Sukses

Cerita Akhir Pekan: Perjalanan Tempe Menuju Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO

Liputan6.com, Jakarta - Tekstur dan rasa tempe tentu sudah begitu lekat di lidah kebanyakan orang Indonesia. Salah satu pangan dari kedelai ini pun sudah diolah ke ragam masakan yang sangat mudah dipadankan dengan bahan lain. Tak heran bila "ketergantungan" pada tempe kian melekat.

Pembentukan kebiasaan ini akhirnya menggerakkan pengajuan tempe ke dalam daftar warisan budaya takbenda UNESCO sejak beberapa tahun lalu. Namun demikian, perjalanan untuk masuk ke list itu tampaknya harus sedikit lebih panjang lagi.

"Karena pandemi COVID-19, belum ada perbincangan lagi dengan Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Tahun ini bakal diajukan lagi," kata Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Hardinsyah, melalui sambungan telepon pada Liputan6.com, Kamis, 7 Januari 2021.

Soal pengajuan tempe, Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemdikbud, Hilmar Farid, mengatakan bahwa tempe sudah pernah dibahas dalam sidang tingkat nasional untuk diajukan ke UNESCO. Tapi, tim penilai waktu itu memutuskan gamelan yang akan diajukan.

"Sehingga dalam sidang ICH (Intangible Heritage Home) UNESCO tahun ini yang akan dibahas adalah gamelan," ungkapnya melalui pesan, Kamis, 7 Januari 2021. Terkait kelanjutan pendaftaran tempe sebagai warisan budaya takbenda, Farid menambahkan, usulan itu selalu dibuat komunitas pendukung, di mana nantinya mereka akan presentasi di hadapan tim penilai yang terdiri dari para pakar.

"Hasil tim penilai kemudian disampaikan pada Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) yang kemudian membuat keputusan akhir. Selanjutnya usulan akan disampaikan pada Komite ICH," katanya menjelaskan perjalanan yang akan dilalui tempe untuk bisa tercatat dalam kategori itu.

2 dari 5 halaman

Pengajuan Warisan Budaya Takbenda

Hilmar menjelaskan, setiap negara anggota UNESCO hanya dapat mengusulkan satu warisan budaya takbenda setiap dua tahun. Usulan yang dikirim akan diproses dalam masa antara sidang untuk dibahas pada sidang berikutnya.

"Jadi, silat diusulkan 2016 dan baru dibahas dalam sidang 2019. Gamelan diusulkan 2018 dan baru dibahas 2021, dan begitu seterusnya," kata pria 52 tahun tersebut.

Terkait nasib tempe dalam pengajuan tersebut, menurut Hilmar, sangat bergantung pada komunitas yang mengusulkan. Pasalnya, Kemdikbud melalui tim pakar memproses usulan yang masuk dari komunitas.

"Kalau mau diusulkan lagi tentu bisa saja, diperbaiki apa saja kekurangan dari usulan sebelumnya," ujarnya.

3 dari 5 halaman

Soal Bahan Baku Impor

Bicara budaya, kata Hardinsyah, genetiknya bisa bermacam-macam. "Melihat tempe ini tak hanya soal asal bahan baku, tapi juga bagaimana ia jadi sebuah local wisdom," tuturnya sembari menambahkan bahwa tempe telah diakui sebagai warisan budaya takbenda secara nasional pada 2018. 

"Sudah ada sejak dulu, awalnya lahan hanya sebagai irigasi tadah hujan. Petani di Jawa Tengah berpikir, setelah panen padi, apa yang bisa ditanam. Akhirnya muncul palawija sebagai alternatif di antara masa panen padi," kata Hardinsyah.

Dari situ, akhirnya lahir berbagai nilai-nilai budaya terkait pembuatan tempe. "Salah satunya harus serba bersih untuk membuat tempe. Airnya bersih, orangnya bersih. Kalau tidak, tidak akan bisa membuat tempe. Tempenya bakal gagal," imbuhnya.

Menurutnya, bahan baku memang bisa saja impor bila kuota produksi dalam negeri tak terpenuhi. Yang harus dilihat, menurut Hardinsyah, apakah dari jumlah impor kedelai, ekspor dari pengolahan bahan baku itu bisa lebih tinggi.

"Kalau sampai tempe dianggap tak masuk warisan budaya takbenda karena pakai bahan baku impor, cara berpikirnya tak masuk akal karena konteks bahasan di sini kan budaya. Efek budaya ini juga akhirnya nyambung dengan kesehatan," ungkap Guru Besar Ilmu Gizi FEMA IPB tersebut.

Menurutnya, pengajuan tempe untuk masuk ke dalam daftar warisan budaya takbenda UNESCO melampaui semata upaya melanggengkan eksistensi. Tanpa dihargai secara sepenuhnya, dorongan inovasi akan kian sulit.

"Yang kami dorong itu tempe dibungkus dengan daun, itu kan ada nilai kearifan lokalnya. Kemudian, harapannya nanti akan dikembangkan tempe bisa dimakan dengan bungkusnya. Nah, bahan baku dari bungkus ini yang butuh inovasi," tuturnya.

4 dari 5 halaman

Efek Negatif Marah bagi Kesehatan Tubuh

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: