Sukses

Pentingnya Memahami Kesetaraan Gender demi Mencegah Kekerasan Seksual

Liputan6.com, Jakarta - "Tongkat estafet" perjuangan mencegah kekerasan seksual terus diambil berbagai pihak. Implementasinya beragam, termasuk dalam edukasi kesetaraan gender sebagai fondasi dalam mencegah pelecehan seksual.

Menggandeng Plan Indonesia, Magdalene, Yayasan Pulih, dan Makassar International Writers Festival, The Body Shop Indonesia menginisiasi kampanye bertajuk "No! Go! Tell!" Itu merupakan mekanisme yang tidak hanya mencegah kekerasan seksual, namun juga menemukan ruang aman bagi korban.

Edukasi ini kian genting, mengingat belum ada payung hukum yang cukup kuat atas kasus tersebut di Indonesia. Sambil terus mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), pihaknya menganggap perlu memberdayakan diri dan orang lain saat berada dalam situasi rawan kekerasan seksual.

Sasaran edukasi ini lebih fokus pada generasi muda. Ratu Ommaya, Public Relations and Community Manager The Body Shop Indonesia, mengatakan dalam keterangan resmi, Sabtu (19/6/2021), bahwa kampanye Stop Sexual Violence fase kedua ini merupakan kelanjutan perjuangan bersama yang sudah dimulai pada November 2020 sampai 7 April 2021.

"Pelatihan Workshop Gender Training, Storytelling, dan Data Gathering dengan peserta pelatihan dari generasi muda diharapkan dapat membekali skill yang penting untuk jadi dasar bagaimana memahami kesetaraan gender. Hal ini diharapkan dapat memperkuat advokasi untuk mengawal proses legislasi dan mendorong DPR mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual," tuturnya.

Maya menambahkan bahwa saatnya mengajak generasi muda untuk berani berkata tidak, bertindak cepat, dan bersuara lewat karya-karya yang nantinya tertuang melalui konten digital di media dan media sosial. "Kami percaya jika kesetaraan gender bisa tercapai, itu akan menumbuhkan rasa aman dan terciptanya produktivitas yang baik," tuturnya.

2 dari 5 halaman

Pelatihan Gender

Dalam pelatihan, Rani Hastari, Gender Equality & Social Inclusion (GESI) Specialist Yayasan Plan International Indonesia, mengajak para peserta untuk sama-sama mengidentifikasi masalah. Itu dimulai dengan memahami norma-norma sosial yang membentuk stereotip.

"Akhirnya norma sosial mengatur perilaku apa yang dianggap 'normal' dalam kelompok," tuturnya. Anggapan ini kemudian menciptakan norma gender berujung "sanksi" bagi siapa saja yang dianggap tidak memenuhi "standar" tersebut.

Meruntuhkan norma-norma gender, penting untuk setiap orang memahami kesetaraan peran antar pria dan wanita, kata Rani. Dengan begitu, "kultur pemerkosaan" bisa diinterupsi, sehingga tidak ada kasus yang dipandang berdasarkan gender tertentu.

"Ini juga bisa tentang kebiasaan menyalahkan korban (kekerasan seksual) yang berani speak up. Menormalkan norma-norma gender akan menutup ruang-ruang diskusi yang bermaksud menemukan ruang yang aman bagi korban," ucapnya.

3 dari 5 halaman

Menciptakan Agen Perubahan

Devi Asmarani, Editor in Chief Magdalene.co mengatakan, sebagai mitra The Body Shop Indonesia, pihaknya melihat pentingnya penguatan kapasitas mahasiwa sebagai agen perubahan lewat pelatihan karya kreatif.

Karena itu, mereka memberi pelatihan gratis untuk mahasiswa selama bulan Juni dan Juli. Dalam program Creative Skills Training ini, peserta dapat memilih satu dari tiga pilihan pelatihan, yakni penulisan essai, membuat podcast, atau video pendek.

Sebelumnya, semua peserta harus mengikuti pelatihan gender yang difasilitasi Rani Hastari dari Plan Indonesia, serta pelatihan Storytelling dan Penggunaan Data dalam Bercerita oleh Devi.

Sementara itu, penulis dan jurnalis Feby Indirani akan memberi pelatihan penulisan essai, co-founder Pabrik Soeara Rakjat Rane Hafiedakan memberi pelatihan podcast, dan Fauzan Mukrim dari CNN Indonesia TV membekali pelatihan Video Campaign for Social Media.

4 dari 5 halaman

Infografis Tarik Ulur RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: