Sukses

Tutup Toko Bebas Bea di Bandara Internasional, Thailand Yakin Tingkat Pengeluaran Wisatawan Asing Naik

Langkah Thailand menutup toko bebas bea di bandara internasionalnya didukung oleh para pengusaha.

Liputan6.com, Jakarta - Thailand akan menutup toko bebas bea (duty free) di area kedatangan bandara internasionalnya untuk mendorong wisatawan berbelanja lebih banyak di dalam negeri. Langkah tersebut didukung tiga operator bisnis bebas bea yang beroperasi di delapan bandara internasional.

Menurut wakil juru bicara pemerintah, mereka setuju untuk menghentikan operasionalnya, termasuk Bandara Internasional Suvarnabhumi dan Don Mueang Bangkok, lapor outlet berita Bangkok Post. Bandara lainnya berada di Chiang Mai, Phuket, Hat Yai, Rayong, Samui, dan Krabi.

Mengutip Chanel News Asia, Selasa (9/7/2024), belum ada tanggal yang ditetapkan untuk menghentikan operasi bebas bea masuk, menurut berbagai laporan media. Tahun lalu, penjualan dari toko bebas bea masuk ke Thailand berjumlah 3,02 miliar baht (sekitar Rp1,35 triliun), menurut departemen bea cukai negara tersebut.

Pemerintah memperkirakan penutupan tempat tersebut akan meningkatkan pengeluaran pengunjung asing sebesar 570 baht per orang per perjalanan. Bank Dunia menaksir Thailand akan mampu menarik lebih dari 36 juta wisatawan asing pada tahun ini.

Dari 1 Januari hingga 14 April 2024, negara ini menyambut 10,72 juta kunjungan wisatawan asing, menurut statistik dari kementerian pariwisata dan olahraga. Lebih dari dua juta wisatawan berasal dari Tiongkok, diikuti oleh Malaysia, Rusia, Korea Selatan, dan India. Sebelum pandemi COVID-19, pariwisata menyumbang sekitar 20 persen perekonomian negara.

Mengutip laman klc2.kemenkeu.go.id, toko bebas bea merupakan salah satu bentuk fasilitas Tempat Penimbunan Berikat (TPB). Fasilitas itu menimbun barang asal impor atau barang asal daerah pabean untuk dijual kepada orang tertentu. Toko Bebas Bea dapat berlokasi di terminal (keberangkatan/transit/kedatangan) Bandara/Pelabuhan Internasional dan Dalam Kota.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Boikot Thailand untuk Wisata ke Korea Selatan

Di sisi lain, jumlah kunjungan turis asal Thailand ke Korea Selatan menurun signifikan menyusul ajakan memboikot perjalanan ke negeri ginseng. Menurut data statistik Organisasi Pariwisata Korea (KTO), tercatat sekitar 119 ribu wisatawan Thailand mengunjungi Korea sepanjang Januari--April, atau turun 21,1 persen dari tahun lalu.

Penurunan itu berlawanan dengan tren pemulihan pariwisata inbound secara keseluruhan dengan jumlah turis asing ke Korsel melonjak 86,9 persen pada periode yang sama. Dengan penurunan itu, Thailand kini turun ke posisi ke-3 di bawah Vietnam dan Filipina sebagai penyumbang turis terbanyak asal Asia Tenggara.

"Korea adalah salah satu dari tiga tujuan wisata terpopuler di kalangan warga Thailand sebelum kampanye online yang memboikot perjalanan ke Korea muncul, namun hal tersebut sudah berakhir," kata Charoen Wangananont, Presiden Asosiasi Agen Perjalanan Thailand (TTAA), dilansir Bangkok Post, beberapa waktu lalu, mengutip Korea Times, Selasa, 2 Juli 2024.

Kampanye memboikot Thailand muncul setelah sejumlah warga Thailand membagikan pengalaman negatif mereka dengan imigrasi Korea sejak tahun lalu di platform X, dulu dikenal sebagai Twitter. Unggahan itu disertai tagar 'boikot bepergian ke Korea' dan 'kantor imigrasi Korea'.

3 dari 4 halaman

Wisatawan Thailand Keluarkan Unek-unek soal Imigrasi Korea Selatan

Turis Thailand yang kecewa kemudian merekomendasikan negara lain yang lebih layak dikunjungi, seperti Jepang dan Taiwan yang lebih terjangkau, menawarkan bebas visa, dan tidak mendeportasi wisatawan.

"Perjalanan ke China kini bebas visa dan sangat mudah! Bersih, modern, dan menyambut pengunjung Thailand. Mengapa mengambil risiko imigrasi Korea?" tulis seorang warganet Thailand di X seraya menyertakan tagar boikot perjalanan ke Korea.

Warganet lain menulis, "Saya dituduh membawa terlalu banyak uang (ke Korea) dan terus-menerus ditanyai seolah-olah saya seorang penjahat." Ada pula wisatawan Thailand yang mengaku ditolak masuk imigrasi hanya gara-gara 'telah bepergian ke Korea empat kali di masa lalu'.

Pengakuan para wisatawan Thailand itu juga diakui oleh dua pemandu tur Korea yang biasa memandu turis asal negeri gajah putih. Mereka menyaksikan sejumlah turis Thailand ditolak masuk usai dokumen mereka diperiksa petugas imigrasi Korea.

"Sepertinya tidak ada patokan khusus, terkesan acak-acakan kenapa ada yang ditolak dan ada yang diperbolehkan… Mereka hanya pelancong yang sudah mempersiapkan segalanya, mulai dari menerima K-ETA (Korea Electronic Travel Authorization), menukar mata uang, untuk menjelajahi Korea, tapi mereka dipulangkan," kata salah satu pemandu yang tak ingin namanya dipublikasikan.

4 dari 4 halaman

Pengaruhi Pendapatan Pemandu Tur Berbahasa Thailand

Menurunnya kunjungan turis Thailand pun berimbas pada pendapatan para pemandu tur, khususnya yang berspesialisasi dalam bahasa Thailand. "Saya mendengar bahwa beberapa pemandu yang mengkhususkan diri pada wisatawan Thailand di Seoul telah meninggalkan industri ini karena kurangnya pengunjung," kata pemandu itu.

Agen tur lainnya yang mengkhususkan diri memandu wisatawan independen dan juga meminta untuk tidak disebutkan namanya, mencatat bahwa ia tidak melihat "tur pribadi" yang dilakukan oleh wisatawan Thailand tahun ini, meskipun pariwisata inbound secara keseluruhan pulih setelah pandemi virus corona.

Di sisi lain, Charoen meyakini butuh waktu setidaknya satu atau dua tahun bagi Korea untuk mendapatkan kembali kepercayaan wisatawan Thailand. Menanggapi hal itu, sejumlah pihak di industri pariwisata Korea mendorong agar ada perubahan pendekatan dari otoritas imigrasi untuk mengakomasi keluhan dari para turis Thailand.

Mereka menilai imigrasi harus mengadopsi pedoman yang lebih rinci untuk mengidentifikasi potensi imigran ilegal di antara sejumlah besar wisatawan yang datang. Tanpa tindakan segera, sentimen anti-Korea dikhawatirkan akan meningkat di negara Asia Tenggara, kata mereka.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini