Jangan Terjebak FOMO Saat Lihat Teman Liburan ke Luar Negeri

Perasaan FOMO biasanya muncul karena ungguhan liburan di media sosial.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fear of Missing Out alias FOMO merupakan istilah yang menggambarkan rasa takut tertinggal dari pengalaman yang dinikmati orang lain. Perasaan ini semakin mudah muncul saat musim liburan, ketika media sosial dipenuhi unggahan teman yang sedang menjelajahi berbagai destinasi menarik.

Tanpa disadari, melihat foto-foto tersebut bisa memunculkan keinginan untuk ikut bepergian atau mengunjungi tempat yang sama. Perasaan itu juga kerap memengaruhi cara seseorang berlibur.

Banyak orang merasa harus mendatangi semua tempat yang sedang viral, mencoba setiap restoran yang direkomendasikan, bahkan menyusun jadwal yang sangat padat agar tidak melewatkan apapun. Akibatnya, liburan justru terasa melelahkan karena lebih berfokus mengejar daftar destinasi daripada menikmati setiap momen.

Nyatanya, perjalanan yang berkesan tidak ditentukan oleh banyaknya tempat yang dikunjungi. Liburan akan terasa lebih bermakna ketika kita menikmati pengalaman dengan santai dan memberi ruang untuk benar-benar hadir di setiap momen. Tidak semua destinasi harus dikunjungi dalam satu perjalanan karena selalu ada kesempatan untuk kembali di lain waktu.

Psikolog Dr. Jennifer Hartstein menyarankan, seperti dilansir dari situs webnya, Senin, 20 Juli 2026, untuk mengurangi penggunaan media sosial selama liburan, bahkan melakukan detoks digital sebelum dan sesudah bepergian. Membatasi waktu dengan gawai dapat membantu menurunkan kecemasan, mengurangi stres, sekaligus mempererat hubungan dengan orang-orang di sekitar.

Pada akhirnya, tujuan berlibur bukanlah mengikuti apa yang dilakukan orang lain, melainkan menikmati pengalaman yang sesuai dengan keinginan dan ritme diri sendiri.

Meminimalkan Pemakaian Media Sosial

Mengurangi penggunaan media sosial menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengatasi FOMO saat berlibur. Menurut Dr. Hartstein, media sosial sering mendorong seseorang membandingkan pengalaman liburannya dengan unggahan orang lain, baik dari teman maupun kreator konten.

Kebiasaan tersebut membuat seseorang sulit menikmati perjalanan yang sedang dijalani, padahal setiap orang memiliki cara dan pengalaman berlibur yang berbeda. Alih-alih terus menggulir media sosial atau memikirkan aktivitas orang lain, cobalah mengalihkan perhatian pada momen yang sedang dinikmati.

Menyaksikan pemandangan, menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman, hingga berjalan santai tanpa terburu-buru dapat memberikan kepuasan yang lebih bermakna. Saat penggunaan media sosial dibatasi, kita akan lebih mudah hadir sepenuhnya di setiap momen dan tidak lagi merasa tertinggal oleh pengalaman liburan orang lain.

Membuat Jadwal Digital Selama Liburan

Melakukan detoks digital tidak berarti harus sepenuhnya meninggalkan media sosial selama liburan. Cobalah mengatur waktu penggunaan gawai, misalnya hanya memeriksa pesan atau urusan pekerjaan pada pagi dan malam hari.

Cara ini membantu menjaga tanggung jawab tanpa mengurangi kualitas waktu berlibur. Mengurangi durasi penggunaan ponsel beberapa hari sebelum keberangkatan juga dapat membuat proses detoks digital terasa lebih mudah.

Kebiasaan tersebut memberi kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk tidak terus bergantung pada notifikasi atau media sosial. Setelah liburan usai, rutinitas ini sebaiknya tetap dipertahankan agar manfaat detoks digital dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan penggunaan layar yang lebih seimbang, seseorang akan lebih mudah fokus pada aktivitas nyata, menjaga kesehatan mental, dan menikmati momen tanpa terdistraksi dunia digital.

Tak Harus Sempurna

Liburan menjadi kesempatan untuk memulihkan energi, sekaligus menyegarkan pikiran dari rutinitas sehari-hari. Berwisata dapat membantu mengurangi stres, kecemasan, dan gejala depresi karena menghadirkan suasana baru yang membuat tubuh dan pikiran lebih rileks.

Perjalanan juga mempererat hubungan dengan keluarga, pasangan, atau teman melalui waktu berkualitas yang minim gangguan pekerjaan dan media sosial. Perlu dipahami bahwa tidak ada liburan yang benar-benar sempurna, termasuk yang tampak begitu menyenangkan di media sosial.

Alih-alih membandingkan perjalanan sendiri dengan pengalaman orang lain, terimalah bahwa tidak semua tempat atau aktivitas harus dicoba dalam satu waktu. Susun daftar destinasi dan kegiatan yang benar-benar ingin dilakukan, lalu nikmati setiap momen tanpa memikirkan apa yang terlewat.

Fokus pada pengalaman yang bermakna akan membuat liburan terasa lebih memuaskan daripada sekadar mengejar semua hal yang sedang populer.