Indonesia dan Malaysia Kompak Berkebaya di Ajang Miss International 2025, Sarana Diplomasi Budaya

Indonesia dan Malaysia menjadi dua dari lima negara pengusul kebaya sebagai warisan budaya dunia takbenda ke UNESCO pada tahun lalu. Kekompakan berlanjut di ajang Miss International 2025.

Diterbitkan 14 November 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ajang Miss International 2025 yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang, tidak hanya menjadi panggung adu pesona kecantikan para finalis, tetapi juga sarana diplomasi budaya. Hal ini dibuktikan oleh dua perwakilan negara serumpun, Miss International Indonesia 2025, Melliza Xaviera, dan Miss International Malaysia 2025, Allyson Ee.

Keduanya tampil kompak dalam balutan kebaya saat menjalankan tugas diplomasi yang berkaitan dengan Jepang. Pilihan busana ini mencuri perhatian karena sama-sama menonjolkan keanggunan warisan budaya Nusantara di mata dunia. 

Meski tidak dalam satu acara bersamaan, momen mereka berkebaya tertangkap dalam unggahan media sosial. Melliza mengenakan kebaya setibanya di Tokyo untuk kunjungan resmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, Jepang.

Perjalanan Melliza Xaviera Putri Yulian di Jepang dimulai segera setelah ia mendarat. Secara khusus, ia menyampaikan terima kasih kepada Pak Adi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jepang yang menjemputnya di bandara. Melliza menjelaskan pertemuan itu sebagai "diskusi terbuka yang mencerahkan mengenai isu-isu terkini antara Jepang dan Indonesia."

Tak lama setelah kedatangannya, Melliza langsung menjalankan tugas resminya. Ia mengenakan kebaya encim berlengan tiga perempat yang saat kunjungan kehormatan ke KBRI Tokyo.

Sementara, Allyson mengenakan kebaya di Malaysia, sesaat sebelum keberangkatannya ke Jepang. Ia menemui Duta Besar Jepang untuk Malaysia, Norishikata, di kediamannya.

Allyson yang merupakan insinyur kimia menyebut momen itu sebagai sore yang bermakna. Keduaya berbagi "percakapan yang menginspirasi tentang kompetisi Miss International yang akan datang di Tokyo" dan "cara untuk memperkuat ikatan budaya antara Malaysia dan Jepang." 

Adu Kebaya Miss International Indonesia dan Malaysia

 

Kebaya Melliza berlengan tiga perempat. Warna abu-abu muda atau mint pada kebayanya memberikan kesan lembut, yang dipadukan dengan bros di bagian tengah. Ia memadukannya dengan rok batik dengan motif floral besar berwarna merah muda dan hijau di atas dasar kain yang gelap.

Di sisi lain, Allyson Ee menampilkan setidaknya dua gaya kebaya dalam pertemuannya, yang dikreditkan pada desainer Kenny Loh. Pertama, ia mengenakan kebaya brokat berwarna putih bersih yang dipadukan dengan rok batik berwarna biru gelap bermotif, terlihat dalam foto di mana ia memegang bendera Jepang dan Malaysia. 

Kedua, ia mengenakan satu set busana kebaya dan rok berwarna biru tua dengan motif yang lebih rumit saat berfoto bersama Duta Besar dan timnya. Pilihan busana yang identik secara konsep (kebaya) ini menunjukkan bahwa pakaian warisan budaya tersebut diakui sebagai busana formal yang pantas untuk acara diplomasi internasional. 

Allyson Ee, Audiensi Sebelum Berangkat ke Tokyo

 

Sebelumnya, Melliza yang juga menyandang gelar Puteri Indonesia Lingkungan 2025 memperlihatkan kostum nasional bertema "Majesty of the Deep: The Soul of Raja Ampat." Karya desainer Davinmoe x Afannil ini─sesuai namanya─terinpirasi dari kedalaman laut biru Raja Ampat.

Visualnya merupakan lambang jiwa yang gigih, anggun, dan abadi, jiwa yang terus berjuang menjaga harmoni kehidupan di samudra luas. "Dengan ramainya tagar Safe Raja Ampat, kami buat Melliza jadi ratu samudra, ratu penjaga kelestarian biola laut Raja Ampat," kata Davin pada Lifestyle Liputan6.com seusai jumpa pers di Jakarta, Rabu, 5 November 2025.

Gagasan itu salah satunya diimplementasikan melalui penggunaan bahan-bahan plastik, mulai dari sendok sampai mika plastik, di komponen sayap kostum nasional Melliza. "Ada juga pembungkus kue berbahan plastik yang kami gunting kecil-kecil dan disusun menyerupai batu karang," sang desainer menambahkan.

 Proses pengerjaannya bukan tanpa tantangan, karena, Davin menyebut, mereka merombak busana tersebut hanya tiga hari sebelum ditampilkan kemarin. Awalnya, kostum nasional Melliza dibuat dengan menyoroti batu karang dan ikan yang merupakan bagian dari pesona kepulauan di Papua Barat tersebut.

Kebaya Diakui UNESCO

Indonesia dan Malaysia lebih dulu berbagi budaya mereka terkait kebaya. Bersama Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand, kelima negara mengajukan kebaya agar ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Pada 4 Desember 2024, kebaya resmi menjadi salah satu warisan budaya takbenda dalam sidang ke-19 Session of the Intergovernmental Committee on Intangible Cultural Heritage (ICH) di Asuncion, Paraguay.

"Kami bersyukur yang teramat sangat karena perjuangan panjang untuk pendaftaran ke UNESCO akhirnya membuahkan hasil yang sesuai harapan. Bagaimana pun sejarah keberadaan kebaya adalah perjalanan budaya Nusantara yang diwariskan para leluhur kita," ujar Rahmi Hidayati, Ketua Umum Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), organisasi yang pertama bergerak soal pelestarian kebaya dalam keterangan tertulis yang diterima Tim Lifestyle Liputan6.com, Kamis, 5 November 2024.

Usulan pengajuan ke UNESCO ini pertama kali disampaikan pada 2017 saat PBI menggelar acara 1.000 Perempuan Berkebaya. Kemudian dipertegas lagi pada saat Kongres Berkebaya Nasional yang diadakan pada 5-6 April 2021 sehingga akhirnya dibentuklah Tim Nasional untuk pengurusan pendaftaran ke UNESCO.