Liputan6.com, Jakarta - Kepunahan akibat pemanasan global selama ini sering digambarkan melalui hilangnya beruang kutub atau satwa berbulu lainnya. Namun, bagaimana dengan tumbuhan?
Para ilmuwan mengingatkan bahwa dunia tumbuhan yang kerap terabaikan justru akan mengalami dampak kehancuran lebih besar akibat perubahan iklim. Mereka memprediksi puluhan ribu spesies tumbuhan bisa punah sebelum akhir abad ini.
Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada Kamis, antara 7 persen hingga 16 persen spesies tumbuhan di dunia diperkirakan akan kehilangan setidaknya 90 persen habitatnya dan pada dasarnya mengalami kepunahan dalam kurun sekitar 55 hingga 75 tahun mendatang.
Advertisement
Dikutip dari AsiaOne, Sabtu, 9 Mei 2026, angka tersebut setara dengan sekitar 35.000 hingga 50.000 spesies tumbuhan berdasarkan skenario polusi karbon tingkat menengah. Jumlah itu bahkan bisa jauh lebih besar apabila emisi global terus meningkat tajam, kata salah satu penulis studi, Xiaoli Dong, ahli ekologi dari University of California Davis.
"Laju pemanasan menjadi pendorong utama kepunahan," ujar Dong.
Dong dan timnya menggunakan berbagai model komputer biologi dan iklim untuk meneliti kemungkinan masa depan bagi 18 persen spesies tumbuhan dunia secara mendetail, guna memahami apa yang akan terjadi terhadap seluruh spesies tumbuhan di planet ini.
Selama ini, para ilmuwan memperkirakan spesies tumbuhan dapat perlahan berpindah ke wilayah dengan iklim lebih sejuk seiring meningkatnya suhu bumi, baik melalui bantuan angin, air, maupun hewan menuju daerah kutub atau dataran lebih tinggi. Proses ini bahkan telah diamati secara langsung dan sejumlah tumbuhan juga sudah direlokasi demi konservasi.
Perubahan Iklim Ganggu Habitat Tumbuhan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5559463/original/006127400_1776576208-7.jpg)
Namun, jutaan simulasi komputer yang dilakukan Dong menunjukkan bahwa meskipun tumbuhan dapat berpindah secepat mungkin, hal itu tetap tidak akan mampu mengurangi tingkat kepunahan. "Bukan karena mereka tidak bergerak cukup cepat," kata Dong. "Tetapi karena habitat yang mereka butuhkan sudah tidak akan ada lagi."
Menurut Dong, perubahan iklim baik melalui kenaikan suhu maupun perubahan pola hujan akan membuat wilayah yang sebelumnya layak dihuni tumbuhan menjadi tidak lagi cocok bagi sejumlah spesies.
Ia mencontohkan bunga tulip yang membutuhkan kombinasi tertentu antara jenis tanah, suhu, dan curah hujan. Perubahan iklim telah mengacaukan kombinasi tersebut: suhu ideal bergeser ke utara, pola hujan berpindah ke timur, sementara kondisi tanah tetap berada di tempat semula.
"Kondisi sempurna yang dibutuhkan tulip kini menjadi sangat kecil," ujarnya.
Studi tersebut menemukan kondisi ini terparah terjadi di wilayah Arktik, Mediterania, dan Australia. Di Arktik, suhu meningkat empat kali lebih cepat dibanding wilayah lain di dunia, sementara di Australia perubahan terutama dipicu oleh pola curah hujan.
Advertisement
Ribuan Tumbuhan Berbunga Terancam Punah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4360431/original/046910800_1678947178-Rekor-awal_mekarnya_bunga_sakura_di_Jepang_-AFP__5_.jpg)
Sementara studi Dong meneliti risiko kepunahan di masa depan, studi kedua yang juga dipublikasikan di jurnal Science pada Kamis, 7 Mei 2026, menyoroti risiko kepunahan tumbuhan berbunga saat ini. Kelompok ini mencakup lebih dari 335.000 spesies.
Para ilmuwan dari Kew Gardens, Inggris, menemukan bahwa hampir 10.000 spesies tumbuhan berbunga kini berada di ambang kepunahan. Banyak di antaranya merupakan spesies yang sangat tua secara evolusi dan sangat unik.
Jika punah, sekitar 21 persen 'pohon kehidupan' bumi akan ikut hilang. Spesies tersebut mencakup tanaman unik seperti Titan Arum, yang dikenal sebagai bunga terbau di dunia, hingga tanaman yang bermanfaat bagi manusia seperti anggrek penghasil vanila, kata para peneliti.
Ahli biologi evolusi tumbuhan sekaligus penulis utama studi, Felix Forest, menggunakan sistem prioritas konservasi yang telah dikembangkan ilmuwan Inggris selama 20 tahun. Sistem itu berfokus pada penyelamatan spesies yang paling unik. Studi tersebut tidak meneliti penyebab ancaman kepunahan, melainkan menilai seberapa besar sejarah biologis dan keunikan evolusi yang akan hilang jika spesies tersebut punah.
Hewan Lebih Mendapat Perhatian Dibanding Tumbuhan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5206667/original/030862300_1746171465-20250502-Cengkeh-AFP_5.jpg)
Dalam studi prioritas spesies terbesar yang pernah dilakukan, Forest menemukan bahwa sejarah evolusi yang terancam hilang pada tumbuhan berbunga unik lebih besar dibanding hampir semua kelompok flora dan fauna lain, kecuali kura-kura dan penyu. Beberapa spesies lain, seperti berbagai jenis tikus, masih memiliki kerabat dekat sehingga sejarah evolusinya tetap bertahan jika satu spesies punah.
Namun, tumbuhan berbunga seperti Ginkgo biloba tidak memiliki spesies serupa dan mewakili ratusan juta tahun evolusi. Forest dan Dong menilai kepunahan tumbuhan sering kali luput dari perhatian, bahkan oleh organisasi resmi, dibandingkan dengan kepunahan hewan.
"Kami mencoba memperbaiki ketimpangan perhatian antara tumbuhan dan hewan, terutama hewan bertulang belakang," kata Forest. "Manusia umumnya lebih tertarik pada makhluk berbulu lucu atau hewan bersayap dibanding tumbuhan. Memang begitulah kenyataannya."
Kedua studi tersebut menunjukkan bahwa dunia tidak bisa lagi menunda langkah penyelamatan spesies tumbuhan yang terancam punah, tulis ahli biologi asal Chile, Rosa Scherson dan Federico Luebert, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut. Ketika masa depan tumbuhan menjadi tidak stabil, kondisi itu juga dapat mengancam ketahanan pangan manusia dan akses terhadap bahan-bahan dasar kehidupan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968655/original/065769700_1647752951-presiden_ukraina_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472796/original/057767300_1782376694-cek_fakta_BPS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/413/original/067947800_1469525472-mevi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5464081/original/095370300_1767679000-micheile-henderson-ROsXqvRzhiQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/393222/original/019783400_1521185025-20140414_160634.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259732/original/038298000_1781511216-000_B7396ZD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263772/original/067560900_1782010379-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258990/original/029859700_1781430570-AP26154680263164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260144/original/013036700_1781578034-AP26166147695589.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8362045/original/070572100_1782237587-AP26174619862047.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8385152/original/045727200_1782264420-panama.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378005/original/081695500_1782256125-ghana.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264303/original/054619900_1782106281-AP26172737361128.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264253/original/054046300_1782102358-uruguay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8456333/original/005196400_1782354547-063_2282682114.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8457758/original/088070200_1782356368-Foto_9__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459003/original/031327800_1782358123-rose_x_puma.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5474545/original/072821600_1768484569-WhatsApp_Image_2026-01-14_at_21.42.52__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4053699/original/004680000_1655281227-pexels-dario-fernandez-ruz-6827322.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8454689/original/007647400_1782352509-000_B83H84H.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8453234/original/091827400_1782350352-museum_passport.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572010/original/042144500_1777728401-IMG-20260502-WA0035.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264098/original/080012200_1782091012-WhatsApp_Image_2026-06-22_at_07.29.36.jpeg)