan cita rasa sekaligus teksturnya. Teknik tersebut juga bisa diterapkan di dapur rumah tanpa membutuhkan peralatan khusus. Lantas bagaimana saja teknik mengolah udang mentah agar tidak amis, tetap juicy dan tidak alot? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (8/9/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Pilih udang yang masih segar sebelum mulai mengolah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322181/original/098685700_1786520778-kandu_udang.jpeg)
Teknik mengolah udang yang baik sebenarnya sudah dimulai sejak memilih bahan. Udang segar umumnya memiliki aroma laut yang ringan dan tidak menyengat, tubuh yang terasa cukup kenyal saat disentuh, serta kulit yang masih melekat dengan baik. Hindari udang yang mengeluarkan bau asam atau amonia yang kuat, dagingnya sangat lembek, atau tampilannya menunjukkan tanda kerusakan. Pemilihan bahan yang berkualitas penting karena teknik pengolahan tidak dapat mengembalikan kesegaran udang yang memang sudah menurun.
Perhatikan pula kondisi kepala, kulit, dan dagingnya. Pada udang utuh, bagian kepala yang tampak sangat menghitam, berlendir berlebihan, atau mudah terlepas dapat menjadi tanda bahwa kualitasnya sudah menurun. Jika membeli udang yang sudah dikupas, perhatikan warna dan teksturnya serta pastikan tidak terdapat lendir yang tidak normal. Untuk udang beku, pilih kemasan yang kondisinya baik dan tidak menunjukkan tanda pencairan lalu dibekukan kembali, seperti banyak kristal es atau perubahan bentuk yang ekstrem.
Setelah mendapatkan udang yang baik, segera simpan pada suhu dingin jika belum akan diolah. Jangan membiarkannya terlalu lama berada pada suhu ruang karena seafood termasuk bahan yang mudah rusak. Jika menggunakan udang beku, pencairan sebaiknya dilakukan secara aman, misalnya di dalam lemari es, bukan dibiarkan berjam-jam di meja dapur. Dengan memulai dari bahan yang segar dan penanganan yang tepat, langkah berikutnya akan lebih mudah dilakukan dan hasil akhir masakan juga berpotensi memiliki rasa serta tekstur yang lebih baik.
Advertisement
2. Bersihkan udang dan buang saluran pencernaannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6496006/original/036189300_1779353002-pemuanga.jpg)
Sebelum dimasak, udang perlu dibersihkan agar kotoran yang masih menempel tidak ikut masuk ke dalam masakan. Jika menggunakan udang utuh, bagian kepala dan kaki dapat dilepaskan sesuai kebutuhan resep. Kulit dan ekor juga bisa dipertahankan jika ingin mendapatkan tampilan yang lebih menarik atau rasa yang lebih kuat saat dimasak. Namun, jika ingin lebih praktis ketika menyantapnya, udang dapat dikupas terlebih dahulu. Pilihan tersebut sebenarnya bergantung pada jenis masakan dan preferensi masing-masing.
Salah satu bagian yang sering dibersihkan adalah saluran pencernaan yang terlihat seperti garis gelap memanjang di bagian punggung udang. Buat sayatan tipis di bagian punggung menggunakan pisau kecil, kemudian tarik bagian tersebut secara perlahan menggunakan ujung pisau atau alat yang bersih. Tidak semua garis yang terlihat pada udang memiliki penampilan yang sama, sehingga tidak perlu memaksakan proses pengambilan jika tidak terlihat jelas. Bagian tersebut dapat mengandung sisa isi saluran pencernaan sehingga banyak orang memilih membuangnya sebelum memasak.
Setelah dibersihkan, bilas udang secara singkat menggunakan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang tersisa. Hindari merendam udang terlalu lama karena tidak ada manfaatnya jika seafood terus-menerus berada dalam air. Setelah itu, tiriskan dan keringkan permukaannya menggunakan tisu dapur. Udang yang terlalu basah dapat membuat proses menumis atau menggoreng menjadi kurang optimal karena air yang keluar akan menurunkan suhu permukaan wajan dan membuat udang lebih banyak mengeluarkan cairan.
3. Keringkan permukaan udang sebelum diberi bumbu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5188836/original/044391400_1744712731-bai-z--3JrrX2qHpY-unsplash.jpg)
Setelah dicuci, jangan langsung memasukkan udang yang masih sangat basah ke dalam wajan. Gunakan tisu dapur untuk menepuk-nepuk permukaan udang hingga kelebihan airnya berkurang. Langkah sederhana ini sering kali terlewat, padahal permukaan yang terlalu basah dapat memengaruhi proses memasak. Saat udang masuk ke wajan panas, air yang menempel akan segera menguap dan membuat proses pemasakan menjadi lebih banyak seperti mengukus daripada menumis atau memanggang permukaannya.
Mengeringkan udang juga membantu bumbu menempel lebih baik. Jika permukaan udang penuh air, bumbu seperti garam, lada, bawang putih, atau rempah lainnya dapat lebih mudah larut dan tidak menempel secara merata. Setelah permukaannya cukup kering, udang dapat dibumbui sesuai resep. Tidak perlu memberikan terlalu banyak bumbu atau bahan tambahan hanya untuk menghilangkan aroma amis karena udang yang segar seharusnya memiliki aroma laut yang relatif ringan.
Jika ingin menggunakan bahan beraroma seperti bawang putih, jahe, jeruk, atau rempah lainnya, gunakan sesuai kebutuhan resep. Bahan asam seperti jeruk dapat memberikan rasa dan aroma yang segar, tetapi sebaiknya tidak menjadikan udang terendam dalam bahan asam terlalu lama sebelum dimasak. Perlakuan yang terlalu lama dapat memengaruhi tekstur permukaan daging. Setelah dibumbui, sebaiknya lanjutkan ke tahap memasak sesuai resep daripada membiarkannya terlalu lama dalam marinasi yang tidak diperlukan.
Advertisement
4. Gunakan bumbu secukupnya untuk membantu mengurangi aroma amis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310644/original/033761200_1785328458-pexels-fox-58267-32664528.jpg)
Bumbu aromatik dapat membantu menghasilkan hidangan udang yang lebih harum dan menyeimbangkan aroma khas seafood. Bawang putih, bawang merah, jahe, daun jeruk, serai, lada, atau rempah lainnya dapat dipilih sesuai jenis masakan. Untuk tumisan sederhana, misalnya, bawang putih dan lada sudah cukup untuk memberikan aroma yang kuat. Sementara itu, hidangan bercita rasa Nusantara dapat menggunakan kombinasi rempah yang lebih kompleks sesuai resep.
Jika ingin menggunakan jeruk nipis atau bahan asam lainnya, gunakan secukupnya dan jangan menganggapnya sebagai cara untuk menyamarkan udang yang sudah tidak segar. Aroma amis yang sangat menyengat, terutama jika disertai perubahan tekstur atau bau yang tidak normal, bukan sesuatu yang seharusnya ditutupi dengan banyak perasan jeruk. Bumbu berfungsi meningkatkan cita rasa bahan yang masih layak dan segar, bukan membuat bahan yang sudah rusak menjadi aman dikonsumsi.
Pemberian garam juga sebaiknya dilakukan secara proporsional. Garam yang terlalu banyak dapat membuat rasa udang menjadi terlalu asin dan berpotensi memengaruhi tekstur jika udang dibiarkan terlalu lama dalam bumbu. Jika resep membutuhkan marinasi, ikuti waktu yang sesuai dan jangan menganggap semakin lama berarti semakin lezat. Pada banyak masakan udang, justru proses memasak yang cepat dengan bumbu yang tepat dapat menghasilkan rasa yang lebih baik sekaligus mempertahankan tekstur daging.
5. Masak udang dengan panas yang tepat dan jangan terlalu lama
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322182/original/004683500_1786520779-kaldu_udang_2.jpeg)
Udang termasuk bahan yang relatif cepat matang sehingga waktu memasak harus diperhatikan. Memasaknya terlalu lama merupakan salah satu penyebab udang berubah menjadi keras, kering, dan alot. Ketika dimasak, daging udang akan berubah dari tampilan yang transparan menjadi lebih buram atau opak dan bentuk tubuhnya akan berubah. Perubahan tersebut dapat digunakan sebagai salah satu petunjuk visual bahwa udang mulai matang. Tidak perlu terus memasaknya setelah tingkat kematangan yang diinginkan tercapai.
Untuk menumis atau memasak udang di wajan, panaskan terlebih dahulu wajan dan minyak sesuai kebutuhan resep. Masukkan udang dalam jumlah yang tidak membuat wajan terlalu penuh sehingga panas dapat tersebar dengan baik. Jika terlalu banyak udang dimasukkan sekaligus, suhu wajan dapat turun dan udang justru mengeluarkan banyak air. Kondisi tersebut dapat membuat proses pemasakan berlangsung lebih lama dan hasil akhirnya kurang baik. Masak secara bertahap jika jumlah udang cukup banyak.
Perhatikan juga bentuk udang selama dimasak. Udang yang terlalu matang cenderung menggulung sangat rapat dan teksturnya menjadi keras ketika digigit. Karena itu, lebih baik memantau perubahan warna dan tekstur daripada hanya mengandalkan waktu memasak yang kaku. Ukuran udang, suhu awal, jenis wajan, serta metode memasak dapat membuat waktu matang berbeda. Setelah matang, segera angkat dari panas agar proses pemasakan tidak terus berlangsung akibat panas sisa.
Advertisement
6. Hindari memasak udang terlalu penuh dalam satu wajan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290426/original/013622800_1783480769-Untitled0.jpg)
Jumlah udang yang dimasukkan ke dalam wajan dapat memengaruhi hasil akhir. Jika wajan terlalu penuh, udang akan sulit mendapatkan kontak panas yang merata. Cairan yang keluar dari udang juga dapat terkumpul di dasar wajan sehingga suhu memasak turun. Alih-alih mendapatkan permukaan udang yang matang dengan cepat, prosesnya dapat berubah menjadi pemasakan dalam banyak cairan. Kondisi tersebut bukan selalu salah, terutama untuk resep berkuah, tetapi kurang ideal jika tujuan Anda adalah mendapatkan hasil tumisan atau udang panggang yang lebih juicy.
Untuk metode seperti menumis, menggoreng dengan sedikit minyak, atau memasak di atas permukaan panas, berikan ruang di antara udang sebanyak yang memungkinkan. Jika udang yang akan dimasak sangat banyak, lebih baik membaginya menjadi beberapa batch. Setelah satu bagian matang, angkat terlebih dahulu kemudian lanjutkan dengan bagian berikutnya. Cara ini membutuhkan sedikit waktu tambahan, tetapi dapat membuat panas lebih terkendali dan membantu mencegah udang dimasak terlalu lama.
Selain itu, hindari terlalu sering membolak-balik udang sejak pertama kali dimasukkan ke wajan. Berikan waktu agar permukaannya mendapatkan panas dan mulai matang sebelum dibalik. Untuk udang berukuran kecil, prosesnya mungkin hanya membutuhkan waktu singkat, sedangkan udang yang lebih besar membutuhkan penyesuaian. Intinya, jangan hanya berpatokan pada menit tertentu. Amati ukuran udang, perubahan warna, bentuk, dan tingkat kematangan untuk menentukan kapan harus mengangkatnya.
7. Sajikan segera setelah matang agar teksturnya tetap juicy
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327883/original/009192700_1787128155-Udang_Bakar_Saus_Mentega.jpeg)
Setelah udang mencapai tingkat kematangan yang tepat, segera angkat dari sumber panas. Jangan membiarkannya terlalu lama berada di dalam wajan panas karena panas sisa masih dapat meneruskan proses pemasakan. Hal tersebut terutama penting jika udang dimasak menggunakan wajan yang tebal atau dalam jumlah banyak. Meskipun api sudah dimatikan, suhu wajan dan bahan yang ada di dalamnya masih dapat cukup tinggi untuk membuat udang semakin matang.
Jika udang akan digunakan untuk hidangan lain, perhatikan urutan memasaknya. Pada masakan tumis yang memiliki banyak bahan, misalnya, sayuran atau bumbu tertentu dapat dimasak terlebih dahulu sebelum udang dimasukkan mendekati tahap akhir. Dengan begitu, udang tidak perlu berada di dalam wajan sejak awal ketika bahan lain masih membutuhkan waktu lama untuk matang. Teknik ini membantu mengurangi risiko udang overcooked sekaligus membuat semua bahan selesai pada waktu yang relatif bersamaan.
Setelah matang, sajikan udang segera atau lanjutkan ke tahap resep berikutnya tanpa jeda yang terlalu lama. Udang yang dimasak dengan tepat seharusnya memiliki tekstur yang matang tetapi tetap lembut dan tidak kering. Jika ingin mendapatkan hasil yang juicy, kunci utamanya bukan hanya menggunakan bumbu tertentu, melainkan menggabungkan beberapa tahap sekaligus: memilih udang yang baik, membersihkannya dengan benar, mengendalikan kelembapan, menggunakan panas yang sesuai, dan terutama tidak memasaknya terlalu lama. Dengan teknik tersebut, udang mentah dapat diolah menjadi hidangan yang lebih gurih, harum, dan memiliki tekstur yang jauh lebih nikmat.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Teknik Mengolah Udang Mentah agar Tidak Amis
1. Bagaimana cara mengolah udang mentah agar tidak amis?
Pilih udang yang masih segar, bersihkan dengan baik, buang bagian yang tidak diperlukan, lalu keringkan permukaannya sebelum dibumbui. Bumbu aromatik seperti bawang putih, jahe, lada, atau jeruk dapat digunakan untuk memberikan aroma dan rasa yang lebih segar.
2. Mengapa udang menjadi alot setelah dimasak?
Udang umumnya menjadi alot karena dimasak terlalu lama atau menggunakan panas yang tidak sesuai. Udang termasuk bahan yang cepat matang sehingga sebaiknya segera diangkat setelah daging berubah menjadi opak dan matang.
3. Apakah udang mentah harus dicuci sebelum dimasak?
Udang dapat dibilas secara singkat dengan air mengalir untuk membersihkan kotoran yang tersisa. Setelah itu, tiriskan dan keringkan menggunakan tisu dapur agar kelebihan air tidak mengganggu proses memasak.
4. Apakah udang perlu direndam dengan jeruk nipis agar tidak amis?
Jeruk nipis dapat digunakan secukupnya untuk memberikan aroma dan rasa segar, tetapi tidak perlu merendam udang terlalu lama. Bahan asam bukan cara untuk membuat udang yang sudah rusak menjadi aman dikonsumsi.
5. Bagian apa yang perlu dibuang dari udang mentah?
Saluran pencernaan yang terlihat seperti garis gelap di sepanjang punggung udang dapat dibuang jika terlihat. Kepala, kulit, kaki, dan ekor dapat dipertahankan atau dilepas sesuai kebutuhan resep.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/850960/original/018479100_1428984571-KAA3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336194/original/011453800_1788145793-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-31T100906.764.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5181963/original/041597900_1744014438-erupsi_gunung_gede.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4936199/original/062014300_1725430509-Kepiting1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5186744/original/059324700_1744617039-Depositphotos_86272700_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245659/original/096158300_1783138915-063_1968530700.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342815/original/081644200_1788832278-Gemini_Generated_Image_d1zppqd1zppqd1zp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342551/original/033096000_1788774608-Untitled.jpg)