Sukses

Menikmati Keindahan Alam dan Laut Desa Wisata Pulau Pahawang

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia memiliki ribuan pulau dengan pesona yang luar biasa. Salah satunya keindahan panorama di Desa Wisata Pulau Pahawang yang wajib untuk dieksplorasi.

Dikutip dari Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kemenparekraf, Jumat, 6 Mei 2022, Desa Wisata Pulau Pahawang terletak di Kecamatan Marga Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Pulau ini memiliki luar sekitar 1.084 hektare dengan enam dusun di dalamnya.

Secara administratif, desa wisata ini memiliki batas-batas wilayah, yakni sebelah Utara, Timur dan Selatan berbatasan dengan Teluk Lampung sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Kampung Bebangak. Pulau Pahawang adalah kawasan pesisir, terdiri dari laut, pantai, rawa, daratan dan daerah perbukitan, serta termasuk bagian pulau-pulau kecil yang ada di kawasan Teluk Lampung.

Desa Pulau Pahawang terletak pada ketinggian 10 meter dari permukaan laut. Pulau ini memiliki potensi geografis yang terdapat di wilayah darat maupun lautnya.

Sebagian besar ekosistem daratan adalah hutan, di daerah pantai terdapat hutan mangrove yang relatif masih baik. Di beberapa kawasan terdapat pantai landai, berpasir ataupun berlumpur.

Perbedaan ketinggian permukaan air saat pasang dan surut relatif rendah. Pulau Pahawang menyimpan ragam potensi, sebut saja pertanian, dengan luas lahan yang dimanfaatkan masyarakat pulau untuk membuka perkebunan seperti perkebunan kelapa dan kakao.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Potensi Pulau

Dari potensi perikanan, kawasan pantai Pulau Pahawang yang masih terlindungi dengan kawasan hutan Mangrove membuat ekologis laut di pulau Pahawang masih terjaga. Ini yang membuat masyarakat Pulau Pahawang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dapat mengembangkan sektor perikanan.

Laut di sekitar Pulau Pahawang menyimpan banyak kekayaan laut yang dapat dikembangkan menjadi sumber mata pencaharian masyarakat pulau Pahawang. Kemudian, potensi lain, tentunya pariwisata karena pula ini jadi salah satu destinasi kekinian dan populer di kalangan wisatawan.

Pulau Pahawang terbagi menjadi dua, yakni Pulau Pahawang Besar dan Pulau Pahawang Kecil. Keduanya pun memiliki kondisi yang jauh berbeda. Pulau Pahawang Besar merupakan pulau yang telah berpenghuni.

Sedangkan Pulau Pahawang Kecil, para wisatawan dapat menjelajahi keindahannya. Terlebih Pulau Pahawang Kecil adalah sebuah pulau yang tidak berpenghuni.

Di Pulau Pahawang Kecil, terdapat sebuah jembatan yang oleh masyarakat setempat disebut dengan nama Tanjung Putus. Jembatan ini merupakan penghubung antara Pulau Pahawang Kecil dengan Pulau Tanjung Kecil.

Di sini dikenal sebagai lokasi diving favorit para penyelam. Tak hanya menyelam, para traveler juga bisa menikmati waktunya dengan aktivitas snorkeling di sekitar Pulau Pahawang Kecil di Lampung ini.

3 dari 4 halaman

Menuju Pulau Pahawang

Para wisatawan pun dapat memilih untuk membawa peralawan snorkeling sendiri atau menyewanya dari warga setempat. Tarif untuk menyewa peralawan snorkeling berkisar antara Rp50 ribu--Rp60 ribu.

Akses yang mudah menjadi faktor pendukung utama popularitas Pulau Pahawang. Pulau ini berada tidak terlalu jauh dari pusat Kota Bandar Lampung.

Perjalanan ke pulau ini dapat dilakukan menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum. Cara menuju Pulau Pahwang, wisatawan harus menuju ke kota Bandar Lampung.

Bila menggunakan kendaraan pribadi, wisatawan dapat langsung menuju ke arah Desa Ketapang. Sedangkan bila naik kendaran umum, bisa naik angkot jurusan Padang Cermin lalu lanjut ke Ketapang.

Sesampai di Dermaga Ketapang, perjalanan dilanjutkan dengan naik perahu. Masing-masing perahu mempunyai kapasitas untuk 12 orang.

Perjalanan naik perahu dari Ketapang menuju ke Pulau Pahawang memakan waktu kurang lebih 30 menit. Untuk sewa perahu, harganya bergantung kondisi. Saat liburan, bisa saja lebih mahal, dengan tarifnya berkisar antara Rp300 ribu--Rp500 ribu.

4 dari 4 halaman

Sejarah Pulau Pahawang

Berdasarkan cerita masyarakat setempat, sejarah pulau ini dimulai dari datangnya Nokoda pada 1700-an yang diikuti pula oleh datangnya Hawang yang adalah keturunan Cina. Hawang menetap di sebuah pulau sampai memiliki seorang anak perempuan yang kerap kali dipanggil Pok Hawang.

Kelazinman memanggil Pok Hawang akhirnya menjadi nama Pulau, Hawang menetap dengan sebutan Pulau Pahawang pada 1850-an.  Perkembangan desa diawali dengan datang dan berdiamnya H. Muhammad bin H. Ibrahim hulubalang dari Kalianda yang tinggal di Kalangan, sedangkan di Pulau Pahawang sejak kedatangan Ki Mandara dari Sulawesi Selatan pada1920-an.

Perkembangan selanjutnya dimulai sejak 1930 dengan datangnya Datuk Jahari yang menetap dan menikah dengan anak Ki Mandara di Penggetahan dan H. Dulmalik dari Putih Doh yang menetap di Suak Buah. Selanjutnya (tidak diketahui dengan pasti tahunnya), beberapa orang datang dan tinggal di Desa Pulau Pahawang. Mereka berasal dari berbagai tempat, dari wilayah Banten, Jawa Barat, mereka adalah Jahari menetap di dusun Penggetahan dan Ruslan yang menetap di Dusun Cukuh Nyai Jaralangan.

Haji Dul Malik dari Putih Doh, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus – Lampung menetap di Dusun Pulau Pahawang. Kedatangan mereka bertujuan membuka lahan untuk berkebun. Pada perkembangannya, Desa Pulau Pahawang memiliki terbagi dalam enam dusun yang bernama Dusun I Suak Buah, Dusun II Penggetahan, Dusun III Jeralangan, Dusun IV Kalangan, Dusun V Pahawang dan Dusun VI Cukuh Nyai.

Kalangan adalah dusun yang terletak di daratan pulau Sumatera yang dipisahkan oleh laut dengan jarak tempuh antar keduanya 1/4 jam dengan perahu ketinting. Desa Pulau Pahawang saat itu berstatus kampung dan masuk dalam wilayah Marga Punduh. Maka, secara adat istiadat warga Pulau Pulau Pahawang mengikuti aturan Marga Punduh. Untuk urusan pemerintahan dipimpin oleh Mandara dan urusan keagamaan dipimpin oleh H. Dul Malik. Pada 1980 secara definitif, Pulau Pahawang ditetapkan menjadi desa.